The only hypnotherapy school in Indonesia approved by American Council of Hypnotist Examiners (ACHE), USA

Artikel


Hidup Di Masa Kini, Kunci Transformasi Diri

27 Januari 2015

Perubahan atau transformasi diri bagi kebanyakan orang (sangat) sulit dilakukan. Kerja keras saja ternyata tidak cukup untuk berubah. Bila ditilik lebih dalam, perubahan diri memang tidak mudah karena ada dua faktor penting yang sangat berpengaruh, faktor pikiran dan fisik. Selama ini fokus lebih sering diarahkan pada pikiran. Ternyata, dari hasil penelitian diketahui bahwa sulitnya perubahan juga disebabkan oleh faktor fisik, tepatnya apa yang terjadi pada otak dan tubuh.

Selama ini kita tidak menyadari atau mungkin mengabaikan kenyataan bahwa pikiran dan tubuh bukan dua aspek diri yang terpisah namun sesungguhnya saling terhubung erat dan memengaruhi.

Pandangan dan keyakinan bahwa pikiran dan tubuh adalah dua aspek yang terpisah, yang saling berdiri sendiri, sejatinya berawal dari era Descartes di abad ketujuh belas. Descartes, yang terkenal dengan pernyataan “Cogito ergo sum” atau “Aku berpikir maka aku ada”, adalah ilmuwan cemerlang dan berdasar penelitian mendalam yang ia lakukan menyimpulkan bahwa tubuh dan pikiran adalah dua entitas yang terpisah.

Descartes memutuskan untuk membatasi diri hanya memelajari anatomi tubuh manusia. Sedangkan segala hal yang berhubungan dengan pikiran dan jiwa menjadi wilayah yang diurus oleh lembaga keagamaan.

Para ilmuwan  membatasi diri hanya meneliti sesuatu yang dapat dilihat, dihitung, dan nyata. Sedangkan mereka yang berada di jalur keagamaan “mengangkat” pikiran dan emosi keluar dari tubuh dan memasukannya ke ranah spiritual. Sejak saat itulah studi mengenai pikiran dan tubuh menjadi dua bidang yang berbeda dan muncul dualisme.

Dari jalur timur, para guru agung spiritual, filsuf, dan juga pemikir besar sejak dulu selalu menyatakan dan mengajarkan bahwa pikiran dan tubuh adalah satu kesatuan, tidak terpisah, saling memengaruhi.

Baru sekitar dua atau tiga puluh tahun terakhir ini, berdasar riset intensif yang dilakukan di barat, diketahui bahwa apa yang dikatakan dan diajarkan di timur adalah benar. Pikiran dan tubuh saling terhubung dan adalah satu kesatuan.

Lalu, bagaimana hubungan antara pikiran dan tubuh?

Setiap kali kita berpikir atau memikirkan sesuatu, sel otak yang disebut neuron menjadi aktif dan berkomunikasi dengan neuron lain dan otak menghasilkan neurotransmitter seperti serotonin, dopamin, asetilkolin, dll. Neuron yang aktif saat kita berpikir bukan hanya satu atau dua neuron tapi jumlahnya banyak. Neuron yang aktif bersama semakin lama menjadi semakin kuat dan membentuk kelompok sendiri yang disebut synaptic potentiation. Bila kita sering atau selalu memikirkan hal yang sama, melakukan hal yang sama, maka kelompok neuron ini menjadi semakin terhubung, permanen, dan mengendalikan pola pikir dan perilaku kita.

Setiap kali kita memikirkan satu bentuk pikiran, otak, selain menghasilkan neurotransmitter, juga menghasilkan senyawa kimiawi lain, protein yang disebut neuropeptida yang menyebar ke seluruh tubuh dan berfungsi sebagai pembawa pesan (messenger) ke sel-sel tubuh. Caranya adalah dengan mencari reseptor yang sesuai, atau docking station, pada berbagai sel sehingga ia dapat menyampaikan pesan kepada DNA dalam sel.

Tubuh kita, selanjutnya, bereaksi dengan merasakan perasaan tertentu. Otak mengetahui bahwa tubuh sedang merasakan perasaan tertentu dan menghasilkan bentuk pikiran lain yang persis sejalan dengan perasaan ini yang mana menghasilkan lebih banyak senyawa kimiawi yang sama yang membuat kita berpikir sejalan dengan yang kita rasakan.

