Definisi Hipnosis dan Hipnoterapi Terkini

18 Februari 2023 10:41

American Psychological Association (APA) Divisi 30, Society of Psychological Hypnosis, telah tiga kali merumuskan definisi hipnosis, tahun 1993, 2003, dan terakhir 2014, sebagai acuan para praktisi dan peneliti pengguna hipnosis dalam kegiatan mereka. 

Definisi hipnosis yang dirumuskan APA, tahun 1993, menggambarkan posisi sejumlah peneliti yang mendukung perbedaan perspektif teoretis namun terutama mengidentifikasi hipnosis sebagai prosedur di mana seorang penyembuh profesional atau peneliti memberi sugesti pada klien atau pasien, atau subjek penelitian untuk mengalami perubahan sensasi, persepsi, pikiran atau perilaku (Kirsch, 1994b, p.143). 

Definisi ini juga meliputi daftar beberapa kegunaan hipnosis dan menyatakan hipnosis telah digunakan dalam penanganan rasa sakit, depresi, kecemasan, stres, gangguan kebiasaan, dan banyak masalah psikologis dan medis lainnya (Kirsch, 1994b, p.143).

Setelah publikasi definisi resmi hipnosis pada tahun 1994, muncul keprihatinan dan kritik karena definisi ini tidak memuaskan banyak pihak. Definisi ini mendapat kritik karena terlalu panjang dan memiliki keterbatasan teoretis signifikan.

Segera setelah publikasi definisi hipnosis pada tahun 1994, komite eksekutif APA Divisi 30 mulai menangani masalah ini. Namun upaya revisi ternyata menjadi tugas yang tidak mudah. Walau definisi tahun 1994 ini belum memuaskan, ia berlaku selama lebih dari satu dekade.

Kesulitan dari perumusan definisi disebabkan oleh dua faktor. Pertama, mekanisme yang menjadi dasar terjadinya efek hipnosis belum sepenuhnya teridentifikasi. Kondisi ini mengakibatkan sulit tercapai konsensus atas definisi hipnosis. Kedua, alasan timbul ketidaksetujuan atas definisi hipnosis karena argumentasi tentang akurasi suatu definisi pasti terjadi bila definisi ini melibatkan bias teoretis (Elkins dkk, 2015).

Teori-teori hipnosis yang dimaksud antara lain teori neodisosiasi (Hilgard, 1973), teori sosiokognitif (Spanos, 1991), teori pengharapan respon (Kirsch, 1985), dan teori kendali terdisosiasi (Woody dan Bower, 1994). 

Setelah melalui proses yang cukup panjang, di tahun 2003, APA Divisi 30 mengumumkan definisi hipnosis, yang dibatasi pada prosedur yang digunakan dalam penelitian dan praktik klinis (Green et al., 2005, p.262). 

Definisi hipnosis ini panjangnya dua paragraf: 

Hipnosis biasanya melibatkan pengenalan prosedur di mana subjek diberitahu tentang pemberian  sugesti untuk pengalaman imajinatif. Induksi hipnotik adalah kelanjutan dari sugesti awal untuk menggunakan imajinasi seseorang, dan dapat berisi penjelasan lebih lanjut dari penjelasan awal. Prosedur hipnosis digunakan untuk mendorong dan menilai respons terhadap sugesti. Saat menggunakan hipnosis, satu orang (subjek) dituntun oleh orang lain (hipnotis) untuk merespon sugesti perubahan pada pengalaman subjektif, perubahan persepsi, sensasi, emosi, pemikiran, atau perilaku. Orang juga dapat belajar swahipnosis, yaitu tindakan melakukan prosedur hipnosis pada diri sendiri. Jika subjek merespon sugesti hipnotik, umumnya disimpulkan telah terjadi hipnosis. Banyak yang percaya bahwa respons dan pengalaman hipnotik adalah karakteristik kondisi hipnosis. Beberapa orang berpikir bahwa tidak perlu menggunakan kata hipnosis sebagai bagian dari induksi hipnotik, sementara yang lain memandang ini sebagai hal penting. 

