Tepat dan Cerdas Memahami Abreaksi

13 September 2018 23:32

 

Hipnoterapi terbagi menjadi dua mazhab berdasar pendekatan terapi yang digunakan. Pertama, mazhab pantai timur Amerika, yang hanya mengutamakan dan menggunakan teknik terapi berbasis sugesti. Kedua, mazhab pantai barat yang sangat kaya teknik, menggunakan hipnoanalisis untuk menemukan akar masalah dan memrosesnya secara tuntas.

Hipnoterapis mazhab pantai timur melakukan proses terapi dengan menuntun klien masuk ke kedalaman hipnosis tertentu dan dilanjutkan dengan membacakan skrip sugesti. Skrip sugesti ini bisa bersifat umum dan spesifik. Hipnoterapis mazhab ini tidak dilatih untuk mencari dan menemukan akar masalah. Dengan demikian, mereka juga tidak mampu menangani, bila terjadi, luapan emosi klien dengan tepat, efektif, dan aman.

Sementara, dalam proses yang dilakukan para hipnoterapis mazhab pantai barat, sangat sering dijumpai akar masalah, dan kejadian-kejadian lanjutan pencetus simtom, berisi muatan emosi (sangat) intens. Emosi ini lekat pada memori traumatik dan sangat mengganggu klien. Untuk bisa melakukan rekonstruksi kejadian traumatik ini, agar klien sembuh, afek yang lekat pada memori harus dilepas dengan aman, nyaman, terkendali, menggunakan teknik yang sesuai dengan situasi, kebutuhan, dan kondisi klien. Pelepasan emosi ini dikenal dengan nama abreaksi atau katarsis.

Ada banyak definisi abreaksi, bergantung pemahaman masing-masing praktisi. Saya menggunakan definisi abreaksi yang dilansir oleh American Psychiatric Association:

An emotional release or discharge after recalling a painful experience that has been repressed because it was consciously intolerable. A therapeutic effect sometimes occurs through partial discharge or de-sensitization of the painful emotions and increased insight. (American Psychiatric Association, 1980, p. 1)

(Sebuah pelepasan atau pengeluaran emosi setelah mengingat kembali pengalaman traumatik yang selama ini direpresi, karena secara sadar sangat menyakitkan. Efek terapeutik kadang terjadi melalui pelepasan sebagian atau desensitisasi dari emosi-emosi menyakitkan dan meningkatnya wawasan.)

Abreaksi, bila berdiri sendiri, tidak terapeutik. Abreaksi terjadi karena klien mengakses pengalaman traumatik, yang sebelumnya telah ditekan sedemikian rupa sehingga ia lupa atau tidak lagi bisa mengakses memori ini secara sadar.

Saat klien, dalam proses hipnoterapi, mengakses kembali pengalaman traumatiknya, pada saat itu juga emosi yang lekat pada memori traumatik menjadi aktif. Penanganan abreaksi tidak tuntas mengakibatkan klien mengalami ulang trauma. Ini tentu sangat merugikan klien. Abreaksi terapeutik harus dilakukan dengan perencanaan matang, sistematis, terkendali, dan aman.

Untuk benar-benar mencapai hasil terapi maksimal, abreaksi hingga tuntas (exhaustive abreaction) perlu dilakukan di kejadian paling awal dan kejadian-kejadian lanjutan, yang ada dalam rangkaian pencetus simtom. Setelahnya, perlu diikuti dengan kerangka kerja bermakna (meaningful and appropriate cognitive framework) (Braun, 1986; Ross, 1989). Di AWGI, kami menyebutnya dengan rekonstruksi memori atau pengalaman emosi korektif.

