Apakah Hipnoterapi Bisa Berdampak Negatif?

Saya dapat pertanyaan dari seorang rekan, yang ditulis di kolom komentar FB saya, "Apakah jika seorang hipnoterapis yang gagal melakukan hipnosis dan hipnoterapinya itu akan berpengaruh atau berefek pada klien misalnya seperti pikiran dan perilakunya jadi agak berbeda begitu dari sebelum diterapi jadi kayak ada error pak Adi?"

Ini pertanyaan menarik dan sangat perlu dijawab. Dari pertanyaan di atas, ada dua aspek yang perlu ditelaah terkait dampak praktik hipnosis dan hipnoterapi. Pertama, apa yang terjadi pada klien, bila hipnoterapis gagal melakukan hipnosis pada klien. Kedua, apa yang akan terjadi bila hipnoterapis gagal dalam melakukan hipnoterapi pada klien. 

Untuk kondisi pertama, hipnoterapis gagal menghipnosis klien, bisa timbul dua dampak, baik pada klien maupun hipnoterapis. Dampak pada hipnoterapis, ia merasa gagal, tidak mampu. Bila kejadian seperti ini berulang, hipnoterapis ini cepat atau lambat pasti berhenti praktik. 

Sementara klien yang gagal dihipnosis bisa merasa ia orang yang sulit atau memang tidak bisa masuk kondisi hipnosis. Ini adalah satu kepercayaan yang salah, yang diadopsi oleh klien berdasar pengalamannya gagal dihipnosis. Kepercayaan ini selanjutnya menghambat klien untuk bisa dihipnosis oleh hipnoterapis lain. 

Dampak negatif seperti perubahan perilaku yang tidak diharapkan, bila konteks bahasan hanya pada kegagalan induksi yang dilakukan hipnoterapis pada klien, tidak akan terjadi. 

Proses menuntun klien masuk kondisi hipnosis disebut induksi. Klien bisa tidak berhasil masuk kondisi hipnosis. Klien juga bisa masuk kondisi hipnosis, baik di kondisi hipnosis dangkal, hipnosis menengah, hipnosis dalam, hipnosis ekstrim, dan kedalaman maksimal yang bisa dicapai klien adalah kondisi tidur. Proses hipnosis sendiri tidak akan berdampak negatif karena sejatinya kondisi hipnosis adalah kondisi pikiran rileks, tenang, nyaman. 

Proses hipnosis bisa memunculkan dampak negatif bila saat klien "masuk" ke pikiran bawah sadarnya, ia jumpa memori-memori yang berasal dari pengalaman traumatik masa lalu, yang selama ini terepresi sehingga tidak diketahui atau tidak bisa diakses secara sadar. 

Dan ini membawa kita pada bahasan pertanyaan kedua, mengenai dampak yang terjadi bila hipnoterapis gagal melakukan hipnoterapi pada klien. 

Dalam dunia hipnoterapi, sejatinya ada dua mazhab: tidak memroses akar masalah dan memroses akar masalah. Mazhab hipnoterapi yang tidak memroses akar masalah hanya menggunakan sugesti untuk menyelesaikan masalah klien. 

Proses hipnoterapinya sangat sederhana. Pertama, hipnoterapis akan melakukan wawancara pada klien. Selanjutnya, hipnoterapis melakukan induksi, menuntun klien berpindah dari kondisi kesadaran normal ke kondisi pikiran rileks, kondisi hipnosis. Setelah klien berhasil dituntun masuk kondisi hipnosis, hipnoterapis akan memberi "obat" berupa sugesti untuk mengatasi masalah klien. Setelahnya klien dituntun keluar dari kondisi hipnosis kembali ke kondisi sadar normal. Proses terapi biasanya berlangsung antara 15 hingga 30 menit. 

Proses terapi berbasis sugesti ini seringkali gagal mengatasi masalah klien karena dua hal utama: klien tidak berhasil dibimbing masuk ke kedalaman hipnosis yang sesuai untuk tujuan terapeutik, atau hipnoterapis tidak mampu menyusun sugesti yang tepat, mengikuti kaidah penyusunan skrip yang benar, untuk mengatasi masalah klien. Bisa terjadi, hipnoterapis tidak cakap menghipnosis klien dan sekaligus juga tidak cakap menyusun skrip sugesti. 

Proses hipnoterapi berbasis sugesti ini bisa mengakibatkan salah satu dari tiga kemungkinan. Pertama, klien sama sekali tidak terpengaruh, masalahnya tidak berhasil diatasi. Kedua, masalah klien berhasil diatasi, klien sembuh. Ketiga, akibat hipnoterapis tidak kompeten menyusun skrip, tanpa ia sadari, skrip yang diberikan pada klien bersifat tidak ekologis dan justru mengakibatkan dampak negatif. 

