TEKNIK TERAPI ABAL-ABAL

5 Mei 2019 15:06

Artikel ini ditulis dengan tujuan edukasi publik dan memberi pemahaman yang benar terkait proses dan teknik terapi, khususnya penanganan masalah perilaku dan emosi. 

Saya pernah menulis artikel membahas teknik terapi yang diklaim sangat efektif dan sangat cepat menyembuhkan masalah klien. Saking cepatnya, pengajar atau terapisnya, dalam publikasinya, mengatakan bahwa teknik terapinya mampu menyembuhkan klien hanya dalam sekejap atau sekedipan mata, adalah teknik pamungkas, lebih dahsyat daripada teknik terapi apapun yang pernah ada, termasuk hipnoterapi. Wow... sungguh hebat dan dahsyat. Namun, apakah benar seperti ini realitanya?

Sejatinya, penanganan masalah perilaku dan emosi hanya terbagi menjadi dua: menggunakan obat dan tanpa obat. Terapi menggunakan obat atau dikenal dengan farmakoterapi hanya boleh dilakukan oleh dokter atau psikiater. 

Terapi tanpa obat dilakukan dengan berbagai cara atau pendekatan, dan terbagi menjadi dua: tanpa memroses akar masalah dan memroses akar masalah. 

Teknik Terapi Tanpa Memroses Akar Masalah

Ada sangat banyak cara atau teknik yang digunakan dalam upaya mengatasi masalah tanpa perlu memroses akar masalah, antara lain: doa, konseling, meditasi konsentrasi, rileksasi, curhat, pemberian sugesti, hipnoterapi berbasis sugesti, pengalihan, menekan/represi, kelompok pendukung (support group), ikhlas dan pasrah, meningkatkan kesadaran diri, teknik-teknik berbasis metafora, mengalami abreaksi, terapi berbasis energi, atau teknik berbasis supranatural. 

Demikian pula pendekatan terapi dalam psikoterapi seperti terapi kognitif perilaku atau CBT (Cognitive Behavioral Therapy) yang bertujuan membantu melatih cara berpikir atau fungsi kognitif dan cara bertindak (behavior) seseorang dalam mengatasi masalahnya. 

Teknik-teknik dalam NLP (neurolinguistic programming) juga tidak memroses akar masalah, yang dalam terminologi NLP disebut bebas konten (content-free), antara lain swish pattern, visual squash, reverse trigger, pengubahan submodalitas (submodality change), fast phobia cure, collapsing anchor, dan six step reframming, dan yang lain. 

Teknik Terapi Memroses Akar Masalah

Salah satu modalitas terapi yang secara khusus mengatasi masalah perilaku dan emosi dengan memroses akar masalah adalah hipnoterapi berbasis hipnoanalisis. Hipnoterapi ini membutuhkan waktu antara 2 - 4 jam untuk satu sesi terapi. 

Proses hipnoterapi ini selalu diawali dengan wawancara mendalam yang dilakukan terapis pada klien, dilanjutkan dengan menuntun klien masuk ke kedalaman hipnosis tertentu, melakukan pencarian akar masalah, memroses tuntas akar masalah, melakukan uji hasil terapi, pengecekan final, dan pengakhiran terapi. 

Ukuran Keefektifan

Terlepas dari apapun pendekatan, cara, strategi, atau teknik dan lama waktu yang dibutuhkan untuk menerapi, yang sudah tentu semua bertujuan baik adanya, satu hal paling penting adalah soal keefektifan. 

Teknik terapi dinyatakan efektif bila minimal memenuhi dua syarat berikut:

1. Hasil terapi bersifat segera. Klien langsung dapat merasakan perubahan positif dalam dirinya pascaterapi. Perubahan ini tidak berarti, walau tentu akan sangat baik bila, masalah klien berhasil disembuhkan tuntas hanya dalam satu sesi. Yang penting adalah klien mengalami perubahan positif signifikan. 

2. Perubahan positif ini tidak bersifat sementara (temporer) namun stabil dan bertahan dalam waktu lama. Kestabilan ini hanya diketahui dengan terapis melakukan tindak-lanjut (follow up) menanyakan perkembangan klien dalam rentang waktu satu minggu, dua minggu, dan satu bulan pascaterapi. 

Teknik Terapi Abal-Abal

Saya banyak menemukan klaim dari terapis atau pengajar, baik di seminar, workshop, atau di flyer yang menyatakan bahwa teknik yang mereka ajarkan dapat langsung menyembuhkan klien, saat itu juga. 

