Memahami Trauma dan Penyebabnya

18 Desember 2017 23:07

Setiap trauma pasti melibatkan emosi intens. Namun, tidak setiap kejadian dengan emosi intens mengakibatkan trauma. Kejadian sama, dialami dua individu, bisa mengakibatkan hasil beda. Yang satu mengalami trauma, sementara yang satu lagi sama sekali tidak terpengaruh. Lalu, apa faktor yang menentukan satu kejadian akan bersifat traumatik atau tidak? Pertanyaan ini sangat menggelitik rasa ingin tahu, membuat penasaran, dan tentu sangat butuh dijawab tuntas.

Kata “emosi” berasal dari bahasa Latin “emovere” yang berarti bergerak melewati atau keluar. Dengan demikian, emosi sejatinya merujuk pada tindakan aktif. Dalam bahasa aslinya, emosi sama sekali tidak mengandung makna kelekatan atau penolakan terhadap tindakan, namun emosi mengalir melalui atau keluar dari diri.

Emosi sangat memengaruhi hidup kita, baik disadari atau tidak. Ortony, Norman, dan Revelle (2005) menyatakan emosi dihasilkan pada tiga level: reaktif, rutin, dan reflektif. Emosi paling primitif adalah yang bersifat reaktif. Emosi ini telah ada dalam diri kita sejak lahir, dan berfungsi untuk memastikan kita bisa tetap selamat. Emosi ini adalah takut dan marah yang bersifat defensif, yang muncul sebagai respon terhadap hal-hal yang dipersepsikan sebagai ancaman. Emosi takut telah ada sejak lahir. Bayi lahir dengan membawa dua rasa takut, takut suara keras dan takut jatuh. Sementara marah muncul belakangan. Takut dan marah memiliki fungsi spesifik, dalam konteks keselamatan individu. Dua emosi dasar ini memberikan energi untuk lari atau melawan.

Emosi rutin adalah emosi yang kita alami sehari-hari, meliputi perasaan senang, bahagia, kagum, terganggu, malu, cemas, terinspirasi, berani, egois, bangga, sedih, kaget, marah, jengkel, kesal, takjub, dan yang lain. Emosi-emosi ini muncul, bertahan sebentar, lalu memudar, dan dilanjutkan dengan munculnya emosi lain. Emosi rutin tidak menyebabkan trauma. Mereka memberi warna kepada kehidupan yang kita jalani.

Emosi reflektif muncul sebagai hasil dari kerja bagian otak, lobus prefrontalis. Emosi reflektif meliputi marah, rasa bersalah, benci, kesedihan mendalam, cemburu, cinta, balas dendam, dan yang lain. Emosi reflektif, sama seperti emosi reaktif, berpotensi mengakibatkan trauma. Emosi reaktif dan reflektif menyebabkan perasaan tidak nyaman dan sedapat mungkin kita berusaha menghidarinya.

Takut muncul dalam berbagai situasi atau momen. Ada momen di mana kesadaran dan kewasapadaan kita terhadap lingkungan meningkat, merasa ada sesuatu yang tidak beres. Kita berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dalam situasi ini muncul rasa takut sebagai bentuk perlindungan diri terhadap sesuatu yang dirasa berbahaya. Bila ternyata tidak ada yang membahayakan diri, kita kembali pada kondisi normal, rasa takut hilang dengan sendirinya.

Takut juga muncul saat diri kita dalam bahaya, seperti sedang berhadapan dengan ular atau dikejar anjing liar. Takut menempatkan kita dalam mode lari (flight) untuk bisa menyelamatkan diri.

Takut tipe ketiga muncul di saat kita panik. Kita dibanjiri perasaan seolah kita akan meninggal, kita tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ada perasaan kelebihan beban, tidak mampu.

Takut tipe keempat muncul saat kita berhadapan dengan situasi yang diyakini akan segera membuat kita meninggal. Kita masuk ke kondisi kesadaran lain. Waktu melambat, tubuh tidak lagi merasa sakit atau sensasi lain, dan menjadi tidak responsif, kaku, disebut thanatosis.

Setiap jenis takut berhubungan dengan ciri neurobilogis unik. Ciri ini terdiri atas hormon stres berbeda yang mengalir melalui otak dan tubuh, meningkatkan respons untuk keselamatan hidup.

Saat emosi dapat mengalir keluar secara alamiah atau mampu dialirkan keluar dari sistem diri dengan sengaja, maka tidak akan terjadi masalah. Masalah muncul saat emosi menumpuk dalam diri, biasanya melalui proses represi kronis, dan mewujud dalam bentuk simtom pada aspek kognisi, emosi, dan fisik.

