Sepuluh Karakteristik Terapis Efektif

21 Mei 2018 23:29

Menjadi hipnoterapis klinis adalah dedikasi dan komitmen seumur hidup. Keputusan menjadi hipnoterapis klinis dibuat melalui pertimbangan matang, mendalam, dengan alasan tepat. Calon hipnoterapis juga perlu memutuskan akan menjadi hipnoterapis tipe apa dalam konteks keefektifan terapeutik: efektif rendah (low functioning), efektif menengah (average functioning), dan efektif tinggi (high functioning).

Tentu ada banyak variabel memengaruhi dan menentukan hasil terapeutik positif yang dicapai hipnoterapis. Variabel ini antara lain klien, terapis, populasi, lingkungan, institusi, dan lainnya. Dari sekian banyak variabel yang memengaruhi keefektifan terapeutik, ada satu variabel penting, berdasar temuan penelitian, berpengaruh signifikan, berkorelasi sangat kuat dan konsisten, yaitu variabel karakteristik atau kualitas inti pada diri terapis (Rothstein, 1988).

Kualitas inti dari terapis efektif adalah karakteristik unik dari masing-masing individu, dan tidak bisa di-teknik-kan. Karakteristik ini bersumber pada penghargaan pada hidup dan kehidupan sesama, dorongan tulus untuk melayani, rasa percaya diri dan kerendahan hati. Program pelatihan yang hanya fokus pada hal-hal teknis, seperti yang dinyatakan oleh Carkhuff & Berenson (1967) dan Egan (1977), akan semakin menjauhkan para calon terapis dari kesempatan untuk mengembangkan karakteristik ini.

Sepuluh kualitas inti yang harus ada dan dikembangkan dalam setiap individu untuk menjadi terapis efektif adalah 1) empati (empathy), 2) rasa hormat (respect), 3) apa adanya (genuineness), 4) kehangatan (warmth), 5) konkrit (concreteness), 6) konfrontatif (confrontiveness), 7) keterbukaan diri (self-disclosure), 8) kesegeraan (immediacy), 9) daya pengaruh (potency),  and 10) aktualisasi diri (self-actualization).

Tiga kualitas inti pertama, empati, rasa hormat, dan apa adanya, ditemukan dan ditulis dalam paper klasik Carl Roger berjudul “The Necessary and Sufficient Conditions of Therapeutic Personality Change” (1957).

Bergin (1966) melakukan kaji ulang banyak literatur, menemukan hal serupa, dan setuju dengan pendapat dan temuan Roger (1957).  Bergin (1966) menyatakan bahwa kemajuan terapeutik bervariasi sejalan dengan karakteristik terapis, seperti kehangatan, empati, kemampuan menyesuaikan diri, dan pengalaman. Hal ini sejalan dengan yang dinyatakan oleh Garfield (1974) dan Bath dan Calhoun (1977).

Pentingnya tujuh karakteristik lainnya, dalam diri terapis efektif, selain tiga pertama yang dinyatakan oleh Rogers (1957), dalam memengaruhi dan menentukan hasil terapi dinyatakan oleh Truax, Uhlig, dan Fargo (1968), Collingwood dan Renz (1969) Truax, Altman, dan Wittmer (1973), dan Fischer dan Knapp (1977).

Terkait pentingnya sepuluh kualitas inti yang perlu ada dalam terapis efektif, Traux (1970) dengan sangat gamblang dan tegas menyatakan:

The most clear-cut and striking body of evidence available concerning basic ingredients in effective counseling deals with central interpersonal skills. The effective counselor is first and foremost an expert in interpersonal relation.. spesializes techniques and expert knowledge are (clearly) secondary.

Empati tidak hanya melibatkan pemahaman terapis akan perasaan klien, juga mencakup kemampuan untuk secara akurat mengerti apa yang klien alami dan ungkapkan, dan juga mampu menyampaikan hal ini pada klien. Klien merasa aman, dipahami, diterima, tidak dihakimi, dan mengerti bahwa adalah hal wajar atau lumrah bila ia merasa apa yang ia rasakan. Saat klien merasa dimengerti, ia akan berani membuka diri dan mengungkap lebih banyak hal kepada terapis. Empati adalah kunci pembuka pintu relasi terapeutik antara terapis dan klien.

