Hipnoterapis: Amatir dan Profesional

31 Juli 2016 13:46

Hingga saat ini pembahasan tentang hipnosis/hipnoterapi selalu menarik untuk disimak, khususnya bagi peminat, pemerhati, penggiat, dan praktisi hipnosis/hipnoterapi. Walau telah banyak pemikiran dan informasi tentang hipnosis dan hipnoterapi modern ditulis, dan telah didiseminasi melalui buku, artikel di media massa, dan terutama media sosial, hingga saat ini masih terdapat mispersepsi.

Artikel ini secara khusus mengulas pemahaman akan kondisi hipnosis yang umum diadopsi hipnoterapis pemula dan yang akhirnya dipahami secara benar serta menjadi landasan praktik oleh hipnoterapis profesional.

Ditinjau dari perspektif ini, hipnoterapis sejatinya terbagi ke dalam dua kelompok: amatir dan profesional. Hipnoterapis amatir berpegang pada pemahaman bahwa klien masuk kondisi trance akibat pengaruh atau hasil kerja hipnoterapis. Para amatir ini suka berburu atau menghapal teknik induksi. Dalam benak mereka, klien berada di bawah kendali atau pengaruh hipnoterapis. Untuk bisa menghipnosis klien, hipnoterapis perlu punya kekuatan atau energi yang lebih kuat daripada klien sehingga klien bisa ditundukkan. Mereka mengabaikan atau menyangkal bahwa makna interaksi interpersonal adalah jauh lebih penting dan berpengaruh dan menentukan jenis serta tingkat respon hipnotik klien (Watkins, 1992).

Hipnoterapis amatir juga sangat terpaku pada tipe dan uji sugestibilitas. Dalam dunia hipnoterapi dikenal klien dengan sugestibilitas tinggi dan rendah. Juga terdapat pengelompokkan sugestibilitas fisik dan emosi (Kappas, 1999). Yang dimaksud dengan sugestibilitas fisik adalah perilaku bercirikan respon derajat tinggi terhadap sugesti literal (langsung) yang memengaruhi tubuh dan respon emosi. Sementara sugestibilitas emosi bercirikan respon derajat tinggi terhadap sugesti tak langsung yang memengaruhi emosi dan respon tubuh.

Dari penelitian ditemukan bahwa 60% populasi bersifat sugestibilitas emosi dan 40% sugestibilitas fisik. Dan terdapat satu subkelompok dari sugestibilitas emosi yaitu sugestibilitas intelektual dengan jumlah 5% (Kappas, 1999, 2001). Subkelompok ini adalah tipe analitikal, kritis, suka menganalisis apapun yang dikatakan hipnoterapis, sulit melepas kendali atas diri dan pikirannya sendiri, pikiran mereka sangat aktif (Gunawan, 2012). Tipe ini paling dihindari oleh kebanyakan hipnoterapis amatir karena, menurut mereka, (sangat) sulit dihipnosis. Hipnoterapi amatir, saat tidak mampu menghipnosis klien, biasanya beralasan klien klien masuk kategori tidak bisa dihipnosis.

Hipnoterapis amatir juga berpikir bahwa hipnosis per se adalah terapi atau bersifat terapeutik. Pada kenyataannya, hipnosis adalah kondisi kesadaran spesifik dan bila berdiri sendiri bersifat nonterapeutik. Hipnosis menjadi terapeutik bila ia digabungkan dengan modalitas terapi lain. Dengan demikian, hipnosis bersifat fasilitatif, mampu meningkatkan keefektifan dan keberhasilan terapi, namun pada dirinya sendiri hipnosis tidak bersifat rekonstruktif dan rehabilitatif.

Dua meta-analisa menunjukkan bahwa penggunaan hipnosis, dalam konteks ini hipnosis sebagai kondisi kesadaran spesifik, bukan teknik, secara substansial meningkatkan hasil pengobatan. Rata-rata klien yang menerima terapi kognitif-perilaku dengan hipnosis menunjukkan peningkatan positif kondisi minimal 70% lebih tinggi dibanding klien penerima pengobatan yang sama tanpa hipnosis (Kirsch, Montgomery, dan Sapirstein, 1995; Kirsch, 1996).

Pemahaman hipnoterapis profesional tentang hipnosis tentu berbeda dengan hipnoterapis amatir. Hipnoterapis profesional tidak bekerja dengan pendekatan “kebetulan” atau sepenuhnya pasrah pada keadaan. Ia melakukan segala sesuatunya secara sadar, sistematis, dengan pengetahuan mendalam tentang apa dan mengapa ia melakukan yang ia lakukan, dan target terapeutik yang jelas.

Hipnoterapis profesional memahami hipnosis sebagai kondisi kesadaran khusus (altered state of consciousness), di mana kemampuan normal tertentu dalam diri individu meningkat dan yang lain memudar ke latar belakang. Lebih dari 90% populasi berkemampuan masuk ke kondisi hipnosis dengan bimbingan yang tepat. Hipnosis adalah kondisi alamiah yang sering klien masuki, tanpa disadari, dalam keseharian.