Dua Sistem Keselamatan Hidup

Manusia memiliki dua sistem keselamatan hidup: aversive dan appetitive survival system. Emosi reaktif dan reflektif adalah bagian dari aversive survival system. Sistem ini mengaktifkan emosi takut dan marah saat individu berhadapan atau mengalami kejadian yang mengancam, di mana ia harus bisa lari lebih cepat atau lebih kuat sehingga bisa mengalahkan predator. Takut juga aktif untuk menghidarkan kita dari melakukan sesuatu yang menghasilkan rasa bersalah, malu, marah, dan emosi mengganggu lainnya.

Appetitive survival system memelihara keselamatan hidup dengan cara mendorong atau memotivasi kita untuk memenuhi kebutuhan fisik, mencari makan, minum, dan seks. Sistem ini memotivasi kita dengan menghasilkan perasaan lapar, haus, dan hasrat pemenuhan kebutuhan seks yang bertindak sebagai stresor. Semakin lama kebutuhan ini tidak terpenuhi, semakin besar stres yang dialami individu, semakin tinggi motivasinya. Kedua sistem ini saling terhubung untuk mencapai tujuan serupa, keselamatan dan kelanjutan hidup. Dengan demikian, tidak heran bila dalam gangguan yang melibatkan dorongan apetitif abnormal seperti adiksi atau makan kompulsif, sering ditemukan keberadaan emosi reaktif atau reflektif abnormal yang  berasal trauma.

Memori untuk Keselamatan Hidup

Selain lari (flight) dan lawan (fight), untuk menjaga keselamatan hidup di masa depan, kita sangat perlu mampu menghindari situasi serupa yang di masa lalu bersifat membahayakan atau mengancam. Dengan demikian, kita butuh kemampuan untuk merekam dan mengingat kembali, dengan cepat dan akurat, memori-memori tentang situasi ancaman ini.

Ada dua cara untuk mencapai tujuan ini. Pertama, kita perlu mengalami secara langsung, dan kedua, otak kita merekam informasi dari sumber lain. Proses ini melibatkan amydala dan hippocampus.

Salah satu cara paling cepat untuk menarik perhatian, membuat kita fokus, waspada untuk menghidari situasi yang mengancam adalah dengan melibatkan emosi. Di sinilah peran nyata amygdala dan hippocampus. Amygdala akan bertanya pada hippocampus, menggunakan data yang telah terekam di memori otak, apakah situasi, kondisi, hal, benda, atau apa saja yang individu temui, aman atau berbahaya. Saat hippocampus memberi jawaban bahwa ini adalah sesuatu yang dipersepsi mengancam atau berbahaya maka amygdala akan menyalakan alarm tanda bahaya, muncul emosi intens dalam diri individu yang menyiapkan dirinya lari atau lawan.

Pengalaman traumatik meninggalkan bekas mendalam dalam psikis individu, terekam dalam bentuk memori “khusus” di otak, dan mengakibatkan perilaku tak lazim, sakit berkepanjangan, sensasi fisik yang bersifat mengganggu kenyamanan hidup.

Pengalaman terekam sebagai pengalaman traumatik saat momen lari atau lawan, saat upaya menghindari atau menghilangkan ancaman tidak dapat dilakukan. Pada saat inilah senyawa kimiawi otak seperti norepinephrine, dopamine, dan cortisol meningkat drastis dan memengaruhi otak dalam merekam informasi.

Komponen Memori Traumatik

Setiap memori traumatik melibatkan minimal empat komponen. Pertama, emosi atau perasaan. Kedua, komponen kognitif pikiran sadar yaitu konten mental yang kita pikirkan atau perhatikan, kita sadari keberadaan dan maknanya. Ketiga, komponen kognitif pikiran bawah sadar yaitu konten mental yang muncul karena terpicu oleh faktor internal atau eksternal, tidak kita sadari keberadaannya, namun mengakibatkan gejala fisik dan emosi. Keempat, komponen somatosensori yaitu sensasi yang dirasakan di tubuh fisik seperti sakit, tegang, kesemutan, perubahan temperatur kulit, hipersensitif terhadap sentuhan, dan sensasi lainnya.  

