Depresi: Diagnosa & Pandangan AWGI

3 Oktober 2022 11:02

𝐓𝐞𝐧𝐭𝐚𝐧𝐠 𝐃𝐞𝐩𝐫𝐞𝐬𝐢

Kami, hipnoterapis AWGI, sering diminta membantu menangani klien dengan masalah depresi. Sesuai aturan AWGI / AHKI, kami tidak boleh menangani kasus berat seperti depresi karena ini adalah ranah psikater atau psikolog klinis, bukan hipnoterapis (layman hypnotherapist). 

Pertanyaan pertama yang kami tanyakan pada calon klien yang menyatakan dirinya depresi, "Siapa yang mendiagnosa anda mengalami depresi?"

Jawabannya sangat beragam. Ada yang melakukan diagnosa sendiri. Ada yang berdasar pendapat teman atau keluarganya. Ada juga yang bertanya pada Prof. Dr. Google. Dan ada yang telah ke profesional seperti psikiater atau psikolog. 

Apa itu depresi?

Depresi adalah gangguan suasana hati yang menyebabkan perasaan sedih dan kehilangan minat yang berkelanjutan. Juga disebut gangguan depresi mayor atau depresi klinis. Ia memengaruhi bagaimana seseorang merasa, berpikir dan berperilaku, dan dapat menyebabkan berbagai masalah emosional dan fisik. 

Orang yang mengalami depresi bisa mengalami kesulitan melakukan aktivitas normal sehari-hari, kehilangan minat pada kegiatan yang sebelumnya mereka nikmati, dan kadang bisa merasa seolah-olah hidup tidak layak untuk dijalani.

Selain masalah emosional yang disebabkan oleh depresi, individu juga dapat mengalami gejala fisik seperti sakit kronis atau masalah pencernaan. 

Menurut DSM-5, untuk didiagnosis mengalami depresi, individu harus mengalami lima atau lebih gejala berikut selama periode dua minggu yang sama, dan setidaknya salah satu gejala harus berupa (1) suasana hati yang tertekan atau (2) kehilangan minat atau kesenangan:

1. Suasana hati yang tertekan hampir sepanjang hari, hampir setiap hari.

2. Berkurangnya minat atau kesenangan secara nyata pada semua, atau hampir semua, aktivitas hampir sepanjang hari, hampir setiap hari.

3. Penurunan berat badan signifikan saat tidak berdiet atau penambahan berat badan, atau penurunan atau peningkatan nafsu makan hampir setiap hari.

4. Perlambatan pemikiran dan pengurangan gerakan fisik (dapat diamati oleh orang lain, bukan hanya perasaan subjektif dari kegelisahan atau melambat).

5. Kelelahan atau kehilangan energi hampir setiap hari.

6. Perasaan tidak berharga atau rasa bersalah yang berlebihan atau tidak pantas hampir setiap hari.

7. Berkurangnya kemampuan untuk berpikir atau berkonsentrasi, atau keragu-raguan, hampir setiap hari.

8. Pikiran kematian yang berulang, ide bunuh diri yang berulang tanpa rencana khusus, atau usaha bunuh diri atau rencana khusus untuk bunuh diri.

Walau gejala depresi telah dijelaskan di atas, penegakkan diagnosa hanya boleh dilakukan oleh profesional seperti psikiater atau psikolog. 

𝐀𝐩𝐚 𝐏𝐞𝐧𝐲𝐞𝐛𝐚𝐛 𝐃𝐞𝐩𝐫𝐞𝐬𝐢?

Penyebab depresi sering digambarkan sebagai multifaktor dan tidak ada konsensus tentang penyebab tunggal. Semakin banyak peneliti menghubungkan depresi dengan faktor biologis seperti kerentanan genetik, dan bahwa onset sering dipicu oleh berbagai peristiwa kehidupan (Goldberg, 2006; Levinson, 2006). Sementara dokter lebih sering menjelaskan penyebab depresi dari perspektif biologis dan lebih menyarankan penggunaan obat antidepresan (Ogden dkk., 1999).

Juga ada penelitian yang menunjukkan persepsi publik lebih percaya bahwa depresi disebabkan oleh faktor sosial dan stres daripada karena faktor biologis (Jorm et al., 1997; Link dkk., 1999).