Hipnosis bukan kondisi yang muncul karena terapis melakukan sesuatu pada klien. Terapis hanya berperan sebagai penuntun, penunjuk jalan klien masuk ke kondisi hipnosis dengan memberdayakan kemampuan yang telah ada dalam diri setiap kliennya. Terapis memandang klien sebagai rekan kerja, bukan pasien atau individu yang sakit dan bermasalah. Dan yang juga sangat penting, hipnoterapis profesional sadar sepenuhnya bahwa yang menyembuhkan klien bukan terapis namun klien sendiri. Terapis hanya sebagai fasilitator.  

Hipnoterapis profesional paham akan sugestibilitas namun tidak merasa uji sugestibilitas adalah keharusan. Ia juga tahu, dari pengalaman klinisnya, bahwa klien dengan sugestibilitas emosi dan intelektual justru sangat mudah dibimbing masuk ke kondisi hipnosis yang dalam. Dan ia juga menyadari sejatinya semua klien bisa masuk kondisi hipnosis dengan tuntunan yang tepat.

Walau tidak melakukan uji sugestibilitas, hipnoterapis profesional menyadari adalah sangat penting memastikan klien berhasil dibimbing masuk ke kedalaman spesifik yang sesuai dengan teknik yang akan digunakan, dan secara terstruktur sistematis mengupayakan klien tetap berada di kedalaman ini hingga proses terapi tuntas dilakukan.

Istilah altered state of consciousness pertama kali dikemukakan oleh Ludwig (1966) saat ia menulis artikel dengan judul yang sama dan dipublikasi di jurnal Archives of General Psychiatry. Ludwig mendefinisikan ASC sebagai:

… any mental state(s), induced by various physiological, psychological, or pharmacological maneuvers or agents, which can be recognized subjectively by the individual himself (or by an objective observer of the individual) as representing sufficient deviation in subjective experience of psychological functioning from certain general norms for that individual during alert, waking consciousness (p. 225).

Meminjam definisi Ludwig (1966) di atas dan melakukan elaborasi lanjutan, Tart (1972) mendefinisikan altered state of consciousness sebagai suatu konfigurasi subsistem dari struktur psikologis dengan pola unik, dinamis,  dan aktif. Struktur psikologis merujuk pada organisasi komponen bagian yang relatif stabil yang menjalankan satu atau lebih fungsi psikologis. 

Hipnosis adalah kondisi kesadaran spesifik yang sangat dipengaruhi faktor relasional. Interdependen keadaan hipnosis pada kualitas dan intensitas relasi interpersonal antara terapis dan klien pertama kali dikenali dan dinyatakan oleh M.V. Kline dalam bukunya Freud and Hypnosis (1958). Ia menyimpulkan bahwa relasi hipnotik tidak bersifat konstan, namun terdapat keajegan kondisi trance. Kondisi trance dipandang sebagai reorientasi bersifat sangat mendasar dan fundamental dalam relasi perseptual dan objek.

Hipnosis ada secara kuantitatif pada ragam derajat dan perbedaan kedalaman tertentu, dan secara kualitatif dalam bentuk berbeda bergantung keunikan relasi antara dua pihak, terapis dan klien, baik sebelum induksi, saat induksi, dan saat interaksi terapaeutik nonhipnotik.

Dengan demikian, kualitas kondisi hipnosis, meliputi baik aspek kuantitatif maupun kualitatif. Kondisi hipnosis yang dialami klien A, hasil induksi terapis B, tidak sama bila induksi dilakukan oleh terapis C. Demikian pula kondisi hipnosis pada klien A dan D hasil induksi terapis C berbeda bila dilakukan oleh terapis B pada satu waktu atau waktu berbeda (Barabasz & Waktins, 2005).

Hipnosis tidak dapat dianggap sebagai kondisi tunggal tanpa mempertimbangkan relasi saat ia terjadi. Dengan demikian hipnosis adalah kondisi dan juga relasi. Sebagai kondisi, hipnosis bercirikan berkurangnya kekritisan, pelepasan kendali, keterbukaan akses pada konten emosi, regresi perilaku menyerupai pola anak kecil, dan aktifnya proses berpikir primer. 

Dalam konteks teknik terapi yang dikuasai hipnoterapis, untuk bisa membedakan hipnoterapis amatir dan profesional, sangatlah menarik menyimak pernyataan Kein (2001) yang secara tegas menyatakan, “Profesionalisme Anda turut ditentukan oleh jumlah dan ragam teknik yang ada dalam kotak peralatan teknik Anda.”

_PRINT   _SENDTOFRIEND

Upcoming Events
Counter
Online8
Hari ini1.131
Minggu ini6.564
Bulan ini54.021
Bulan lalu79.406
03 Facebook
04 @adiwgunawan
05 Instagram
05 Tell Friends