Memori traumatik terbagi dua: memori traumatik (traumatic memory) dan memori traumatik disosiatif (dissociated traumatic memory). Memori traumatik adalah memori yang berisi narasi kejadian dan emosi yang lekat padanya dan dapat diaktifkan secara sadar. Sementara memori traumatik disosiatif adalah bentuk pikiran, perasaan, dan sensasi yang muncul dan dialami individu, tanpa aktivasi atau kendali secara sadar, biasanya terpicu oleh sesuatu hal yang seringkali tidak disadari oleh individu, dan muncul dalam bentuk kilas balik ingatan (flash back), mimpi buruk, pikiran intrusif/mengganggu, dan sensasi fisik.

Syarat Terjadi Trauma

Trauma selalu melibatkan emosi intens. Kita mengingat traumatisasi sebagai kondisi terperangkap dalam tindakan pelarian tak tuntas.

Suatu kejadian untuk dapat terekam di otak sebagai memori traumatik membutuhkan lima syarat. Pertama, harus ada kejadian yang menghasilkan emosi. Kedua, kejadian ini memiliki makna bagi individu. Ketiga, kondisi kimiawi otak pada saat kejadian mendukung. Keempat, individu merasa terperangkap, tidak bisa menghindar dari kejadian itu, Kelima, individu merasa tidak berdaya.

Yang dimaksud dengan kejadian adalah salah satu atau gabungan dari beberapa kemungkinan berikut: kita bisa mengalami sendiri, hanya menyaksikan, diberitahu baik oleh pihak kedua atau ketiga, membaca uraian kejadian, menonton siaran televisi, mengalami kejadian melalui mimpi, dan membayangkan kejadiannya di pikiran.

Contohnya, pada kecelakaan mobil. Kita bisa berada di dalam mobil, baik sebagai pengemudi atau penumpang, kita bisa menyaksikan terjadinya kecelakaan dan mendengar suara erangan atau rintihan kesakitan dari korban, melihat darah mengalir dari tubuh korban, atau kita bisa mendengar cerita orang mengenai kejadian itu, membaca kisah kecelakaan, menyaksikan tayangan video atau film kecelakaan, bermimpi mengalami kecelakaan, atau membayangkan mengalami kecelakaan, dan kita mengalami trauma.

Saya beberapa kali menangani klien yang takut naik pesawat karena ada rekan atau keluarga mereka yang mengalami kecelakaan pesawat dan meninggal. Ada klien yang karena sering membaca ulasan tentang kecelakaan pesawat ini, baik di media massa, tayangan televisi, dan melalui media sosial lainnya, turut menjadi trauma.

Trauma yang berasal dari cerita pihak kedua dan ketiga bisa terjadi karena pikiran kita mendramatisir kejadiannya. Ini jenis trauma yang dijumpai pada para pekerja sosial, terapis, pengacara, polisi, dan mereka yang rutin menangani trauma.

Pengalaman orang pertama tentu menghasilkan pengaruh emosi yang jauh lebih kuat daripada cerita orang ketiga, namun ini tetap perlu diwaspasi karena hasil penelitian menemukan para pekerja di bidang pemulihan trauma rentan terpengaruh dan perlu bersikap waspada terhadap risiko ini (Adams dan Riggi, 2008).

Komponen kedua untuk terjadi trauma adalah kejadian itu bermakna bagi individu. Makna muncul sebagai hasil dari kebutuhan bawaan akan kelekatan (attachment) pada hal-hal penting dalam hidup, dan pengalaman sebelumnya. Kelekatan yang dimaksud bisa berupa kelekatan pada hidup, pasangan, keluarga, orangtua, bagian tubuh, benda mati seperti rumah, mobil, cicin kawin, atau apa saja yang memiliki keterhubungan emosional intens dengan individu.

Makna juga bisa muncul berdasarkan pengalaman sebelumnya. Satu kejadian yang sebenarnya bersifat netral bisa memicu memori traumatik masa lalu dan mengakibatkan respon negatif. Terapis tidak dalam posisi untuk menentukan apakah suatu kejadian bermakna atau tidak bagi klien. Klien yang menentukan. Dengan demikian, dalam upaya menemukan kejadian traumatik, perlu diperhatikan hal-hal yang tampak sepele karena bisa saja hal ini justru merupakan penyebab trauma.

Komponen ketiga, kondisi kimiawi otak pada saat kejadian. Ada lima senyawa kimiawi otak yang berperan dalam proses trauma, yaitu glutamate, dopamine, serotonin, norepinephrine, dan cortisol. Dalam kondisi normal, kelima senyawa kimiawi ini berperan sebagai neuromodulator, memengaruhi suasana hati, pemrosesan informasi, dan meningkatkan kerentanan kita terhadap trauma.