Dalam rasa hormat terkandung tiga komponen penting. Pertama, penghargaan akan kehormatan, harkat dan martabat, dan nilai sesama. Terapis bersikap netral, tidak terpengaruh oleh tampilan fisik atau cara berpakaian klien, dan juga tidak menghakimi klien atas tindakan yang telah ia lakukan di masa lalu.

Komponen kedua dalam rasa hormat adalah terapis menjunjung tinggi dan menghargai kehendak bebas (free will) klien untuk merasakan atau mengalami emosi tertentu, untuk terus memilih menderita, membuat kesalahan, atau bahkan pilihan klien untuk tidak mau dibantu pada aspek tertentu, padahal menurut pandangan terapis, sangat mendesak dan penting untuk diselesaikan. Terapis tidak melindungi atau mengambil alih masalah klien, atau mencoba memengaruhi atau mendominasi klien secara berlebih. Terapis membantu klien memahami konsekuensi dari setiap pilihan klien.

Dalam rasa hormat juga terkandung penghargaan akan kemampuan klien dalam mengatasi masalahnya, dengan bantuan terapis. Terapis efektif memiliki pengharapan tinggi terhadap keberhasilan terapi yang dijalani klien. Terapis paham sepenuhnya bahwa sukses tidak terjadi secara kebetulan, namun berasal dari aplikasi prinsip-prinsip ilmiah yang telah teruji efektif. Terapis efektif mengerti bahwa rasa sakit atau penderitaan dapat menjadi sekutu dalam terapi, dan kegagalan adalah guru yang dapat memberi pelajaran penting untuk klien berubah dan bertumbuh. Dengan demikian, terapis tidak memperlakukan klien sebagai individu lemah atau sakit.

Rasa hormat adalah variabel fasilitatif paling mendasar. Bila terapis memiliki rasa hormat mendalam dan tulus pada klien, ia boleh kurang cakap dalam hal teknis namun tetap bisa efektif membantu klien. Sebaliknya, tidak peduli betapa hebat terapis menguasai teknik atau pengetahuan, bila ia tidak atau kurang memiliki rasa hormat, ia akan tidak efektif dan bahkan dapat memberi pengaruh buruk pada klien.

Yang dimaksud dengan “apa adanya” adalah terapis bebas menjadi diri sendiri, tidak berpura-pura atau palsu. Terapis tidak memainkan peran sebagai terapis tapi benar-benar bertindak sebagai terapis. Bersikap apa adanya tidak berarti terapis menceritakan semua yang ia pikir atau rasakan kepada klien. Bersikap apa adanya memiliki batas. Terapis tahu waktu yang tepat untuk menyampaikan hal yang klien perlu ketahui. Terapis tidak asal mengungkap masalah atau kesulitannya sendiri kepada klien karena ini akan berpengaruh negatif terhadap klien.

Karakteristik lain yang dimiliki terapis efektif adalah kehangatan. Terapis menyampaikan perhatian, pemikiran, dan perasaan mereka kepada klien baik secara verbal dan nonverbal dengan cara yang bersifat mendukung, menguatkan, dan meneguhkan klien. Terapis menjaga kontak mata, melihat dan menyampaikan secara verbal hal-hal positif dalam diri klien.

Karakteristik konkrit artinya kekhususan yang relevan. Terapis yang bersifat konkrit tidak akan melebar dan melakukan eksplorasi perasaan dan proses berpikir yang tidak relevan dengan tujuan terapi. Terapis konkrit fokus pada hal-hal pokok, melakukan eksplorasi dengan bertanya apa, di mana, mengapa, bagaimana, dan siapa yang terlibat dalam masalah klien, dan membantu klien memasuki area sensitif masalahnya. Dalam proses ini, bila difasilitasi dengan baik, klien sering mengalami abreaksi kuat dan mendapat pembelajaran atau hikmah yang bersifat terapeutik. 