Berdasar analisis keyakinan pasien tentang penyebab depresi, terdapat 16 penyebab depresi, yang selanjutnya dikelomppokkan ke dalam tiga tema besar: stresor kehidupan saat ini, peristiwa kehidupan masa lalu, dan faktor konstitusional. Stres terkait pekerjaan adalah penyebab yang paling sering disebutkan, diikuti oleh kepribadian dan situasi keluarga saat ini. Hanya 3,6% yang menyatakan alasan biologis (Hansson dkk., 2009).

Yang dimaksud faktor konstitusional adalah kecenderungan fisiologis dasar yang diyakini berkontribusi pada kepribadian, temperamen, dan etiologi gangguan mental dan fisik tertentu.

𝐏𝐚𝐧𝐝𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐀𝐖𝐆𝐈?

Berdasar pengalaman saya dan hpnoterapis AWGI menangani klien-klien yang mengalami masalah emosi dan perilaku, kami menemukan fakta-fakta penting dan sampai pada satu pemahaman yang menjadi landasan teori yang digunakan sebagai dasar penciptaan protokol hipnoterapi AWGI dan praktik yang kami lakukan. 

Menurut teori AWGI, sejatinya setiap insan beroperasi dengan kondisi psikis seimbang. Masalah muncul saat keseimbangan sistem psikis mulai terganggu akibat keberadaan dan akumulasi emosi negatif dalam sistem. 

Emosi-emosi negatif ini bisa berasal dari kejadian apapun. Bisa dari kejadian di masa lalu, kejadian di masa kini, kejadian di masa depan, atau kejadian bermuatan emosi negatif yang sering diingat dan diceritakan ulang oleh individu (pseudo-SSE). 

Emosi-emosi negatif yang tidak dapat dinetralisir atau dikeluarkan dari sistem psikis individu, cepat atau lambat akan mengganggu keseimbangan dan kinerja sistem. Ini tercermin dari perubahan pola pikir, sikap, perilaku, dan suasana hati. 

Untuk memudahkan pemahaman, berikut ini saya jelaskan dengan sebuah analogi. Misal, energi sistem psikis maksimal adalah 100. Dan untuk beroperasi secara normal, sehat, nyaman, individu butuh ketersediaan suplai energi pada kisaran antara 80 hingga 100. 

Saat individu mengalami dan merasakan emosi negatif pada intensitas tertentu, energi dari emosi ini tidak serta merta bisa hilang atau mengalami disipasi. Ia perlu dinetralisir secara sadar. 

Bila tidak, ia, bersama emosi-emosi negatif lainnya dari berbagai kejadian yang pernah individu alami, akan terus terakumulasi di dalam sistem psikis individu. 

Masalah (mulai) muncul karena untuk bisa bertahan hidup, emosi-emosi ini butuh energi. Mereka akan mengambil energi dari sistem psikis invididu, dan mengakibatkan energi yang bisa digunakan oleh individu semakin hari semakin berkurang. 

Saat suplai energi yang bisa digunakan individu turun hingga di bawah ambang batas minimal, di bawah 80, kinerja individu mulai terganggu. Semakin rendah suplai energi yang bisa digunakan, semakin terganggu individu. 

Energi psikis yang harusnya tersedia untuk menjalankan diri secara nornal, kini tidak lagi cukup, karena telah digunakan oleh emosi negatif dalam dirinya. Kondisi ini mengakibatkan individu secara otomatis masuk dalam mode pasif.

Depresi, dalam teori ini, disebabkan oleh (sangat) minimnya suplai energi yang bisa digunakan oleh individu untuk bisa beroperasi secara normal dan optimal. 

Kami secara khusus menarget emosi-emosi negatif utama yang mengganggu keseimbangan sistem psikis klien. Untuk mencapai tujuan ini kami menggunakan hipnoanalisis yang dilanjut dengan rekonstruksi memori untuk resolusi kejadian traumatik. 

Setelah klien berhasil dibantu menghilangkan atau menetralisir berbagai emosi negatif, yang sebelumnya menyedot begitu banyak energi psikisnya, suplai energi yang dapat ia gunakan kini kembali ke kondisi normal. Ini otomatis diikuti dengan perubahan pola pikir, sikap, suasana hati, level energi, dst, kembali ke kondisi normal.

_PRINT   _SENDTOFRIEND

Upcoming Events
Counter
Online12
Hari ini441
Sepanjang masa9.081.403
1 Facebook
2 Youtube
3 Instagram
4 Quantum Morphic Field Relaxation
5 Asosiasi Hipnoterapi Klinis Indonesia
6 The Heart Technique