The only hypnotherapy school in Indonesia approved by American Council of Hypnotist Examiners (ACHE), USA

Artikel

Terapi Singkat

30 Mei 2024
Terapi Singkat
Bila bisa cepat, aman, dan tuntas, mengapa harus lama? Ini adalah pemikiran saya dulu saat pertama kali belajar hipnoterapi, terinspirasi dari salah satu buku yang saya baca di tahun 1993, Awaken The Giant Within karya Anthonny Robbins (1992).
 
Salah satu bab buku ini berjudul Can Change Happen In An Instant? Toni Robbins menjelaskan bahwa perubahan perilaku dapat terjadi secara instan. Tentu, yang dimaksud instan bukan dalam sekejap mata, tetap butuh proses. Intinya, perubahan yang dimaksud terjadi dalam waktu jauh lebih singkat daripada bila menggunakan terapi konvensional.
 
Dalam upaya menemukan jawaban apakah benar perubahan, lewat proses terapi, bisa terjadi dalam waktu singkat, saya berusaha mendapatkan informasi dengan membaca banyak literatur, khususnya tentang psikoterapi. Umumnya, untuk mengubah perilaku dengan psikoterapi konvensional membutuhkan waktu lama, belasan hingga puluhan sesi, dan biaya yang tidak sedikit. Ini tentu sangat membebani klien.
 
Para pelopor psikoterapi sesungguhnya sadar akan kondisi ini. Mereka ingin bisa memberikan layanan terapi efektif berdurasi singkat. James Gustafson, dalam bukunya berjudul The Complex Secret of Brief Psychotherapy (1986), memberikan tinjauan komprehensif atas kerja para pelopor psikoterapi singkat.
 
Tiga Gelombang Psikoterapi Singkat
 
Jeffrey Magnavinta (1993) mengindentifikasi tiga gelombang dalam perkembangan psikoterapi singkat. Gelombang pertama diawali oleh terapi singkat yang dilakukan Sigmund Freud. Freud menyembuhkan impotensi yang dialami komposer Gustav Mahler lewat perbincangan yang mereka lakukan sambil jalan kaki di sore hari. Masuk dalam gelombang pertama, nama besar seperti Otto Rank dan Sándor Ferenczi. Demikian pula Franz Alexander and Thomas French di tahun 1940an. Alexander dan French mengenalkan konsep pengalaman emosional korektif, dan menganjurkan terapi yang fokus pada tujuan terapi.
 
Gelombang kedua pelopor psikoterapi singkat bercirikan fokus yang lebih kuat pada manajemen pertahanan psikologis. Tokoh yang berpengaruh di era ini adalah Wilhelm Reich. Tulisannya dalam buku Character Analysis (1949) berdampak besar terhadap para pemikir di zamannya, karena ide untuk menembus "baju besi" karakter (character armor), atau pertahanan psikologis, dominan dalam model terapi ini.
 
Gelombang ketiga psikoterapi dipengaruhi mekanisme fundamental psikoterapi singkat yang digagas Gustafson (1984) dengan prinsip kerja berfokus pada tema utama yang mendasari masalah, penanganan resistensi, dan penyediaan kecakapan yang dibutuhkan klien.
 
Psikoterapi Masa Kini
 
Danny Wedding dan Raymond, J. Corsini, dalam Current Psychotherapies 11th ed.,(2019), menyatakan terdapat empat belas jenis psikoterapi yang umum dipraktikkan saat ini: psikoterapi psikodinamika, psikoterapi Adlerian, terapi berpusat pada klien (client centered therapy), terapi rasional emotif, terapi perilaku (cognitive therapy), terapi kognitif (cognitive therapy), psikoterapi eksistensial, terapi Gestalt, psikoterapi interpersonal, terapi keluarga, terapi berbasis mindfulness, psikoterapi positif, psikoterapi integratif, dan psikoterapi multikultural.
 
Selain jenis psikoterapi di atas, masih terdapat psikoterapi lain yang sangat disarankan untuk didalami, terapi penerimaan dan komitmen (Acceptance and Commitment Therapy / ACT) dan terapi perilaku dialektis (Dialectic Behavior Therapy / DBT).
 
Setiap jenis psikoterapi memiliki sejarah, landasan teori, paradigma, pendekatan, strategi dan tekniknya sendiri untuk membantu klien mengatasi masalah. Masing-masing digunakan sesuai kondisi dan kebutuhan untuk memberi hasil dan dampak terapeutik optimal pada klien.
 
Berapa Lama Waktu yang Dibutuhkan untuk Mengubah Perilaku?
 
