Tubuh Anda Adalah Pikiran Bawah Sadar Anda

30 Maret 2018 18:22

Beberapa waktu lalu saya dapat pertanyaan dari seorang sahabat tentang trauma, “Pak Adi, ada yang mengatakan bahwa hipnoterapi tidak efektif menyembuhkan trauma, karena pada kasus tertentu, trauma tidak tersimpan di pikiran bawah sadar. Ada trauma yang tersimpan di otot atau saraf. Trauma seperti ini tidak bisa disembuhkan dengan hipnoterapi. Bagaimana pendapat Bapak?”

Pertanyaan sahabat ini membawa saya mundur ke masa awal saya mendalami hipnoterapi klinis. Saat itu, saya belajar memahami cara kerja pikiran, sadar dan bawah sadar, emosi, memori, trauma, psikologi klinis, dan neurosains dengan membaca sebanyak mungkin buku yang membahas topik ini. Dalam perjalanan pembelajaran ini, saya jumpa banyak buku dan nama besar di bidang terkait. Saya juga sempat belajar langsung kepada beberapa nama besar ini di Amerika. Pemikiran, penelitian, dan berbagai temuan yang mereka tulis ke dalam buku mencerahkan dan membantu meletakkan landasan pengetahuan yang saya gunakan dalam membangun teori, protokol, dan teknik-teknik intervensi klinis yang saya praktikkan dan ajarkan ke publik saat ini.

Pikiran, dalam hipnoterapi klinis, sejatinya terbagi menjadi tiga bagian: sadar, bawah sadar, dan nirsadar (Kappas, 1999). Masing-masing pikiran memiliki fungsi dan peran spesifik. Ada banyak tokoh dan penulis membahas tentang hal ini seperti Krebs (1957), Elman (1964), Hilgard (1965, 1968), Erickson dan Rossi (1981), Tebbetts (1985), Sheehan dan McConkey (1996), Banyan dan Kein (2001), McGill (2005), Watkins dan Barabasz (2008), Fromm dan Shor (2009), Wise (2009), Churchill (2012), dan masih banyak lagi.

Menurut para pakar ini, pikiran bawah sadar (PBS) selalu aktif, tidak pernah istirahat atau berhenti bekerja. PBS mencatat segala hal yang terjadi, dialami, dipikirkan, dirasakan, atau apapun yang terjadi pada individu, bahkan sejak ia masih dalam kandungan ibu. Di PBS tersimpan antara lain memori, kepribadian, kebiasaan, intuisi, emosi, dan program-program pikiran berbasis stimulus respon. Saat PBS berhenti bekerja maka pada saat itu pula kehidupan berakhir.

Tugas utama PBS adalah melindungi dan menjaga keselamatan individu, meliputi pikiran sadar dan tubuh fisik, dari hal-hal yang ia, PBS, rasa, pikir, persepsikan, yakin membahayakan atau merugikan individu. PBS juga mengendalikan fungsi-fungsi tubuh otonom seperti detak jantung, pernapasan, pencernaan, sistem kekebalan tubuh. Mengacu pada fungsinya ini, dari perspektif neurosains, PBS terletak di medulla oblongata.

Keterhubungan antara PBS dan tubuh sejatinya sangatlah erat. Sesungguhnya, apapun yang terjadi di PBS, dalam hal ini pemikiran dan emosi yang dirasakan individu, pasti, tanpa kecuali termanifestasi di tubuh fisik (Pert,1997, 2005).

Menurut Pert, saat individu mengalami emosi tertentu, otak akan menghasilkan senyawa kimiawi neuropeptida. Secara sederhana, neuropeptida dapat dianalogikan seperti flashdisk berisi informasi tentang pikiran dan emosi pada satu saat. Selanjutnya neuropeptida ini akan menyebar ke seluruh tubuh, menuju ke sel-sel tubuh. Pada dinding luar sel terdapat reseptor sebagai tempat “docking” neuropeptida. Setelah neuropeptida “docking” di reseptor, informasi yang ia bawa diteruskan ke bagian dalam sel hingga akhirnya mencapai inti sel dan memengaruhi kerja gen (Pert, 1997; Lipton, 2008).   

