Akar Masalah: ISE dan IEPCE

7 November 2017 23:44

Proses hipnoterapi, dalam upaya membantu klien mengatasi masalah, menggunakan dua pendekatan: tanpa memroses akar masalah dan memroses akar masalah.

Hipnoterapi tanpa memroses akar masalah dilakukan dengan memberi sugesti ke pikiran bawah sadar (PBS) klien, dengan tujuan menghilangkan simtom. Bila simtom hilang, masalah selesai. Bisa juga simtom tidak dihilangkan tapi dimodifikasi sehingga tidak lagi mengganggu hidup klien. Yang dimaksud dengan modifikasi di sini, bisa mengganti simtom dengan simtom lain yang lebih ringan, mengurangi intensitas simtom, mengurangi frekuensi munculnya simtom, atau mensugesti klien untuk mengalami kontraksi waktu sehingga simtom terasa hanya sekejap.  

Sementara pada pendekatan kedua, memroses akar masalah, butuh upaya yang lebih panjang dan menyeluruh, melibatkan proses mencari dan menemukan akar masalah, dan dilanjutkan dengan restrukturisasi kejadian paling awal.

Untuk menemukan akar masalah dibutuhkan teknik regresi yang sesuai agar informasi yang diungkap oleh PBS benar adalah kejadian paling awal. Di sini, selain teknik yang presisi juga butuh kecermatan dan kejelian terapis dalam menelisik jawaban yang diberikan PBS. Untuk itu terapis harus melakukan pengecekan, dengan teknik tertentu, guna memastikan kejadian yang diungkap PBS adalah benar kejadian paling awal.

Setiap simtom pasti memiliki akar masalah atau kejadian paling awal. Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology (AWGI) mengembangkan dan mengajarkan teknik untuk menemukan dua jenis akar masalah yaitu ISE dan IEPCE.

ISE (initial sensitizing event) adalah kejadian paling awal, bisa berupa pengalaman traumatik, atau pengalaman nontraumatik dan berlaku sebagai bibit yang, bila mendapat dukungan kondisi yang sesuai, akan menjelma menjadi masalah.

ISE biasanya diperkuat satu atau beberapa kejadian lanjutan yang disebut SSE (subsequent sensitizing event), membangun momentum hingga akhirnya tercipta simtom. Kejadian yang memunculkan simtom disebut SPE (symptom producing event). Simtom dapat semakin menguat akibat kejadian lanjutan yang disebut SIE (symptom intensifying event). ISE, bila berupa kejadian traumatik, dapat langsung menjadi SPE. SSE juga bisa menjadi SPE.

Rangkaian kejadian mulai dari yang paling awal hingga menjadi simtom dan terus mengganggu klien hingga masa kini adalah:

ISE à SSE 1 à SSE 2 à SSE ? à SPE à SIE à NOW

Mengacu pada alur di atas, bila terapis hendak menemukan akar masalah (ISE) maka ia menuntun klien menelusuri garis waktu di PBS, mundur dari NOW, hingga akhirnya berhenti di ISE.

Teknik untuk membawa klien mundur ke masa lalunya disebut regresi. Ada sangat banyak varian teknik regresi. Namun dari sekian banyak teknik ini, AWGI hanya menggunakan satu teknik regresi yang telah teruji secara klinis sangat akurat, presisi, dan efektif mengungkap akar masalah. Teknik ini juga telah banyak diulas di jurnal, salah satunya, International Journal of Clinical and Experimental Hypnosis.