Perubahan perilaku ternyata bukanlah hal yang mudah. Penelitian yang dilakukan oleh James Prochaska mengungkapkan bahwa perubahan perilaku memerlukan waktu yang panjang (Prochaska, Rossi, dan Wilcox, 1991).
 
Secara khusus, dalam kasus adiksi, berdasarkan sampel yang beragam dari individu yang berhasil mengubah perilaku mereka, dibutuhkan waktu rata-rata tujuh tahun dengan dua hingga tiga kali kambuh sebelum perubahan perilaku tersebut menjadi stabil dan permanen (Prochaska, DiClemente, dan Norcross, 1992).
 
Data klasik menunjukkan bahwa sekitar 70% individu yang telah berhasil mengubah perilaku seperti berhenti merokok, berhenti menggunakan obat terlarang, atau berhenti minum minuman beralkohol kembali ke perilaku lama mereka dalam waktu satu tahun (Hunt dkk., 1971). Penelitian lebih baru menunjukkan hasil yang serupa (Hughes dkk., 2004; Kirshenbaum dkk., 2009).
 
Untuk perilaku lain seperti fobia dan kesedihan mendalam, waktu yang diperlukan untuk berubah sangat bervariasi. Secara umum, individu sering membutuhkan waktu satu hingga dua tahun untuk mengenali masalah, mengambil tindakan untuk berubah, dan mempertahankan perubahan yang telah dicapai.
 
Penelitian tentang perubahan perilaku yang dilakukan selama tiga puluh tahun menyimpulkan dua temuan penting yang menjelaskan mengapa perubahan perilaku sulit dilakukan. Pertama, mengubah atau mengganti perilaku lama dengan perilaku baru tidak serta-merta menghapus perilaku lama. Kedua, perubahan perilaku bisa sangat spesifik tergantung pada konteks di mana perubahan itu terjadi (Bouton, 2014).
 
Apa yang Dimaksud Terapi Singkat?
 
Menurut James Mann (1973), terapi singkat adalah terapi yang berlangsung maksimal 12 sesi. Sementara ada pula yang menyatakan bahwa terapis tidak bisa menentukan jumlah sesi yang harus dijalani klien karena setiap masalah bersifat unik dan butuh penanganan berbeda.
 
Jeffrey Binder, William Henry, dan Hans Strupp (1987) lebih menekankan pentingnya sikap sadar waktu (time-limited attitude) daripada menetapkan jumlah sesi secara kaku. Menurut mereka, terapis perlu senantiasa menyadari pentingnya membatasi terapi untuk waktu sesingkat mungkin yang dapat dicapai. Dengan kata lain, terapis bertujuan memberikan hasil terbaik kepada sebanyak mungkin orang dalam waktu sesingkat-singkatnya (Lazarus dan Messer, 1991, p.153).
 
Terapi singkat, menurut hemat saya, mengacu pada bentuk layanan di mana terapis memiliki kesadaran terhadap waktu dan hasil, dengan fokus pada tujuan terapeutik yang spesifik. Terapis berpartisipasi secara aktif dalam proses terapi yang aman dan efektif, serta berupaya semaksimal mungkin untuk mencapai tujuan terapi dalam waktu sesingkat mungkin dengan hasil yang bertahan lama. Jumlah sesi bervariasi sesuai dengan kebutuhan dan kondisi klien. Dengan definisi ini, sejatinya psikoterapi apa pun dapat menjadi terapi singkat.
 
Terapi singkat tidak berarti terapis mendesak klien untuk berubah dengan layanan terapi yang sengaja dibuat singkat, misal hanya berdurasi 60 menit, sehingga klien terburu-buru dan menjadi tidak nyaman menjalani proses terapi. Terapi singkat artinya tidak satu sesi lebih dari yang diperlukan klien untuk berubah.
 
Hipnoterapi Singkat
 
Setiap proses terapi merupakan bentuk kerja sama yang setara antara terapis dan klien. Terapis, dengan persetujuan klien, memfasilitasi proses yang diperlukan agar klien dapat berubah, sementara klien harus siap, bersedia, dan sepenuh hati mengikuti arahan yang diberikan oleh terapis.
 
Untuk mencapai hasil terapi terbaik dalam waktu singkat, diperlukan dua komponen utama: kompetensi terapeutik terapis dan kesiapan serta kesediaan klien untuk berubah.
 
Dari sisi terapis, efektivitas terapi sangat dipengaruhi oleh jenis hipnoterapi yang dipraktikkan. Terdapat dua mazhab utama dalam hipnoterapi: hipnoterapi berbasis sugesti dan hipnoterapi berbasis hipnoanalisis.
 
