Relevansi Uji Sugestibilitas dan Induksi Kejut dalam Hipnoterapi

18 Mei 2019 12:09

Syarat utama suatu terapi dikategorikan sebagai hipnoterapi adalah ia harus dilakukan dalam kondisi hipnosis. Definisi hipnosis menurut Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology adalah kondisi kesadaran bercirikan pikiran sadar rileks, fungsi kritis analitis menurun, fokus meningkat, sehingga individu menjadi responsif terhadap informasi atau sugesti yang disampaikan kepada pikiran bawah sadarnya.

Ada empat cara untuk menghasilkan kondisi hipnosis: autohipnosis, swahipnosis, heterohipnosis, dan parahipnosis. Autohipnosis adalah kondisi hipnosis yang terjadi secara spontan, alamiah, tanpa disadari individu. Swahipnosis adalah kondisi hipnosis yang terjadi sebagai hasil dari upaya sadar individu melakukan hipnosis pada dirinya sendiri. Heterohipnosis adalah kondisi hipnosis yang muncul dalam diri subjek sebagai hasil dari upaya sadar yang dilakukan operator pada subjek. Dan parahipnosis adalah kondisi hipnosis yang tercipta karena pengaruh obat.

Sugestibilitas, secara sederhana, bermakna kecenderungan seseorang menerima dan menjalankan sugesti yang diberikan padanya. Terdapat tiga jenis sugestibilitas, sugestibilitas fisik (physical suggestibility) dan sugestibilitas emosi (emotional suggestibility), dan sugestibilitas intelektual (intellectual suggestibility). Populasi bersugestibilitas fisik sebesar 40%, bersugestibilitas emosi sebesar 60%. Sementara populasi bersugestibilitas intelektual sebesar 5% dari sugestibilitas emosi. Somnambulis adalah orang yang bersugestibilitas fisik 50%, dan bersugetibilitas emosi 50% (Kappas, 1978).

Hipnoterapis, umumnya, melakukan uji sugestibilitas sebelum melakukan induksi. Uji sugestibilitas yang sering digunakan adalah uji lengan berat dan ringan (heavy and light arm test), uji tangan atau jari lengket, membayangkan minum air jeruk, dan uji postural sway.

Dari pengalaman klinis, ditemukan bahwa uji sugestibilitas lebih banyak gagal daripada berhasil dan sering membuat hipnoterapis menjadi tidak percaya diri. Uji sugestibilitas yang disebut di atas ternyata lebih sesuai untuk klien-klien bersugestibilitas fisik (40%) dan tidak akan mendapat respon dari klien-klien bersugetibilitas emosi (60%), dan terutama dari klien-klien bersugestibilitas intelektual (5% dari ES). Dengan demikian, secara statistik, probabilitas keberhasilan uji sugestibilitas hanya 40%.

Saat uji sugestibilitas yang hipnoterapis lakukan pada klien, sebelum melakukan induksi, tidak bekerja seperti yang diharapkan, karena ternyata kliennya bersugestibilitas emosi atau intelektual, hipnoterapis menjadi ragu apakah mereka mampu menginduksi dan menuntun klien masuk ke kondisi hipnosis. Keraguan ini diperkuat dengan minimnya teknik-teknik induksi yang dikuasai dengan baik oleh hipnoterapis, yang dapat digunakan sesuai tipe sugestibilitas klien. Akibatnya, banyak hipnoterapis mengalami kegagalan saat mencoba menginduksi klien. Dan mereka berkilah klien tidak bisa dihipnosis karena klien masuk kategori orang yang tidak bisa dihipnosis.