Menemukan akar masalah (ISE) adalah satu hal, dan memrosesnya dengan benar sehingga terjadi resolusi trauma tuntas adalah hal lain. Ini adalah dua keterampilan berbeda. Hanya menemukan ISE tidak bersifat terapeutik. Dalam banyak kasus yang pernah saya tangani, klien telah menjalani hipnoterapi dan menurut terapisnya telah berhasil menemukan “akar masalah”. Akar masalah ini tidak diproses. Terapis hanya memberitahu klien, “Sekarang sudah tahu akar masalah Anda? Peristiwa ini yang membuat hidup Anda susah.” Proses ini tidak tuntas karena akar masalah tidak diproses dan sudah tentu masalah klien tidak teratasi dan bisa kontraproduktif. Emosi yang muncul dari kejadian ini bisa sangat mengganggu hidup klien dan membuat klien menjadi tidak stabil.

IEPCE (Initial EP Creation Event) berbeda dengan ISE. IEPCE adalah kejadian paling awal yang menyebabkan munculnya EP. Watkins dan Watkins (1997) menyatakan ada tiga cara EP tercipta. Namun, riset yang dilakukan team AWGI menemukan ada sepuluh cara.

Dari satu kejadian paling awal (IEPCE) bisa tercipta sekaligus satu atau lebih EP dengan karakter berbeda. EP bisa mendapat penguatan pada satu atau lebih kejadian lanjutan yang disebut EPSE (EP Strengthening Event) yang semakin memperkuat EP. Semakin kuat EP, semakin kuat pengaruhnya terhadap hidup klien.

Teori dan teknik EP yang dikembangkan AWGI berbeda dengan yang sering dipraktikkan praktisi teknik Ego State (ES). Dalam teknik ES, terapis melakukan edukasi atau negosiasi dengan ES yang membuat masalah. Setelah tercapai kesepakatan, terapi diakhiri. Cara ini, dari pengalaman kami kurang efektif karena masalah klien masih bisa muncul lagi.

Dalam teknik EP yang kami praktikkan, usai melakukan negosiasi, kami perlu menemukan IEPCE. Untuk menemukan IEPCE biasanya akan melewati beberapa EPSE. Proses restrukturisasi pada IEPCE akan sangat memengaruhi karakteristik EP dan menghasilkan efek terapeutik yang jauh lebih stabil. Tidak mudah memang untuk menemukan EPCE namun bisa dilakukan dengan teknik yang tepat.

Rangkaian kejadian mulai dari yang paling awal, muncul EP, muncul simtom, EP  menjadi semakin kuat, dan terus mengganggu klien hingga masa kini adalah:

IEPCE à SIMTOM à EPSE 1 à EPSE 2 à EPSE ? à NOW

Proses regresi EP mencapai IEPCE dan regresi mencapai ISE walau berbeda namun memiliki kesamaan. Regresi ke ISE sejatinya adalah regresi EP. Bedanya pada jalur yang digunakan.

Dalam beberapa kasus, setelah menemukan dan memroses IEPCE, klien tetap merasa tidak nyaman. Untuk itu, terapis perlu melakukan regresi lagi, mencapai IEPCE dan biasanya EP yang muncul berbeda. Kondisi ini mengakibatkan penanganan simtom atau masalah menggunakan teknik EP menjadi lebih kompleks.

Temuan kami, IEPCE tidak selalu sama dengan ISE, walau dalam beberapa kasus bisa terjadi ISE adalah IEPCE. SSE juga bisa menjadi IEPCE. Mekanisme pembentukan EP, relasi antara IEPCE dan ISE serta SSE masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Kendala kami, selaku hipnoterapis kami tidak boleh melakukan eksperimen pada klien untuk sekedar mencari tahu apakah benar ISE atau SSE adalah sama dengan IEPCE klien. Ini melanggar kode etik. Temuan yang saya tulis dalam artikel ini berasal dari hasil diskusi dengan para rekan sejawat hipnoterapis, menelaah banyak kasus terapi, dan menarik simpulan sementara. 

_PRINT   _SENDTOFRIEND

Upcoming Events
Counter
Online14
Hari ini1.600
Minggu ini5.759
Bulan ini51.760
Bulan lalu91.401
03 Facebook
04 @adiwgunawan
05 Tell Friends