Menjadi Praktisi Hipnoterapi Kompeten, Tidak Mudah !!

10 Mei 2019 22:18

Di Indonesia, dalam konteks praktik hipnoterapi profesional, sejatinya hanya ada dua tipe praktisi: hipnoterapis dan hipnoterapis klinis. Yang dimaksud dengan hipnoterapis adalah mereka yang dalam praktik hipnoterapinya lebih mengandalkan sugesti untuk mencapai tujuan terapeutik, tanpa memroses akar masalah penyebab simtom. Sementara hipnoterapis klinis adalah praktisi hipnoterapi yang mengutamakan pencarian akar masalah penyebab simtom, menggunakan teknik hipnoanalisis, dan memroses tuntas akar masalah ini. Sementara yang dimaksud dengan profesional adalah memiliki kompetensi atau keterampilan tinggi, sebagai seorang profesional di bidang kerjanya, bukan amatir.

Kedua pendekatan ini, hipnoterapi berbasis sugesti dan hipnoterapi berbasis hipnoanalisis, memiliki kelebihan dan keterbatasannya masing-masing. Untuk bisa menjadi hipnoterapis dan hipnoterapis klinis kompeten, mampu membantu klien mengatasi masalah, butuh pendidikan dan pelatihan dengan standar kompetensi yang jelas, kurikulum yang sesuai dengan tujuan pelatihan, dan tentu pengajar yang adalah praktisi aktif, berpengalaman, cakap, dan bimbingan berkelanjutan.

 

Wawancara

Keberhasilan dalam setiap proses hipnoterapi selalu melibatkan dua pihak, klien dan terapis. Klien harus siap (ready) dan bersedia (willing) untuk dibantu dan bekerjasama dengan terapis. Sementara terapis perlu melakukan upaya maksimal, dalam batas kemampuan, kecakapan, pengetahuan, dan pengalaman profesionalnya membantu klien mengatasi masalahnya. Dalam setiap proses terapi tidak ada jaminan kesembuhan, karena terapi adalah kontrak upaya, bukan kontrak hasil.
Hipnoterapi, baik itu berbasis sugesti atau berbasis hipnoanalisis, selalu diawali dengan wawancara mendalam agar diperoleh gambaran utuh tentang masalah klien. Berdasar informasi yang diperoleh dari proses wawancara ini, baik hipnoterapis atau hipnoterapis klinis menentukan strategi terapi yang dilakukan untuk membantu klien mengatasi masalahnya.
Proses wawancara bukan sekedar tanya jawab, namun bertujuan sangat spesifik. Terapis aktif melakukan penelisikan dan membantu klien untuk memformulasikan masalahnya. Ini adalah faktor penentu 85% keberhasilan terapi dan membutuhkan keterampilan tersendiri.

Induksi

Sesuai namanya, hipnoterapi, terdiri dari dua kata: hipnosis dan terapi. Dengan demikian, setiap hipnoterapi pasti dilakukan dalam kondisi hipnosis. Kedalaman kondisi hipnosis yang menjadi syarat untuk dilakukan terapi yang efektif sepenuhnya bergantung pada teknik yang digunakan.

Untuk hipnoterapis, yang menggunakan sugesti verbal, semakin dalam kondisi hipnosis yang dicapai oleh klien, semakin baik, karena fungsi kritis analitis pikiran sadar, yang bisa menghambat penerimaan sugesti oleh pikiran bawah sadar, sangat menurun. Dengan demikian, kondisi ini meningkatkan kemungkinan penerimaan sugesti oleh pikiran bawah sadar klien. Bahkan, bila memungkinkan, sugesti verbal diberikan dalam kondisi kedalaman ekstrim.

Bila sugesti yang diberikan adalah berbentuk sugesti visual, klien tidak boleh masuk terlalu dalam. Bila klien masuk ke kondisi hipnosis sangat dalam maka fungsi imajinasinya menjadi terhalang, tidak bisa muncul gambar mental karena dominasi gelombang delta.

Untuk hipnoterapis klinis, yang menggunakan hipnoanalisis guna menemukan akar masalah dan memroses tuntas akar masalah ini, kedalaman hipnosis yang disarankan untuk dicapai oleh klien, dengan induksi, adalah profound somnambulism. Bila klien masuk lebih dalam lagi atau terlalu dalam, pikiran klien menjadi begitu rileks sehingga tidak mampu mengikuti arahan terapis. Dengan demikian, teknik-teknik intervensi yang sedianya digunakan untuk melakukan koreksi atas kejadian penyebab masalah klien tidak bisa berjalan dengan semestinya. Ini sangat menghambat proses terapi.