Dengan demikian pikiran menghasilkan perasaan, dan selanjutnya perasaan menghasilkan pikiran yang sejalan atau sama dengan perasaan-perasaan ini. Ini adalah lingkaran yang pada kebanyakan orang bisa berlangsung bertahun-tahun. Dan karena tubuh berespon atas perasaan yang ia rasakan dengan cara menghasilkan bentuk pikiran yang sama yang menghasilkan perasaan yang sama, maka jelaslah bahwa berbagai bentuk pikiran yang muncul memengaruhi sel-sel otak sehingga membentuk rangkaian permanen.

Kendala untuk berubah, dari sisi pikiran, disebabkan karena 90% bentuk pikiran yang kita pikirkan sama dengan sehari sebelumnya dan 70% adalah bentuk pikiran yang negatif dan tidak bermanfaat.

Saat kita memikirkan hal yang sama, terus menerus, maka neuron-neuron menyala dengan cara yang sama, mereka memicu pelepasan senyawa kimiawi neurotransmitter dan neuropeptida yang sama di otak dan tubuh.

Lalu, bagaimana dengan tubuh? Karena perasaan adalah modus operandi tubuh, emosi yang konsisten dirasakan berdasar bentuk pikiran otomatis yang selalu kita pikirkan mengkondisikan tubuh untuk tidak hanya mengenal tapi juga merekam emosi-emosi ini sejalan dengan rangkaian tubuh dan pikiran yang terjadi secara tidak sadar. Hal ini berarti pikiran sadar sebenarnya tidak lagi memegang kendali. Tubuh secara tanpa disadari telah diprogram dan dikondisikan menjadi pikirannya sendiri.

Akhirnya, saat lingkaran pikiran dan perasaan dan kemudian perasaan dan pikiran berjalan cukup lama, tubuh kita merekam emosi-emosi yang semula berasal dari otak. Siklus ini menetap dan terpatri dengan sangat kuat dan mencipta kondisi diri yang kita kenal – satu kondisi berdasar informasi lama yang terus berputar. Emosi-emosi ini, yang sebenarnya tidak lebih dari sekedar rekaman kimiawi dari pengalaman masa lalu, mengendalikan pikiran kita dan terus dimainkan. Selama ini terus berlangsung, kita tinggal di masa lalu.

Bila proses ini terus berlanjut selama bertahun-tahun, kita berpikir, bertindak, dan merasakan perasaan yang sama setiap hari, tidak ada pikiran baru, tidak ada pilihan baru, tidak ada keputusan baru, tidak ada tindakan baru, tidak ada pengalaman baru, dan tidak ada perasaan baru yang tercipta, maka ada dua kemungkinan yang bisa terjadi.

Pertama, karena sel konsisten menerima informasi yang sama, ia melakukan modifikasi dan membuat lebih banyak reseptor sehingga mampu menerima lebih banyak senyawa kimiawi yang berasal dari otak.

Dengan jumlah reseptor yang lebih banyak, saat otak tidak menghasilkan senyawa kimiawi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan reseptor, konsekuensinya perasaan kita akan menentukan pikiran kita – dengan kata lain tubuh mengingat emosi.

Kedua, sel menjadi kewalahan menerima pesan dari senyawa kimiawi yang dihasilkan oleh pikiran dan emosi tertentu dan akhirnya mengalami desensitisasi atau “terbiasa”/“kebal”. Dengan demikian sel-sel ini hanya akan bereaksi bila mendapat senyawa kimiawi yang berasal dari emosi yang lebih intens atau dosis yang lebih tinggi. Dengan kata lain, agar tubuh bisa terstimulasi atau diperbaiki butuh emosi yang lebih intens dari sebelumnya.

Kondisi ini yang mendorong orang untuk menjadi lebih pemarah, lebih merasa bersalah, lebih sedih, tidak bisa berhenti menceritakan pengalaman tertentu. Semua ini bertujuan, secara sadar maupun tidak sadar, untuk memenuhi kebutuhan senyawa kimiawi dengan dosis dan kekuatan yang cukup untuk menstimulasi sel. Atau kita mulai membayangkan satu kejadian tertentu yang mengerikan sehingga tubuh menghasilkan adrenalin. Saat tubuh tidak mendapat senyawa kimiawi yang ia butuhkan, tubuh akan memberi sinyal pada otak untuk menghasilkan lebih banyak senyawa kimiawi itu. Dengan demikian tubuh mengendalikan pikiran. Ini sangat mirip dengan adiksi, lebih tepatnya adiksi emosi.