Mazhab hipnoterapi yang memroses akar masalah mensyaratkan hipnoterapis memiliki kompetensi tinggi, mulai dari wawancara mendalam, melakukan induksi dan tahu indikator kedalaman hipnosis yang dicapai klien, menguasai dan mampu mempraktikkan teknik-teknik spesifik untuk mencari, menemukan, dan memroses tuntas akar masalah, melakukan uji hasil terapi, dan mengakhiri sesi terapi setelah memastikan hasil terapi yang dilakukan benar telah terjadi, disetujui, dan diterima sepenuhnya oleh pikiran bawah sadar klien. 

Sama seperti hipnoterapi berbasis sugesti, ada tiga kemungkinan yang bisa terjadi bila menggunakan pendekatan hipnoterapi mazhab berbasis penyelesaian akar masalah. Kemungkinan pertama, masalah klien tidak berhasil diatasi. Kemungkinan kedua, masalah klien berhasil diatasi, klien sembuh. Dan kemungkinan ketiga, hipnoterapis salah dalam melakukan proses terapi, mengakibatkan kondisi klien bukannya membaik malah semakin parah, dan dalam kondisi tertentu bisa berakibat fatal. 

Beberapa kemungkinan kesalahan yang bisa terjadi dalam proses terapi berbasis penyelesaian akar masalah antara lain hipnoterapis menentukan akar masalah klien secara sepihak, bukan berdasar proses hipnoanalisis mendalam. 

Kesalahan berikutnya yang mungkin terjadi, hipnoterapis tidak cakap menangani abreaksi atau luapan emosi (katarsis) sehingga berbahaya bagi keselamatan klien yang mengalami penyakit seperti hipertensi, sakit jantung, asma, pasca-stroke, klien wanita yang sedang hamil, cerebral palsy, diabetes, epilepsi. 

Hipnoterapis yang tidak kompeten juga bisa salah dalam melakukan "leading" sehingga tercipta memori palsu (false memory) yang diterima klien sebagai pengalaman riil masa lalu. Memori palsu ini selanjutnya memengaruhi hidup klien. 

Satu kegagalan yang sering dijumpai pada banyak proses terapi yang dilakukan hipnoterapis yang melakukan pencarian akar masalah adalah mereka mengarahkan klien, sejak dari awal sesi terapi, untuk menerima kenyataan bahwa akar masalah klien terjadi di kehidupan lampau. 

Hipnoterapis melakukan regresi dan "berhasil" menemukan akar masalah. Namun hipnoterapis tidak memroses tuntas akar masalah ini. Klien hanya diberitahu bahwa masalah hidup mereka di masa sekarang bersumber dari akar masalah ini. Dengan klien mengetahui akar masalah ini diharapkan klien mendapat pemahaman dan masalahnya selesai dengan sendirinya. 

Pada kenyataannya, tidak seperti ini. Akar masalah, terlepas dari ia ditemukan melalui proses regresi yang benar, atau ia sudah ditentukan oleh hipnoterapis sejak awal terapi, harus diproses tuntas. Mencari dan menemukan akar masalah adalah satu hal. Memroses tuntas sehingga emosi negatif pada kejadian ini berhasil dinetralisir adalah hal lain. 

Menemukan akar masalah tanpa memroses tuntas akar masalah ibarat dokter bedah, membuka perut pasien, menemukan bahwa umbai cacing pasiennya bermasalah, kemudian dokter memberitahu situasi ini pada pasien, setelahnya pasien diminta bangun dan pulang tanpa mengangkat umbai cacing yang bermasalah dan menjahit bukaan perut akibat pembedahan. Ini sangat berbahaya. 

Dokter bedah melakukan pembedahan, "membuka" tubuh pasien untuk mengatasi masalah atau mengkoreksi kondisi fisik tertentu. Hipnoterapis klinis melakukan "pembedahan" psikis, "membuka" pikiran bawah sadar klien, menemukan dan menyelesaikan akar masalah klien. 

Baik dokter bedah maupun hipnoterapis klinis, keduanya harus memiliki kompetensi tinggi sesuai bidangnya agar dapat bekerja efektif, efisien, dan aman dalam membantu orang yang butuh pertolongan. Ini hanya bisa dicapai melalui proses pendidikan terstruktur, dengan standar tinggi, dan masa pendidikan yang seturut dengan tingkat kompetensi yang hendak dicapai. 



Dipublikasikan di https://www.adiwgunawan.com/articles/apakah-hipnoterapi-bisa-berdampak-negatif pada tanggal 21 April 2020 15:21