Peneliti di bidang trauma seperti Scaer (2005, 2007) dan Levine (2005, 2010) menyatakan bahwa saat individu mengalami pengalaman traumatik, ia bisa mengalami salah satu dari tiga kemungkinan berikut: fight (lawan), flight (lari), dan freeze (membeku). Ketiga respon ini melibatkan emosi intens. Bila emosi berhasil dikeluarkan dari sistem diri (psikis/tubuh), tidak akan muncul masalah. Namun bila emosi yang berasal dari pengalaman traumatik tidak berhasil sepenuhnya dikeluarkan, sisa emosi ini akan menetap di tubuh, mengganggu kerja tubuh, dan dapat mengakibatkan malfungsi atau sakit (Levine, 2000; Shapiro, 2006; Van der Kolk, 2014).

Emosi, dari pengalaman klinis dan temuan di ruang praktik kami, disadari atau tidak oleh individu, menetap di bagian tubuh tertentu. Hal ini tampak sangat nyata saat kami memroses trauma klien. Saat klien mengalami kembali kejadian dan emosi (revivifikasi), ia merasakan sensasi tertentu, bisa di dada, leher, kepala, perut, punggung, pundak, tangan, kaki, atau bagian tubuh lainnya, dalam bentuk tegangan otot, pusing, mual, pandangan mata kabur, kepala berdenyut, atau rasa sakit. Hal ini sejalan dengan yang dinyatakan oleh Pavek (1987) bahwa tubuh bereaksi terhadap sakit emosi seperti takut, kesedihan mendalam, malu, dan sebagainya, serupa dengan respon terhadap sakit fisik, dengan melakukan kontraksi. Rasa sakit, baik karena faktor fisik atau emosi, memicu kontraksi fisik otomatis yang dinamakan Auto-Contractile Pain Reflex (ACPR), bertujuan untuk meminimalisir gangguan agar tidak menyebar ke wilayah lebih luas. Dan ini sejalan dengan fungsi proteksi PBS (Gunawan, 2014).

Pada banyak kejadian, saat individu mengalami emosi negatif intens, ia cenderung menekan emosi atau perasaannya dan berharap ia akan hilang dengan sendirinya. Namun, pada kenyataannya, emosi tidak bisa hilang atau padam dengan sendirinya. Setiap emosi, menurut bapak Gestalt, Frederik S. Perls, butuh ekspresi (Smith, 2000). Ekspresi emosi mengarah keluar dalam bentuk pikiran, ucapan, atau tindakan. Namun saat ditekan ke dalam atau direpresi, emosi tetap akan diekspresikan, tapi kali ini melalui organ atau tubuh fisik, dalam bentuk gangguan fungsi organ atau sakit (Saphiro, 2006). Jumlah dan jenis gangguan fisik yang disebabkan oleh residu emosi yang menetap di tubuh fisik sangatlah beragam. Semua penyakit psikosomatis disebabkan oleh program pikiran dan emosi yang tersimpan di PBS. Dan karena emosi di PBS terhubung dengan tubuh fisik melalui neuropeptida maka emosi ini bisa menetap di bagian tubuh manapun. Untuk lebih detil mengenai hal ini, saya sarankan Anda membaca buku The Miracle of MindBody Medicine: How to Use Your Mind for Better Health.