Saat stres akut, level dari senyata kimiawi ini meningkat drastis dan mengakibatkan informasi diproses secara berbeda. Tubuh kita disiapkan untuk –bertindak, perhatian kita menjadi fokus, kita siap bertindak, dan menyiapkan otak untuk menyimpan informasi yang akan segera masuk.

Dopamine meningkat saat kita mencari keberadaan predator. Saat kita harus melawan atau lari, epinephrine menyiapkan tubuh dan norepinephrine menyiapkan pikiran. Serotonin juga meningkat sedikit untuk mencegah tubuh mengalami beban berlebih. Glutamate terlibat dalam semua proses ini. Sekali individu mengalami trauma, di kemudian hari ia menjadi lebih rentan mengalami trauma lagi.

Komponen keempat, perasaan terperangkap. Menghindar dari situasi yang mengancam atau melawan sumber ancaman butuh gerak aktif. Upaya ini meliputi lari, mendorong, melompat, memukul, berenang, bersembunyi, memanjat, dan tindakan lainnya. Saat individu merasa tidak bisa bergerak, karena dikuasai rasa takut intens, situasi ini berpotensi besar menimbulkan trauma.

Persepsi terperangkap tidak perlu berlangsung dalam waktu lama, dan juga tidak perlu sampai disadari penuh. Perasaan terperangkap ini bisa dialami saat seseorang mengalami kecelakaan, saat jatuh, saat melintasi jembatan yang bergoyang, saat dituduh mencuri di depan umum, atau saat Anda diberitahu menderita kanker, baik itu benar atau salah diagnosis. Saat Anda mengalami kejadian dan tidak ada tempat untuk berlari atau bersembunyi, maka saat itulah perasaan diri terperangkap terjadi dan dialami.

Komponen kelima, perasaan tidak berdaya. Saat individu merasa terperangkap namun masih bisa memikirkan jalan keluar atau ada yang memberi jalan keluar, maka ia masih memiliki harapan. Potensi mengalami trauma menurun drastis. Saat individu merasa sama sekali tidak ada jalan keluar dari situasi yang ia alami, muncul perasaan tidak berdaya. Bila kelima komponen ini lengkap hadir, maka kejadian yang dialami individu direkam di otak sebagai kejadian traumaik. 

Kerentanan                                                          

Selain lima syarat di atas, kerentanan terhadap trauma sangat dipengaruhi oleh pengalaman sebelumnya. Kejadian yang tampak sepele dapat menjadi trauma karena ia meneruskan dan berkerja berdasar akumulasi pengalaman sebelumnya (Chemtob, Nomura, dan Abramovitz, 2008; Gunawan, 2014). Kerentanan terhadap trauma semakin meningkat bila individu terlalu berempati, berharga diri rendah, dan mengalami kesulitan dalam regulasi respon emosi.

Dalam hipnoterapi klinis, kejadian tunggal dengan emosi intens dapat menjadi trauma. Ada pula kejadian dengan emosi yang kurang intens, namun karena ia memiliki kesamaan atau kemiripan dengan kejadian yang sebelumnya pernah dialami individu, mengakibatkan muncul trauma.

Solusi Trauma

Ada tiga pendekatan mengatasi trauma: psikoterapi, psikofarmakologi, dan terapi psikosensori. Psikoterapi adalah upaya penyembuhan yang dilakukan dengan cara beromunikasi verbal dengan klien. Beberapa pendekatan dalam psikoterapi antara lain kognitif, kognitif perilaku, rasional/emotif, psikodinamik, psikoanalisis, sistemik (termasuk terapi keluarga). Psikofarmakologi adalah studi dan penggunaan zat kimia untuk mengubah suasana hati, sensasi, pemikiran, dan perilaku. Sementara terapi psikosensori adalah terapi dengan pendekatan tubuh-pikiran (body-mind).

Salah satu cara paling efektif, dalam psikoterapi, untuk mengatasi trauma adalah hipnoterapi klinis. Hipnoterapis, menggunakan teknik hipnoanalisis, menuntun klien menyusuri garis waktu, mundur ke masa lalu, melewati satu atau beberapa kejadian, dan akhirnya mencapai kejadian paling awal. Saat kejadian-kejadian ini diproses tuntas, emosi yang lekat pada setiap kejadian dinetralisir, tentunya menggunakan teknik yang tepat, maka memori kejadian menjadi netral, tidak lagi mengganggu hidup individu dan klien sembuh dari trauma. 

_PRINT   _SENDTOFRIEND

Upcoming Events
Counter
Online7
Hari ini1.231
Minggu ini1.231
Bulan ini59.095
Bulan lalu66.705
03 Facebook
04 @adiwgunawan
05 Instagram
05 Tell Friends