Saat individu mengalami pengalaman korektif emosi, ia “menuntaskan” proses yang dulunya belum selesai dijalani, yang adalah inti neurosis repetitif, dan melepas kebutuhan akan keberlanjutan manifestasi simtom (Van der Hart, Brown, dan Van de Kolk, 1989)  

Menurut Putnam (1989) ada dua jenis abreaksi: abreaksi spontan dan abreaksi terkendali terapeutik. Yang dimaksud abreaksi spontan atau fenomena menyerupai abreaksi adalah ingatan pengalaman traumatik yang muncul tiba-tiba (flashback), mimpi buruk, dan ingatan detil lainnya tentang pengalaman traumatik yang muncul secara spontan, tidak terkendali, dan sebagian besar bersifat tak sadar dan menghambat atau mencegah terjadinya pelepasan emosi dari memori dan afek yang mengikuti flashback. Sementara abreaksi terkendali terapeutik dilakukan dengan sangat hati-hati, cermat, terukur, meliputi mengalami kembali pengalaman traumatik dan pelepasan emosi terkait, dan dilanjutkan dengan kerangka kerja bermakna.

Steele dan Colrain (1990) menganggap flashback sebagai abreaksi spontan, yang mereka definisikan sebagai mengalami trauma secara refleksif, tidak utuh, tidak terkendali, dan terpotong, yang sebagian besar kontennya terjadi secara nirsadar. Masih menurut mereka, resolusi sulit dicapai karena flashback dan fenomena lain yang menyerupai abreaksi tidak lengkap dan tidak terjadi kerangka kerja kognisi. Peterson (1991) menyatakan bahwa abreaksi spontan adalah lingkaran psikologis tanpa menawarkan penyelesaian, tetapi hanya mengulang dan mengulang apa yang telah terjadi.

Sementara Watkins (1949) menyatakan abreaksi adalah mengalami kembali secara emosi atau mengalami kembali pengalaman traumatik, dan dianalogikan sama dengan membuka bisul. Dikatakan seperti ini karena abreaksi melibatkan energi yang sangat besar dan pelepasan kecemasan.

Dua contoh kejadian yang sering dijumpai dalam interaksi sosial, yang melibatkan abreaksi adalah curhat dan revivifikasi. Curhat sebenarnya adalah tipe abreaksi spontan nonterapeutik. Saat seseorang menceritakan apa yang ia alami atau rasakan, pada saat yang sama terjadi pelepasan tekanan emosi. Setelahnya ia merasa lega, namun ini tidak menyelesaikan masalah karena tidak diikuti dengan kerangka kerja bermakna atau pengalaman korektif emosi.

Seringkali, saat curhat, individu secara spontan, di dalam pikirannya, mengalami kembali dengan semua indera, di saat ini, kejadian masa lalu. Kondisi ini, secara teknis disebut revivifikasi. Revivifikasi sering diikuti dengan terjadi luapan emosi dari kedalaman pikiran bawah sadar. Namun, sama seperti curhat, revivifikasi per se tidak terapeutik dan sering menyebabkan kondisi individu menjadi lebih parah karena mengalami trauma ulang tanpa resolusi.

Abreaksi saja tidak cukup untuk menyelesaikan trauma. Agar abreaksi efektif mengatasi trauma, ia harus dihubungkan dengan restrukturisasi kognitif, dan resolusi dilema yang ada dalam trauma (Steele,1989).

Hal ini sejalan dengan Fine (1991) yang menyatakan bahwa tujuan abreaksi adalah untuk memberi informasi, mendidik atau mendidik ulang, melepas afek yang ditekan, mencapai keberlangsungan konten memori, melepas trauma yang terperangkap dalam tubuh, dan membentuk ulang skemata kognisi dan kepercayaan.

Dengan demikian, dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa abreaksi adalah satu hal, dan resolusi trauma adalah hal lain. Resolusi trauma melibatkan dua faktor, abreaksi dan pengalaman korektif emosi.

_PRINT   _SENDTOFRIEND

Upcoming Events
Counter
Online10
Hari ini1.303
Minggu ini1.303
Bulan ini59.167
Bulan lalu66.705
03 Facebook
04 @adiwgunawan
05 Instagram
05 Tell Friends