Ada dua hal penting dalam proses yang baru dijelaskan di atas. Pertama, hipnoterapis melepas tanggung-jawab atas kegagalan induksi dan menempatkan klien sebagai penyebab kegagalan. Kedua, kegagalan dalam melakukan induksi, bila terus berulang, mengakibatkan hipnoterapis kehilangan rasa percaya diri dan akhirnya berhenti menjadi hipnoterapis. Biasanya hanya dibutuhkan antara lima hingga sepuluh kegagalan induksi untuk membuat hipnoterapis pemula berhenti praktik hipnoterapi. Ini belum termasuk kegagalan mereka dalam melakukan terapi. Hipnoterapis, umumnya, sangat menghindari klien-klien bersugestibilitas emosi dan, terutama, intelektual karena, menurut mereka, tidak bisa dihipnosis.

Salah satu upaya untuk mengatasi kendala menginduksi klien yang sulit, klien bersugestibilitas emosi dan intelektual, hipnoterapis memilih menggunakan induksi kejut (shock induction). Induksi kejut merupakan varian dari heterohipnosis, dan sesuai namanya, adalah induksi yang dilakukan dengan memberi kejutan, terutama melalui fisik, sehingga klien kaget, dan diikuti dengan pemberian sugesti dalam bentuk perintah yang tegas dan keras oleh hipnoterapis kepada pikiran bawah sadar (PBS) klien untuk masuk kondisi hipnosis.

Induksi ini memanfaatkan menurunnya, secara tiba-tiba, fungsi kritis analitis pikiran sadar akibat kejutan yang dialami klien, yang berlangsung sekitar 0,5 - 3/4 detik, dan pada saat inilah hipnoterapis memberi perintah ke PBS untuk "tidur". Induksi kejut sulit membawa klien bersugestibilitas emosi dan intelektual untuk masuk kondisi hipnosis.

Uji sugestibilitas dan induksi kejut, menurut hemat saya, lebih tepat digunakan untuk hipnosis hiburan (stage hypnosis) dan tidak untuk hipnoterapi karena alasan berikut:

1. Uji sugestibilitas bukan indikator kemampuan individu masuk kondisi hipnosis. Faktor utama yang memengaruhi kemampuan dan kecepatan klien tipe apa saja, baik itu bersugestibilitas fisik, emosi, atau intelektual untuk masuk kondisi hipnosis adalah rasa aman, kesediaan (readiness) dan kesiapan (willingness) klien untuk menjalani terapi. Dengan kata lain, kemampuan klien masuk kondisi hipnosis berbanding lurus dengan motivasinya. Teknik induksi hanyalah alat bantu, bukan yang utama.

Ekstraksi pengalaman klinis para hipnoterapis AWGI dan anggota AHKI (Asosiasi Hipnoterapi Klinis Indonesia) menyatakan bahwa klien akan masuk (kondisi hipnosis) sedalam yang ia butuhkan untuk menyelesaikan masalahnya dan bertahan sedangkal mungkin untuk menjaga keselamatannya.

2. Induksi kejut bersifat agresif dan mendominasi, dan harus dipraktikkan dengan hati-hati sekali. Hipnoterapis yang akan menggunakan induksi kejut, di ruang praktik, harus benar-benar cakap dan terampil guna menghindari cidera fisik pada klien.

Induksi kejut tidak tepat bila digunakan pada klien dengan otoritas lebih tinggi daripada terapis. Induksi kejut juga tidak tepat digunakan pada klien yang memiliki masalah dengan figur otoritas, karena klien bisa merasa tidak nyaman dan merasa terintimidasi. Hipnoterapis wanita umumnya tidak nyaman menggunakan induksi kejut karena menilainya sebagai terlalu agresif dan bertentangan dengan kepribadian mereka.

Kondisi hipnosis per se tidak bersifat terapeutik. Kondisi hipnosis hanya faktor pendukung yang memfasilitasi akses ke pikiran bawah sadar. Hipnoterapis kompeten dinilai dari hasil terapi yang ia lakukan, bukan dari kemampuannya melakukan uji sugestibilitas dan induksi.

_PRINT   _SENDTOFRIEND

Upcoming Events
Counter
Online5
Hari ini20
Minggu ini6.051
Bulan ini31.951
Bulan lalu73.407
03 Facebook
04 @adiwgunawan
05 Instagram
05 Tell Friends