Saat perasaan menjadi alat untuk berpikir, atau kita tidak bisa berpikir lebih besar dari perasaan kita, maka saat itu kita tunduk pada program yang terekam di tubuh. Pikiran kita adalah apa yang kitaa rasakan, dan perasaan kita adalah bagaimana kita berpikir. Apa yang kita alami adalah gabungan antara pikiran dan perasaan.

Kita terperangkap dalam lingkaran ini, tubuh kita yang bertindak atau menjadi pikiran bawah sadar, percaya bahwa ia hidup di pengalaman yang sama 24 jam sehari, 7 hari seminggu, dan 365 hari setahun. Tubuh dan pikiran kita adalah satu, bersekutu untuk menjalani takdir yang ditentukan oleh program-program di pikiran bawah sadar.

Untuk mengubah ini dibutuhkan sesuatu yang lebih besar dan kuat daripada tubuh dan semua memori emosi, adiksi, dan kebiasaan-kebiasaan tak sadar. Dengan kata lain, tidak lagi ditentukan oleh tubuh yang bertindak sebagai pikiran.

Lingkaran repetisi dari berpikir dan merasa dan kemudian merasa dan berpikir adalah proses pengkondisian dari tubuh  yang dicipta pikiran sadar. Saat tubuh menjadi pikiran itulah yang kita sebut “kebiasaan”.

Lalu, bagaimana caranya berubah?

Langkah awal adalah dengan menyadari bahwa selama ini pikiran dan tubuh kita hidup di masa lalu, terhubung pada berbagai kejadian masa lalu melalui emosi yang kita rasakan atau alami. Langkah selanjutnya, memutuskan hidup seperti apa yang ingin kita jalani. Keputusan ini harus dilakukan secara sadar dan bijaksana.

Pikiran yang berbeda menghasilkan keputusan yang berbeda, berlanjut ke pilihan yang berbeda, tindakan dan perilaku berbeda, pengalaman berbeda, dan akhirnya menghasilkan perasaan atau emosi berbeda.

Perasaan atau emosi berbeda mengaktifkan jaringan neuron yang berbeda dan juga menghasilkan neuropeptida yang berbeda yang dikirim ke seluruh tubuh. Bila ini berlangsung dalam waktu yang lama, cepat atau lambat, jaringan neuron yang sebelumnya sangat aktif karena berdasar pikiran dan pengalaman lama menjadi lemah karena jarang digunakan dan akhirnya tidak lagi aktif, tercipta jaringan neuron baru di otak dan sel-sel tubuh mendapat kiriman senyawa kimiawi yang berbeda, dan akhirnya berubah.  

Untuk itu, sangat penting hidup di masa kini, sekarang. Saat kita hidup di masa sekarang, pikiran dan tubuh tidak lagi hidup di masa lalu dan tidak lagi terhubung dengan berbagai pengalaman di masa lalu. 

Baca Selengkapnya

Teknik Terapi Berbasis Pain dan Pleasure yang Tidak Efektif

18 Desember 2014

Di berbagai buku yang pernah saya baca dan seminar yang pernah saya ikuti selalu ada pernyataan bahwa secara psikologis manusia bergerak menjauhi pain (rasa sakit) dan mendekati pleasure (rasa senang). Pain dan pleasure adalah dua pengendali utama dalam hidup manusia. 

Dari hasil pembelajaran saya lebih lanjut, khususnya dalam konteks tekonologi pikiran, ternyata pemahaman ini ada pada dua tataran, pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Dua pikiran ini memaknai pain dan pleasure secara sangat berbeda. 

Pikiran sadar memaknai pain sebagai segala sesuatu yang menimbulkan rasa tidak nyaman baik secara fisik maupun di hati (emosi). Misalnya, saat udara sedang panas, perut sedang lapar, tubuh lagi sakit, mengalami emosi-emosi negatif seperti marah, jengkel, terluka, benci, dll, maka ini semua dimaknai sebagai pain oleh pikiran sadar. 

