Hipnosis dan Fenomenanya

3 September 2017 18:18

Hipnosis berkembang pesat di Indonesia sejak tahun 2004. Seiring perjalanan waktu, pemahaman awam tentang hipnosis saat ini sudah sangat jauh berbeda dengan waktu dulu. Melalui edukasi konsisten yang dilakukan para pengajar hipnosis dan hipnoterapi, baik melalui pelatihan maupun berbagai publikasi di media sosial, kini banyak warga masyarakat telah memiliki pemahaman benar tentang hipnosis. Walau demikian, dalam beberapa kali perjumpaan dengan klien di ruang praktik dan juga saat seminar publik, masih juga ada mispersepsi tentang hipnosis.

Memahami hipnosis diawali dengan definisi yang benar. Saat berselancar di dunia maya, saya menemukan hal menarik terkait definisi hipnosis. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online atau daring (https://kbbi.web.id) mendefinisikan hipnosis sebagai keadaan seperti tidur karena sugesti, yang pada taraf permulaan orang itu berada di bawah pengaruh orang yang memberikan sugestinya, tetapi pada taraf berikutnya menjadi tidak sadar sama sekali.

Kesalahan terkandung dalam definisi ini sangat mengganggu. Pertama, hipnosis adalah keadaan seperti tidur. Yang benar, hipnosis bukan tidur. Dalam kondisi hipnosis subjek tetap sadar sepenuhnya. Kedua, orang yang dihipnosis berada di bawah pengaruh orang yang memberikan sugesti. Yang benar, operator tidak bisa mengendalikan pikiran subjek. Ketiga, sujek menjadi tidak sadar sama sekali. Yang benar, dalam kondisi hipnosis, sedalam apapun, subjek tetap sadar.

Hal kurang tepat lainnya adalah penggunaan istilah “hipnotis”. Banyak yang menyamakan “hipnosis” dan “hipnotis”. Ini tampak dalam kalimat “Terapis menghipnotis klien” atau “Saya tidak takut dihipnotis.” Hipnosis adalah ilmunya. Sementara hipnotis adalah orang yang mempraktikkan atau melakukan hipnosis. Hipnoterapis adalah orang yang melakukan terapi di dalam atau dengan bantuan kondisi hipnosis. Ini sama seperti penggunaan kata “piano” dan “pianis”. Piano adalah alat musiknya, sementara pianis adalah orang yang memainkan piano. Dengan demikian, kalimat yang benar adalah “Terapis menghipnosis klien” atau “Saya tidak takut dihipnosis.”

Pemahaman lama, yang masih dipegang terapis tradisional, hipnosis adalah kondisi yang diciptakan atau dilakukan terapis pada klien. Dengan demikian, orang yang dihipnosis adalah objek, bukan subjek. Yang benar, terapis tidak bisa melakukan tanpa ijin klien. Semua hipnosis pada dasarnya adalah swahipnosis (self-hypnosis). Artinya, kemampuan untuk masuk dan keluar kondisi hipnosis adalah kemampuan bawaan (innate), ada dalam diri individu, tanpa perlu dipelajari secara khusus. Hipnoterapis modern paham benar bahwa setiap orang pasti bisa masuk kondisi hipnosis. Tugas terapis adalah menuntun klien, atas persetujuannya secara sadar, mengakses dan menggunakan kemampuan bawaan yang klien miliki, beralih dari kondisi sadar normal dan masuk ke kondisi kesadaran khusus, yang disebut kondisi hipnosis, atau dikenal dengan Altered State of Consciusness (ASC).

Pemahaman salah lainnya, hipnosis mampu menyembuhkan masalah klien. Dalam konteks klinis, hipnosis per se, tidak terapeutik. Kroger (1977) dengan tegas menyatakan pasien tidak diobati dengan hipnosis, tetapi dalam hipnosis. Hipnosis hanya satu kondisi kesadaran. Dalam kondisi inilah dilakukan “kerja” untuk membantu klien mengatasi masalahnya. Ini sama seperti pasien yang akan menjalani operasi. Sebelum dokter melakukan pembedahan, pasien perlu dibius terlebih dahulu. Bius, sendiri, tidak menyembuhkan pasien. Apa yang dokter lakukan atau kerjakan saat pasien dalam kondisi terbius inilah yang menyembuhkan pasien.