Klaim ini perlu disikapi dengan pikiran terbuka dan tetap kritis. Bila memang apa yang dinyatakan oleh terapis atau pengajar ini adalah hal yang benar maka kita sangat perlu belajar tekniknya karena sangat bermanfaat.

Di sisi lain, kita perlu bersikap kritis dengan menanyakan beberapa hal berikut:

1. Apa saja kasus yang telah berhasil ia tangani dan sembuhkan menggunakan teknik ini? Ini bisa juga kita cek dengan memantau media sosial atau situs resminya. 

2. Berapa persen tingkat keberhasilannya?

3. Apakah ia melakukan tindak-lanjut dengan mengecek perkembangan klien pascaterapi? 

4. Bila ya, berapa lama kesembuhan yang terjadi pada klien bisa bertahan? 

5. Apakah ia bersedia mendemonstrasikan keefektifan teknik terapinya dengan melakukan live therapy menangani klien di depan kelas, dan berani memberi jaminan bahwa klien ini pasti bisa ia sembuhkan? 

Bila terapis atau pengajar hanya mengklaim tekniknya efektif berdasar kasus klien yang ia tangani, saat demo atau praktik di depan kelas, maka ini tidak valid. 

Mengapa tidak valid? Saya akan terangkan dari perspektif teori Ego Personality. Manusia bukan entitas tunggal. Di dalam diri kita ada Bagian Diri atau Ego Personality (EP) yang memiliki peran dan fungsinya masing-masing.

Saat klien bermasalah, ini tidak berarti semua dirinya bermasalah. Klien bermasalah karena ada EP bermasalah, aktif mengendalikan diri klien. 

Saat klien diminta maju ke depan kelas untuk demo, bisa jadi EP bermasalah ini mundur ke latar belakang, tidak aktif. Bila ini yang terjadi, klien seolah sembuh. Apakah ini karena teknik terapi yang digunakan oleh terapis atau pengajar? Jawabannya, may... may be yes... may be no. Bisa juga klien pura-pura sembuh karena kasihan pada terapis, agar tidak malu karena gagal menerapi dirinya di depan kelas. 

Bila klien "sembuh" karena terjadi pergeseran EP, saat ia diterapi di depan kelas, maka saat klien kembali ke rumah, EP ini pasti akan aktif lagi dan masalah klien kembali muncul. 

Dengan demikian, satu-satunya cara untuk memastikan bahwa klien benar telah sembuh adalah dengan menggunakan waktu sebagai alat ujinya, untuk mengukur dan menentukan tingkat kestabilan kesembuhan pascaterapi. Dan ini sangat jarang ditanyakan peserta pelatihan kepada pengajar. 

Beberapa waktu lalu saya dihubungi hipnoterapis Singapore yang mengaku bisa menyembuhkan klien-kliennya yang sudah kritis, di rumah sakit, karena sakit berat seperti kanker. Hebatnya, ia mengklaim hanya butuh satu sesi untuk menyembuhkan klien-kliennya. 

Ia juga mengklaim bisa menyembukan beragam penyakit yang secara medis sangat sulit atau tidak bisa disembuhkan, menggunakan hipnoterapi. Bagian Diri saya yang pembelajar tentu sangat antusias mendapat kabar luar biasa ini. Saya sangat haus ilmu. Bila benar ia mampu melakukan yang ia sampaikan pada saya, saya tidak segan berangkat ke Singapore untuk berguru dan belajar padanya, walau dengan investasi yang sangat tinggi sekalipun. 

Namun, Bagian Diri saya yang akademisi dan ilmuwan, tetap mengutamakan pemikiran kritis dan logis. Saya bertanya tentang landasan teori dari teknik yang ia gunakan, bagaimana ia melakukan hipnoterapinya, tingkat keberhasilannya. Sayangnya, ia tidak bisa memberi saya jawaban yang memuaskan. 

Bila ia tidak bisa menjelaskan landasan teorinya, saya masih bisa maklum. Tidak semua fenomena bisa dijelaskan segera karena kurangnya penelitian di bidang ini atau belum ada teori yang sahih. Saya lebih mementingkan bukti empiris. 

Namun saat saya minta bukti hasil pemeriksaaan laboratorium yang klien-kliennya jalani sebelum dan sesudah terapi, ia sama sekali tidak bisa memberi satupun data yang saya minta. 

Teknik terapi yang tidak berhasil melewati dua syarat minimal di atas, menurut hemat saya, adalah teknik terapi abal-abal. 

_PRINT   _SENDTOFRIEND

Upcoming Events
Counter
Online17
Hari ini1.258
Minggu ini15.864
Bulan ini44.334
Bulan lalu104.765
03 Facebook
04 @adiwgunawan
05 Instagram
05 Tell Friends