Terapis efektif berani berbeda pendapat dan konfrontatif dengan klien. Konfrontatif di sini tidak berarti agresif atau bertujuan menyerang klien. Konfrontatif dalam konteks terapi maksudnya terapis berani menyampaikan ketidaksesuaian atau inkonsistensi antara ucapan dan tindakan, perbedaan antara niat dan perilaku klien. Terapis efektif melakukan konfrontasi dengan sikap terbuka, tulus, hangat, demi kebaikan klien, walau klien mungkin akan marah karena inkonsistensi mereka diungkap oleh terapis. Terapis efektif melakukan konfrontasi secara langsung dan konsisten dalam upaya membantu klien mereka dua puluh kali lebih banyak daripada terapis tidak efektif (Wolf, 1970).

Terapis umumnya dilatih untuk menjaga jarak, fokus hanya pada masalah klien, dan tidak boleh menceritakan pengalaman, pandangan, sikap, atau perasaannya pada klien. Terapis efektif, pada saat yang tepat, akan bercerita tentang diri mereka dengan tujuan memberi pelajaran, kekuatan, pemahaman, dan atau peneguhan pada klien. Banyak terapis diajarkan untuk diam dan tidak melibatkan diri dengan klien mereka. Jika terapis menjalani hidup seperti yang mereka lakukan di ruang terapi, diam dan tidak melibatkan diri, mereka akan berakhir sebagai klien (Carkhuff dan Berenson, 1967).

Walau terapis boleh mengungkap diri pada klien, namun ini tidak boleh menjadi ajang curhat terapis ke klien. Fokus perhatian harus tetap pada masalah dan diri klien. Keterbukaan diri yang terapis lakukan akan diterima klien dengan makna, “Kita selesaikan masalah ini bersama. Kita semua punya pengalaman, idealisme, pengharapan, pemikiran, dan perasaan serupa. Kita bisa saling terbuka. Ini aman dan baik adanya.”

Kesegeraan merujuk pada komunikasi di sini, saat ini, antara terapis dan klien, khususnya mengenai aspek interaksi dan relasi. Terapis memerhatikan benar perasaan atau pandangan klien terhadap diri terapis. Terapis berani dan mengundang klien untuk mengungkap perasaannya, apakah klien nyaman, percaya, atau tidak percaya terhadap terapis dan menyelesaikan ketidaknyamanan klien dengan segera.

Daya pengaruh adalah kekuatan kehadiran, vibrasi yang berasal dari terapis yang yakin, semangat, percaya diri, komit, tahu kemampuan yang ia miliki. Klien merasa aman dengan kehadiran terapis yang memiliki energi dan daya pengaruh positif dan kuat, bersedia membuka dan menelaah diri, dengan bantuan terapis, untuk menemukan solusi atas masalah mereka.

Terapis efektif adalah mereka yang bergerak mewujudkan potensi diri dan menjalani hidup secara efektif, positif, dan bernas. Terapis efektif memelajari prinsip mendasar tentang cara menjalani  dan menikmati hidup secara penuh, bahagia, seimbang, produktif, dan dapat menjadi contoh bagi klien-klien mereka. Mereka telah menyelesaikan konflik atau trauma besar dalam hidupnya, positif, dapat diandalkan, memiliki sikap dan mental positif, peka terhadap orang lain, penuh perhatian, dan empatik.

Individu yang telah mencapai aktualisasi diri belajar mengendalikan dan menguasai pikirannya sendiri dengan secara sadar membatasi diri dari hal-hal negatif, kenangan masa lalu yang tidak bermanfaat, dan fokus pada masa depan seperti yang mereka inginkan. Mereka tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan, tahu yang mereka inginkan, menjalani hidup dengan prinsip dan nilai-nilai spiritual mulia, dan mampu tetap bersikap tenang dan berpikir jernih walau sedang menghadapi masalah atau kesulitan.

Maslow (1968) menggambarkan invididu yang telah mencapai aktualiasi diri sebagai orang yang spiritual tapi tidak harus relijius, tidak menghakimi karena setiap individu harus menjadi hakim atas diri sendiri, dan memandang orang lain sebagai individu dalam jalur evolusi masing-masing.

_PRINT   _SENDTOFRIEND

Upcoming Events
Counter
Online3
Hari ini149
Minggu ini4.090
Bulan ini53.075
Bulan lalu69.977
03 Facebook
04 @adiwgunawan
05 Tell Friends