Suatu kondisi dapat dinyatakan sebagai hipnosis, menurut Hilgard (1992), bila terdapat tujuh ciri berikut: berkurangnya fungsi perencanaan, atensi dan inatensi menjadi selektif, produksi fantasi dan memori visual masa lalu meningkat, terdapat toleransi pada distorsi realitas dan berkurangnya pengecekan realita, terjadi peningkatan sugestibilitas, terjadi penerimaan atas alih peran, dan terdapat, paling tidak sedikit, amnesia atas atau yang terjadi selama dalam kondisi hipnosis.

Kondisi hipnosis bersifat tidak statis, tunggal, melainkan dinamis, mulai dari hipnosis sangat dangkal, dangkal, menengah, dalam, hingga sangat dalam. Hipnosis, bila digabungkan dengan psikoterapi, dapat membantu klien memahami penyebab simtom, dan mengurangi atau menghilangkan simtom ini. Dalam kondisi hipnosis, dengan bimbingan terapis, klien dapat dilatih untuk mengalami kembali pengalaman traumatik, memodifikasi gambaran mental yang mengganggu, memulai pola atau pertahanan diri baru yang lebih sehat dan fungsional (Pratt, Wood, dan Alman, 1988).

Hipnoterapis modern memahami hipnosis sebagai proses belajar di satu level baru, bukan sekedar kepatuhan pada sugesti yang dirumuskan oleh terapis. Pembelajaran yang terjadi di pikiran bawah sadar, tentunya difasilitasi oleh terapis, inilah yang memberdayakan klien mengatasi masalahnya. Tanggung jawab terhadap proses dan hasil terapi ada pada klien dan terapis. Terapi adalah upaya bersama dari dua individu, klien dan terapis, satu yang sadar ada masalah, ingin masalahnya diatasi, bersedia bekerjasama penuh, dan satu lagi memiliki kecakapan untuk membantu mengatasi masalah. Keduanya bekerjasama secara harmonis sebagai tim untuk mencapai tujuan yang sama, seperti sopir dan navigator. Klien adalah sopir dan terapis adalah navigator.

Pemahaman tentang kerja hipnoterapi bisa didapatkan dari dua jalur: eksperimen yang dilakukan di laboratorium dan ruang praktik. Celah di antara keduanya tampak semakin melebar dalam pengertian konsep yang bermanfaat untuk satu, tidak selalu bisa diterapkan di satunya. Contohnya, dari hasil eksperimen di laboratorium, subjek terbagi menjadi tiga kategori: sangat mudah, moderat, sulit dihipnosis. Sementara dalam konteks praktik klinis, siapa saja yang butuh mengatasi masalah pasti bisa dengan mudah masuk kondisi hipnosis.

Berdasar pengalaman klinis, saya menemukan bahwa klien masuk ke kedalaman hipnosis, sedalam yang ia butuhkan untuk mengatasi masalahnya, dan bertahan sedangkal mungkin untuk melindungi dirinya dari hal-hal yang ia rasa atau yakini merugikan dirinya.

Dalam konteks klinis, masing-masing terapis juga memiliki acuannya sendiri untuk mengukur kedalaman hipnosis yang dicapai kliennya. Ada yang menggunakan fenomena fisik, sementara lainnya lebih mengutamakan fenomena mental.

Fenomena Hipnotik

Orang yang pernah mengalami kondisi hipnosis biasanya mengalami dan mengenali fenomema sangat berbeda dengan yang mereka alami dalam kondisi sadar normal, namun sulit untuk menjelaskannya dengan kata-kata. Beberapa perilaku terjadi dalam kondisi hipnosis, walau tidak selalu. Beberapa fenomena rutin terjadi di hipnosis dangkal, dan beberapa sering terjadi di hipnosis menengah dan dalam. Berikut ini adalah beberapa fenomena yang terjadi dalam kondisi hipnosis:

Inhibisi Berhenti (Hipnosis dangkal hingga menengah). Inhibisi, yang dalam kondisi sadar normal ada dan bekerja dalam diri individu, dalam kondisi hipnosis memudar sehingga memungkinkan ekspresi emosi, pikiran, dan pendapat mengenai suatu perilaku menjadi lebih mudah.