Sebaliknya, semua yang menimbulkan atau menyebabkan rasa nyaman, senang, enak, bahagia, baik di aspek fisik maupun hati, oleh pikiran sadar dimaknai sebagai pleasure. 

Pemaknaan pain dan pleasure oleh pikiran bawah sadar sangat berbeda. Pain, menurut pikiran bawah sadar, adalah segala sesuatu yang ia tidak kenal. Sedangkan pleasure adalah segala sesuatu yang ia kenal. Pemaknaan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan rasa sakit atau senang secara fisik atau hati. 

Segala sesuatu yang dikenal oleh pikiran bawah sadar, walau itu sebenarnya menyakitkan, menurut pikiran sadar, adalah pleasure atau rasa senang. Contohnya, ada seorang wanita yang telah menjalin relasi selama bertahun-tahun dengan seorang pria yang kasar dan sering melakukan kekerasan fisik, mental, dan verbal. Namun ia tidak berani memutuskan relasi ini. Secara sadar ia tahu bahwa pasangannya sering menyakiti dirinya. Namun mengapa ia tidak berani memutuskan untuk mengakhiri relasi ini? 

Jawabannya sangat sederhana. Pikiran bawah sadarnya memaknai relasi ini sebagai pleasure karena ia (pikiran bawah sadar) kenal. Saat ditanya alasan mengapa ia tidak juga kunjung memutuskan hubungan yang oleh semua rekan atau keluarganya dinilai tidak baik dan merugikan dirinya, ia menjawab, “Ya kalau putus dengan yang ini saya bisa dapat pasangan yang lebih baik. Kalau dapat yang lebih buruk bagaimana?” 

Dan sesuai dengan hukum pikiran, pikiran bawah sadar mengendalikan 90% diri manusia sedangkan pikiran sadar hanya 10%. Jadi, apapun yang dipilih oleh pikiran bawah sadar selalu menang dan menentukan setiap pikiran, ucapan, dan tindakan seseorang. Dan salah satu fungsi pikiran bawah sadar adalah melindungi individu dari segala hal yang ia, pikiran bawah sadar, pikir, rasa persepsikan, bayangkan, atau yakin merugikan individu. 

Sekarang, kembali pada judul artikel ini. Pemahaman yang kurang tepat tentang pain dan pleasure ini ternyata telah menyusahkan banyak orang. Salah satunya klien yang dengan menggunakan pemahamannya yang salah, tentang pain dan pleasure, berusaha melakukan perubahan diri. 

Klien ini ingin mengubah kepercayaan (belief) yang menghambat kemajuan dirinya, khususnya di aspek finansial. Beberapa kepercayaan menghambat yang ingin ia ganti antara lain cari uang itu susah, uang adalah sumber masalah, uang adalah akar kejahatan, orang kaya itu jahat, uang bisa merusak moral seseorang. 

Saya menghargai keinginannya untuk berubah. Saya sangat menghargai upaya sungguh-sungguh yang ia lakukan untuk berubah. Dan yang membuat saya agak kaget sampai geleng-geleng kepala adalah teknik yang ia gunakan ternyata, secara teknis, salah. Itu sebabnya ia tetap tidak bisa berubah dan akhirnya minta jumpa saya. 

Apa yang ia lakukan? Ternyata ia menggunakan pemahaman pain dan pleasure di pikiran sadar untuk berubah. Ia menuliskan kepercayaan yang ingin ia ubah dan kepercayaan penggantinya. Misal, kepercayaan “uang adalah sumber masalah” diganti dengan “uang bisa membantu saya mencapai yang saya inginkan”. 

Klien ini juga melakukan pengecekan ke dalam dirinya untuk mengetahui seberapa yakin ia akan kebenaran kepercayaan menghambat ingin ia ganti. Ia menggunakan skala 1 sampai 10. Semakin tinggi angkanya berarti ia semakin yakin. Kepercayaan “uang adalah sumber masalah” mendapat angka sembilan. 