Secara umum, hipnoterapis yang mengandalkan sugesti sebagai sarana untuk mencapai perubahan biasanya memerlukan jumlah sesi yang cukup banyak, bisa melebihi 10 sesi, untuk membantu klien berubah. Durasi setiap sesi berkisar antara 60 hingga 90 menit.
 
Semakin kompleks masalah klien, semakin banyak sesi yang dibutuhkan. Jenis hipnoterapi ini kurang efektif dalam menangani masalah berat dan kompleks, yang melibatkan emosi negatif yang intens seperti luka batin, trauma, kesedihan mendalam, pelecehan seksual, kemarahan yang ditekan, stres kronis, dan sebagainya.
 
Sebaliknya, hipnoterapi berbasis hipnoanalisis jauh lebih efektif dan efisien dalam mengatasi masalah klien karena metode ini bekerja dengan prinsip mencari, menemukan, dan menyelesaikan akar masalah secara tuntas.
 
Hipnoterapi singkat, sesuai standar Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology® (AWGI), menggunakan pendekatan hipnoanalisis yang membutuhkan antara satu hingga empat sesi perlakuan. Durasi setiap sesi berkisar antara tiga hingga empat jam.
 
Untuk dapat menjalankan hipnoterapi singkat ini, kami hanya bekerja dengan klien yang siap dan bersedia berubah. Untuk menilai kesiapan dan kesediaan klien berubah, kami menggunakan The Transtheoretical Model (Stages of Change) yang diperkenalkan pada akhir tahun 1970-an oleh peneliti James Prochaska dan Carlo DiClemente (1994, pp. 38-50).
 
The Transtheoretical Model menjelaskan enam tahap perubahan yang dilalui seseorang untuk berubah:
 
Tahap 1. Prakontemplasi
Tahap 2. Kontemplasi
Tahap 3. Determinasi
Tahap 4. Aksi
Tahap 5. Pemeliharaan
Tahap 6. Terminasi
 
Di tahap satu, Prakontemplasi, individu tidak mengetahui, tidak menyadari, atau menyangkal keberadaan masalah. Di tahap dua, Kontemplasi, individu tahu dan bersedia menerima keberadaan masalah. Namun ia masih belum merasa perlu berubah atau tidak tahu apa yang sebaiknya ia lakukan dengan kondisi yang ia alami.
 
Individu di tahap satu dan dua tidak bisa dibantu berubah karena mereka tidak siap dan tidak (belum) bersedia berubah.
 
Bila klien yang telah berada di tahap kedua, Kontemplasi, datang jumpa kami, hipnoterapis AWGI, untuk konsultasi, kami tidak akan langsung melakukan terapi. Kami akan bantu dan siapkan pikiran bawah sadar klien untuk berubah dengan strategi khusus. Dengan demikian klien secara sadar dan sukarela berpindah dari tahap dua ke tahap tiga.
 
Saat individu berada di tahap tiga, Determinasi, ia membuat keputusan dan siap berubah. Ia membuat perencanaan apa yang harus dilakukan untuk berubah, misal, mencari informasi dengan membaca buku, menghadiri pelatihan, menonton video YouTube, mencari pihak yang bisa membantunya, seperti dokter, psikiater, psikolog, terapis, konselor, pendoa, life coach, atau yang lain.
 
Di tahap empat, Aksi, individu melakukan upaya perubahan seturut yang telah ia putuskan. Di sini ia jelas akan tujuan yang hendak dicapai dan komit menjalani prosesnya dengan sungguh-sungguh.
 
Tahap lima, Pemeliharaan, adalah tahap individu secara sadar bertanggung jawab melakukan upaya pemeliharaan dan penguatan perubahan yang telah ia capai.
Tahap enam, Terminasi, adalah tahap di mana individu tidak lagi perlu melakukan upaya apa pun untuk menjaga perubahan yang telah ia capai karena perubahan ini telah stabil, menetap, dan menjadi dirinya yang baru.
 
Dari pengalaman dan temuan kami di ruang praktik, terapi yang menggunakan pendekatan, teknik, atau strategi apa pun dapat menjadi terapi singkat apabila klien, saat bertemu dengan terapis, berada pada tahap tiga, yaitu Determinasi.
 
Ini sebabnya, dalam protokol hipnoterapi AWGI, sangat ditekankan pentingnya menyiapkan klien, khususnya pikiran bawah sadarnya, untuk mendukung proses terapi yang akan dijalani, dengan memberi edukasi yang cukup dan dibutuhkan klien, membangun kesadaran klien, menjalin relasi terapeutik yang kuat antara terapis dan klien, dan membangun kepercayaan dan rasa aman dalam diri klien.

_PRINT