Perubahan dalam kapasitas aktivitas sadar (Hipnosis dangkal hingga dalam). Dalam kondisi hipnosis, orang menjadi enggan memulai tindakan yang biasanya dengan mudha mereka lakukan. Contohnya, saat telepon berbunyi, biasanya orang akan langsung berdiri dan menjawab telpon ini. Dalam kondisi hipnosis, orang yang sama, mendengar telpon berdering namun kurang berminat atau enggan menjawabnya karena perhatiannya sedang terfokus ke hal lain.

Sugestibilitas (Hipnosis dangkal hingga dalam). Kemampuan berespon positif pada ide-ide, baik diberikan oleh diri sendiri atau orang lain meningkat. Sugestibilitas adalah sine qua non hipnosis. Meningkatnya penerimaan sugesti berhubungan dengan menurunnya aktivitas ego kritis dan meningkatnya aktivitas ego pengamat, membuat pikiran bawah sadar lebih mudah diakses.

Keterpisahan (Hipnosis dangkal hingga dalam). Fenomena ini adalah proses di mana persepsi akan posisi tubuh dalam ruang dan waktu mengalami perubahan. Orang bisa melihat dirinya sendiri dari satu tempat. Fenomena keterpisahan ini dapat digunakan untuk manajemen rasa sakit.

Disosiasi (Hipnosis menengah hingga dalam). Kemampuan melihat diri sendiri dari jarak aman dan menyenangkan, yang sebenarnya terutama adalah fenomena kognitif, secara teoritis memungkinkan proses disosiasi emosi terjadi. Dalam kondisi hipnosis, seseorang dapat mengalami kembali pengalaman negatif, dengan cara disosiasi, dan tidak merasakan emosi negatif atau rasa sakit.

Katalepsi (Hipnosis menengah hingga dalam). Katalepsi adalah satu bentuk kekakuan otot yang membuat tungkai dapat bertahan pada satu posisi tertentu dalam waktu lama.

Regresi usia (Hipnosis menengah hingga dalam). Mengalami kembali pengalaman masa lalu dapat terjadi dalam dua bentuk: revivifikasi komplit dan parsial. Tiap bentuk revivifikasi memiliki cara kerja dan manfaatnya sendiri.

Amnesia (Hipnosis menengah hingga dalam). Amnesia spontan bisa terjadi secara alamiah dalam kondisi hipnosis menengah hingga dalam.

Aktivitas Ideomotor (Hipnosis menengah hingga dalam). Aktivitas gerakan otot dan sistem saraf, di luar kendali pikiran sadar, sebagai respon terhadap bentuk pikiran dan emosi, digunakan terapis untuk bekomunikasi dengan pikiran bawah sadar.

Halusinasi, positif dan negatif (Hipnosis menengah hingga dalam). Halusinasi meliputi kelima indra. Halusinasi positif artinya sesuatu yang riil ada namun dipersepsikan menjadi tidak ada. Sementara halusinasi negatif artinya sesuatu yang riil tidak ada dipersepsikan menjadi ada.

Hipermnesia (Hipnosis menengah hingga dalam). Hipermnesia adalah peningkatan daya ingat secara signifikan sehingga mampu mengingat hal-hal yang tidak dapat diingat dalam kondisi sadar normal.

Distorsi waktu (Hipnosis menengah hingga dalam). Dalam kondisi hipnosis, waktu dapat berjalan sangat lambat atau sangat cepat, dan batas antara masa lalu, sekarang, dan masa depan menjadi kabur.

Fenomena-femonena ini tidak eksklusif terjadi dalam kondisi hipnosis. Banyak juga yang terjadi di kondisi kesadaran lainnya, misal amensia. Amnesia bisa terjadi saat kita jumpa seseorang yang kita kenal dan mengalami kesulitan mengingat namanya. Demikian pula dengan halusinasi positif. Fatamorgana adalah satu bentuk halusinasi positif yang terjadi di gurun pasir.  

_PRINT   _SENDTOFRIEND

Upcoming Events
Counter
Online8
Hari ini1.594
Minggu ini5.753
Bulan ini51.754
Bulan lalu91.401
03 Facebook
04 @adiwgunawan
05 Tell Friends