Rincian prosedur dan sugesti hipnotik akan berbeda bergantung pada tujuan praktisi dan tujuan upaya klinis atau penelitian. Secara tradisional, prosedur hipnosis melibatkan sugesti untuk menjadi rileks, meskipun rileksasi bukan keharusan untuk hipnosis, dan berbagai macam sugesti dapat digunakan termasuk sugesti untuk menjadi lebih waspada. Sugesti yang memungkinkan sejauh mana hipnosis dinilai dengan membandingkan respons terhadap skala standar dapat digunakan baik dalam ranah klinis maupun penelitian. Sementara mayoritas individu responsif terhadap setidaknya beberapa sugesti, skor pada skala standar berkisar dari tinggi hingga dapat diabaikan. Secara tradisional, skor dikelompokkan ke dalam kategori rendah, sedang, dan tinggi. Seperti halnya dengan ukuran konstruk psikologis skala positif lainnya seperti perhatian dan kesadaran, arti penting bukti untuk mencapai kondisi hipnosis meningkat seturut skor individu. (Green dkk., 2005, p.262-2633).

Definisi hipnosis tahun 2003 telah mengalami kemajuan berarti, namun kurangnya kehati-hatian dan pembatasan pada prosedur dipandang sebagai kekurangan signifikan. 

Di tahun 2013, Dr. Arreed Barabasz selaku presiden Divisi 30 APA menunjuk komite baru, Hypnosis Definition Committee (HDC) untuk merevisi definisi hipnosis. HDC beranggotakan Gary R. Elkins (Ketua), David Spiegel, James R. Council, dan Arreed F. Barabasz.

Untuk mencapai tujuan ini, HDC mengacu pada pedoman berikut:

• Definisi harus berupa deskripsi singkat yang mengidentifikasi objek yang dimaksud dan karakteristiknya.

• Definisi harus bersifat heuristik dan mengakomodir teori-teori alternatif terkait mekanisme hipnosis.

Setelah mendapat banyak saran dan masukan dari berbagai pihak, akhirnya pada tanggal 24 Maret 2014 HDC (APA Divisi 30) berhasil merumuskan dan mencapai konsensus definisi hipnosis yang baru: 

"Hipnosis adalah kondisi kesadaran melibatkan perhatian terfokus dan berkurangnya kesadaran periferal yang bercirikan peningkatan kapasitas respons terhadap sugesti (Elkins dkk, 2015, p.6).

Dan definisi hipnoterapi (atau hipnosis klinis) adalah pemanfaatan hipnosis dalam penanganan masalah medis atau psikologis (p.7).

Kami (AWGI) mendefinisikan hipnosis sebagai kondisi kesadaran bercirikan pikiran sadar rileks, fungsi kritis analitis pikiran sadar menurun, disertai meningkatnya fokus dan konsentrasi, sehingga individu menjadi sangat responsif terhadap pesan atau informasi yang diberikan kepada pikiran bawah sadar (Gunawan, 2017).

Definisi hipnosis versi AWGI dan APA Divisi 30 sama-sama menyatakan bahwa hipnosis adalah kondisi kesadaran, karena memang demikianlah adanya, sesuai dengan yang kami temukan dan alami di ruang praktik saat menangani klien. 

Sementara definisi hipnoterapi, menurut AWGI, adalah terapi, menggunakan teknik atau metode apa saja, yang dilakukan di dalam kondisi hipnosis, untuk mencapai tujuan terapeutik (Gunawan, 2017).

_PRINT   _SENDTOFRIEND

Upcoming Events
Counter
Online12
Hari ini1.208
Sepanjang masa34.440.457
1 Facebook
2 Youtube
3 Instagram
4 Quantum Morphic Field Relaxation
5 Asosiasi Hipnoterapi Klinis Indonesia
6 The Heart Technique