Emosi negatif intens bersifat mengganggu kestabilan dan keseimbangan sistem psikis. Saat emosi negatif ini tidak bisa keluar atau berhasil dikeluarkan tuntas dari sistem psikis, PBS berupaya mengatasi masalah ini dengan mengirim pesan ke pikiran sadar. Pesan ini memiliki derajat intensitas berbeda. Pertama, PBS akan membuat individu merasa tidak nyaman, karena emosi negatif. Bila individu tidak menanggapi pesan ini, abai, atau tidak melakukan tindakan nyata untuk mengatasinya, pesan ditingkatkan menjadi sensasi fisik seperti rasa tidak nyaman, nyeri, atau leher kaku. Pada tahap selanjutnya, PBS akan meningkatkan pesan dan membuat individu merasa pusing atau nyeri kepala. Biasanya di tahap ini, individu akan melakukan pemeriksaan medis dan tidak akan ditemukan masalah apapun secara fisik. Tingkat selanjutnya, PBS akan membuat tangan individu mengalami tremor. Tremor ini sering salah dipahami sebagai parkinson. Dan bila semua pesan PBS tidak diperhatikan atau dihiraukan oleh individu, akhirnya PBS akan membuat individu mengalami kejang. Ini yang dikenal dengan psychogenic nonepileptic seizures atau PNES (Gunawan, 2015).

Dalam proses hipnoterapi klinis, terapis membantu klien mengeluarkan residu emosi dengan cara membimbing klien mengakses memori traumatik yang tersimpan di PBS, tentunya menggunakan teknik yang sesuai. Ini hanyalah langkah antara karena yang menjadi target sesungguhnya adalah emosi yang lekat pada memori ini. Saat memori aktif dan naik ke pikiran sadar, emosi yang lekat padanya akan lepas dan menjalani proses berbeda. Memori berisi narasi kejadian, disadari dan diketahui oleh pikiran sadar, sementara emosi akan dirasakan di tubuh fisik, di lokasi tertentu, bisa di dada, kepala, perut, punggung, pundak, tangan, kaki, atau bagian tubuh lainnya. Kesembuhan hanya bisa terjadi saat dan hanya bila terapi berhasil menetralisir emosi pada kejadian paling awal (Pavek, 1987; Banyan dan Kein, 2001; Kein, 2002; Sarno, 2006; Gunawan, 2008; Ronald, 2014).

Pada hampir semua kasus psikosomatis yang pernah kami tangani, di setiap organ atau bagian tubuh yang bermasalah selalu ada emosi menetap di sini. Mereka yang bermasalah pada sistem pencernaan, saat memori paling awal berhasil ditemukan, dan emosi yang lekat pada memori ini berhasil diaktifkan, merasakan sensasi tidak nyaman di bagian perutnya. Padahal dalam kondisi normal, klien tidak merasakan apapun di perutnya. Demikian pula yang sering sakit punggung, pusing atau nyeri kepala.

Kasus terkini yang terjadi pada klien saya, seorang wanita, berusia 40an, mengalami depresi dan berimbas ke tubuh fisik dalam bentuk tubuh lemas, tidak berenergi, sering mual, insomnia, kepala pusing, leher kaku, tangan dan kaki dingin, dan saraf kejepit. Saat berjalan ia merasa sakit sekali di sekujur kaki kanan. Ia telah ke dokter dan diberi obat. Klien menghubungi staff saya dan mendapat kabar bahwa jadwal saya sangat padat dan ia baru bisa jumpa saya empat bulan lagi. Namun di masa tunggu, tiba-tiba ada klien lain yang minta jadwal ulang dan akhirnya jadwal ini diberikan padanya.

Saat mengetahui mendapat jadwal lebih cepat, ia merasa kelegaan luar biasa karena ia yakin benar masalah emosinya pasti dapat saya bantu atasi, dan tiba-tiba saraf kejepitnya sembuh, padahal ia belum saya terapi. Ternyata, perasaan lega ini membuat otot yang tadinya tegang (spasme) yang mengakibatkan saraf kejepit, tiba-tiba lepas dan kembali normal.