Seperti yang telah dijelaskan di atas, untuk melakukan hipnoterapi, terapis harus mampu menuntun klien masuk ke kedalaman hipnosis yang sesuai dengan teknik yang digunakan. Di sini sering dijumpai hipnoterapis atau hipnoterapis klinis tidak cakap dalam menuntun klien mencapai kedalaman hipnosis dimaksud.

Kendala ini terjadi karena beberapa kemungkinan. Pertama, hipnoterapis dan hipnoterapis klinis tidak cakap dalam melakukan induksi karena tidak terlatih dengan baik.

Kedua, teknik induksi yang digunakan tidak sesuai dengan tipe sugestibilitas klien. Umumnya, teknik induksi yang digunakan lebih sesuai untuk klien bertipe sugestibilitas fisik. Banyak hipnoterapis dan hipnoterapis klinis menghindari klien bertipe sugestibilitas emosi karena sulit sekali diinduksi akibat pikiran klien yang cenderung (sangat) kritis dan analitis. Biasanya, bila klien tidak berhasil diinduksi, terapis beralasan klien masuk kategori tidak bisa diinduksi. Ini adalah satu alasan tidak rasional, tidak ilmiah, dan bertujuan menutupi inkompentensi dan malu terapis.

Ketiga, tidak ada uji kedalaman pada teknik induksi yang digunakan sehingga terapis tidak tahu secara presisi kedalaman hipnosis yang telah berhasil dicapai klien.


Terapi oleh Hipnoterapis

Untuk hipnoterapis, bila berhasil menuntun klien masuk ke kedalaman hipnosis yang disyaratkan untuk pemberian sugesti, baik sugesti verbal atau visual, ini baru langkah awal dari proses terapi. Pemberian sugesti tidak serta merta diikuti dengan hasil terapeutik positif seperti yang diharapkan.

Ada dua hal sangat penting yang sering hipnoterapis abai. Mereka abai karena memang tidak tahu, karena tidak mendapat penjelasan mendalam tentang hal ini saat mengikuti pelatihan.

Pertama, sugesti yang diberikan kepada klien, dalam kondisi hipnosis, sebaiknya disusun tidak pada saat terapi sedang berlangsung. Ini sangat riskan karena hipnoterapis bisa salah dalam memilih diksi atau tidak akurat dalam urutan kalimat. Sugesti harus disiapkan dengan cermat, hati-hati, mengikuti aturan baku penyusunan sugesti berdasarkan hukum yang mengatur kerja pikiran bawah sadar.

Kedua, saat sugesti telah diterima oleh pikiran bawah sadar, tidak berarti proses terapi telah tuntas dan pasti berhasil. Masih ada satu tahap lagi yang hampir tidak pernah diperhatikan oleh mayoritas hipnoterapis, yaitu validasi derajat penerimaan sugesti oleh pikiran bawah sadar.

Hipnoterapis yang kompeten dan cermat pasti akan melakukan pemeriksaan untuk mencaritahu apakah pikiran bawah sadar klien sepenuhnya menerima dan bersedia menjalankan sugesti, atau ada penolakan dari pikiran bawah sadar.

Hipnoterapis yang kompeten dan cermat mampu mengukur derajat penolakan pikiran bawah sadar klien terhadap sugesti yang telah diberikan dan mampu segera menetralisir penolakan ini, dengan teknik yang tepat.

Untuk itu, dalam pendidikan dan pelatihan hipnoterapis yang baik, kegiatan berlatih menuntun klien masuk ke kondisi hipnosis dalam, dan berlatih menyusun skrip untuk berbagai kasus, tentu dengan supervisi pengajar, harus mendapat alokasi waktu yang cukup.

 Dari berbagai sumber yang sempat diwawancarai, baik hipnoterapis maupun klien hipnoterapi, langkah terapi yang dilakukan hipnoterapis adalah sebagai berikut:

  • Melakukan wawancara pada klien dengan durasi antara 10 menit hingga 30 menit
  • Melakukan induksi, umumnya dengan teknik relaksasi progresif atau fiksasi mata, tanpa melakukan uji kedalaman.
  • Memberi sugesti, bisa berupa sugesti verbal atau visual, menggunakan skrip yang disusun di tempat, saat proses terapi berlangsung. Sugesti biasanya dilakukan beberapa kali dengan harapan bisa masuk dan diterima pikiran bawah sadar klien. Terapis tidak melakukan pengecekan apakah sugesti diterima atau ditolak oleh pikiran bawah sadar
  • Mengakhiri terapi dengan membawa klien keluar dari kondisi hipnosis ke sadar normal dan berharap klien sembuh.
Proses terapi seperti ini jarang bisa memberi hasil terapeutik seperti yang diharapkan. Bila terjadi perubahan positif pada klien, biasanya bersifat sementara, dan akhirnya klien kambuh.