Saat jumpa saya, di Intake Form klien mengisi emosi yang sedang ia rasakan dan alami adalah, pada skala 0 – 10, marah (10), benci (10), dendam (10), takut (10), kecewa (10), terluka (10), sakit hati (10), merasa kesepian (10), tersinggung (9), merasa tidak mampu (10), merasa ditolak (9), cemas (10), frustrasi (10), merasa kecil (9), merasa tidak berharga (10). Semua perasaan ini klien alami sejak Januari 2018.

Dalam proses terapi saya menggunakan teknik hipnoanalisis berbasis afek dan menemukan tiga kejadian lanjutan,SSE (subsequent sensitizing event) sebelum akhirnya mencapai kejadian paling awal atau akar masalah, ISE (initial sensitizing event). Semua emosi pada ISE dan tiga SSE saya proses tuntas dalam satu sesi terapi sehingga tidak ada lagi yang tersisa dalam sistem psikis klien. Hasilnya, tubuh klien langsung kembali sehat, sangat nyaman, seperti sebelum ia mengalami depresi.

Intinya, saat kejadian paling awal berhasil diidentifikasi dan diproses tuntas, termasuk menetralisir emosi pada kejadian ini, maka masalah klien dapat terselesaikan dengan mudah. Ada banyak teknik yang katanya dapat mengeluarkan emosi dari PBS atau tubuh, baik yang menggunakan sugesti, imajinasi, metafora, atau menggoncang-goncang tangan dan kaki, tidak efektif karena tidak mampu memroses emosi pada kejadian paling awal. Bila yang diproses adalah emosi pada kejadian paling awal maka apapun tekniknya, bila dilakukan dengan benar, hasilnya pasti sangat efektif.

Di pelatihan Quantum Life Transformation, di salah satu sesi, saya memberi tambahan teknik kepada para peserta untuk mengatasi emosi negatif dalam diri mereka. Saya minta seorang peserta maju ke depan, memilih satu kejadian yang pernah ia alami, yang ia tahu benar adalah kejadian tunggal yang menyebabkan emosi negatif dalam dirinya. Saya minta ia merasakan emosi yang menganggu dirinya dan memberi angka antara 0 hingga 10. Ia memberi nilai 8 pada intensitas emosi yang dirasakannya. Selanjutnya saya memberi sugesti ke PBS-nya, meminta ia mengambil posisi berdiri yang nyaman, fokus pada emosi negatif yang dirasakan dada dan perutnya, dan meminta ia meniatkan untuk mengalirkan energi emosi negatif ini ke kepalan tangan kiri dan kanan. Saya menuntun ia mengeluarkan energi emosi ini dalam bentuk hentakan tangan ke arah bawah sebanyak tiga kali. Hasilnya, dada dan perutnya langsung nyaman, lega.

Mengacu pada uraian di atas, pemikiran dan tulisan para pakar dan peneliti, baik di bidang hipnoterapi klinis maupun trauma, dan diperkuat dengan begitu banyak bukti temuan di ruang praktik kami, kami sepenuhnya yakin bahwa semua trauma, apapun bentuk dan penyebabnya, pasti terekam atau tersimpan di PBS, termasuk di sel-sel tubuh, dan juga tentunya di otot, saraf, organ, bahkan di gen. Dengan demikian, trauma yang tersimpan di saraf maupun otot tentu bisa dihilangkan dengan melakukan intervensi pada pikiran bawah sadar individu. Ketidakmampuan hipnoterapis mengatasi trauma yang, katanya tersimpan di otot atau saraf, bila ditelisik lebih jauh sebenarnya bukan karena hipnoterapi tidak efektif, tapi lebih karena ketidakmampuan hipnoterapis tersebut dalam menemukan dan memroses tuntas akar masalah klien. Demikianlah kenyataannya. 

_PRINT   _SENDTOFRIEND

Upcoming Events
Counter
Online29
Hari ini1.628
Minggu ini9.861
Bulan ini31.438
Bulan lalu83.959
03 Facebook
04 @adiwgunawan
05 Instagram
05 Tell Friends