Terapi oleh Hipnoterapis Klinis

Berbeda dengan hipnoterapis yang hanya memberi sugesti ke pikiran bawah sadar klien, hipnoterapis klinis melakukan upaya lebih intensif dan kompleks dalam membantu klien mengatasi masalah.

Hipnoterapis klinis menggunakan teknik hipnoanalisis untuk mencari dan menemukan akar masalah yaitu kejadian paling awal yang menjadi penyebab masalah. Ada tiga teknik untuk mencari akar masalah: regresi berbasis afek, regresi berbasis nonafek, dan regresi berbasis Ego Personality.

Mencari dan menemukan akar masalah adalah satu hal. Memroses tuntas akar masalah adalah hal berbeda. Ini adalah dua keterampilan yang berbeda namun saling terkait erat.

Kendala yang kerap dialami hipnoterapis klinis adalah menemukan akar masalah yang sesungguhnya. Ini sangat krusial karena bila kejadian paling awal ini tidak berhasil ditemukan dan diproses tuntas, biasanya klien pasti kambuh.

Proses mencari dan menemukan akar masalah menuntut keterampilan tinggi dari pihak terapis, baik dalam menuntun klien mundur ke masa lalu, memeriksa dan memastikan kejadian yang terungkap adalah benar kejadian paling awal, memroses kejadian ini dengan benar tanpa mengakibatkan trauma baru pada klien, melakukan pengecekan hasil terapi, memeriksa apakah ada penolakan dari pikiran bawah sadar atau tidak, dan bila ada, terapis perlu segera mengatasi penolakan ini. Setelahnya, hipnoterapis membimbing klien keluar dari kondisi hipnosis, kembali ke kesadaran normal.

Proses terapi yang dilakukan hipnoterapis klinis bisa berlangsung antara minimal 2 jam hingga 5 jam setiap sesi. Dalam satu proses terapi bisa terjadi dua kemungkinan: masalah klien berhasil tuntas diatasi atau masih belum tuntas. Bila belum tuntas, terapi dilanjutkan di sesi berikutnya.

Proses melakukan regresi untuk mencari akar masalah bukan pekerjaan mudah. Hipnoterapis klinis selain harus menguasai benar teknik regresi, ia juga harus benar-benar cermat dalam berbahasa, baik saat memberi arahan pada klien maupun saat mendengar kata-kata yang diucapkan klien menjawab pertanyaan terapis atau menceritakan apa yang klien alami.

Ketidakcermatan dalam memilih kata, salah dalam tekanan suara saat menyampaikan pesan ke pikiran bawah sadar klien, tidak cermat dalam melakukan analisis kata-kata yang diucapkan klien, atau tidak cermat dalam bertanya mengakibatkan arah regresi berubah sehingga pikiran bawah sadar mengungkap data yang tidak sesuai dengan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah klien.

Dalam proses pendidikan menjadi hipnoterapis klinis berkompetensi tinggi sesuai standar AWGI, umumnya para peserta SECH baru bisa mencapai standar minimal setelah melakukan lima terapi. Proses belajarnya sangat intens karena mereka dibimbing satu demi satu. Setiap usai melakukan terapi, peserta SECH harus membuat laporan kasus detil. Laporan kasus ini dibaca, dipelajari, diberi komentar, komentar, masukan, dan saran sehingga mereka beroleh tambahan pengetahuan, pemahaman, dan pengalaman untuk digunakan pada terapi berikutnya. Ada beberapa yang baru bisa mencapai standar kompetensi minimal yang disyaratkan AWGI, untuk menjadi hipnoterapis klinis kompeten, setelah melakukan delapan terapi tersupervisi.

Simpulan

Untuk menjadi praktisi hipnoterapi profesional, baik sebagai hipnoterapis yang mengandalkan sugesti maupun hipnoterapis klinis yang mengutamakan pencarian dan penyelesaian akar masalah, butuh proses panjang, upaya serius, dan dedikasi tinggi. Ini tidak bisa dicapai hanya dengan pelatihan berdurasi satu hari, dua hari, atau sepuluh hari. Ini adalah proses bertumbuh belajar dan bertumbuh sepanjang hayat.

Sertifikat yang didapat usai mengikuti pelatihan adalah selembar kertas berisi pernyataan kesertaan, bukan kompetensi. Demikian pula gelar yang diletakkan di belakang nama bukan indikator kompetensi praktisi hipnoterapi.

Demikianlah adanya...

Demikianlah kenyataannya...

_PRINT   _SENDTOFRIEND

Upcoming Events
Counter
Online24
Hari ini1.493
Minggu ini12.232
Bulan ini59.726
Bulan lalu68.687
03 Facebook
04 @adiwgunawan
05 Instagram
05 Tell Friends