Selanjutnya, untuk mengubah kepercayaan ini, ia membaca dengan keras kalimat “uang adalah sumber masalah” dan diikuti dengan ia mencubit keras paha kanan sebelah dalam. Setelah itu ia mengelus paha kanan yang sakit ini dan mengucapkan “uang bisa membantu saya mencapai yang saya inginkan”. Ini ia lakukan sampai lima kali untuk setiap kepercayaan. Semakin tinggi angka pada setiap kepercayaan maka semakin keras ia melakukan cubitan. 

Saat saya tanya apa logika di balik tindakannya ini, ia menjawab bahwa manusia menghindari pain. Saat ia membaca kalimat kepercayaan negatif dan langsung mencubit keras pahanya maka pikiran akan melakukan asosiasi antara kepercayaan ini dengan pain/rasa sakit. Dan selanjutnya saat ia mengelus pahanya dan membacakan kepercayaan positif, pikiran juga akan melakukan asosiasi antara kepercayaan positif dengan pleasure/rasa senang.   

“Apakah Anda yakin teorinya sudah benar?” tanya saya. 

“Saya yakin benar Pak. Ini yang saya pelajari di berbagai buku dan pelatihan yang pernah saya ikuti,” jawabnya polos. 

“Lalu, bagaimana hasilnya?” tanya saya lagi. 

“Hasilnya tidak ada. Saya bingung apa ya yang salah?” jawabnya. 

“Apa yang Anda lakukan pasti ada hasilnya,” komentar saya dengan sangat yakin. 

“Tidak ada Pak. Buktinya saya tetap tidak berubah,” jawabnya. 

“Ada. Saya yakin tempat cubitan di paha Anda pasti jadi biru,” jawab saya sambil tertawa lepas. 

Demikianlah yang dialami klien ini. Ia tetap tidak berubah dan pahanya jadi biru akibat cubitan. Yang terjadi, pikiran bawah sadarnya justru membuat asosiasi antara rasa sakit fisik dengan upaya perubahan yang ia lakukan. Selanjutnya setiap kali ia berpikir untuk melakukan perubahan, langsung timbul perasaan tidak nyaman di hatinya. 

Yang klien ini tidak tahu, kepercayaan tersimpan di pikiran bawah sadar, bukan di pikiran sadar. Untuk itu ia perlu tahu sifat, cara kerja, dan hukum yang berlaku di pikiran sadar. Saya menjelaskan panjang lebar apa saja yang perlu ia ketahui agar bisa berubah dengan cepat dan mudah, tanpa harus menyakiti dirinya sendiri. 

Saya ingat beberapa tahu lalu seorang sahabat saya mencoba menyembuhkan anaknya yang berusia 6 tahun dari kebiasaan mengompol (enuresis). Yang ia lakukan adalah saat di pagi hari ia mendapati anaknya mengompol, ranjangnya basah, maka ia langsung menyirami si anak dengan air. 

Logika berpikir yang ia gunakan sama dengan klien di atas. Hasilnya? Anaknya tidak sembuh dari kebiasaan mengompol dan menjadi trauma dengan air.

Satu lagi, untuk melakukan perubahan, semakin besar upaya pikiran sadar maka semakin kecil respon pikiran bawah sadar. Artinya, perubahan yang dipaksakan dengan menggunakan cara atau teknik yang tidak sejalan dengan sifat dan cara kerja pikiran bawah sadar niscaya akan sia-sia dan justru bisa menimbulkan masalah baru. 

 

Baca Selengkapnya

Mindfulness vs Trance

17 November 2014

Bila kesadaran digambarkan sebagai satu garis kontinum maka mindfulnessdan trance berada di masing-masing ujung ekstrim. Mindfulness dan tranceadalah dua kondisi kesadaran yang berbeda dan selama ini tidak bisa disandingkan.

Istilah mindfulness, dalam bahasa Inggris, berasal dari kata Pali, sati, yang artinya kesadaran, perhatian, ingatan, pengenalan, kejernihan pikiran. Sedangkan trance, atau lengkapnya hypnotic trance, adalah kondisi kesadaran yang berbeda dengan kondisi sadar normal (altered state) yang dialami oleh seseorang melalui bimbingan terapis. Hypnotic trance sendiri terdiri atas banyak lapis kesadaran.

Perbedaan mendasar antara kondisi mindful dan trance terletak pada kesadaran yang aktif pada satu saat. Individu yang mindful sadar akan apa yang ia alami, rasakan, pikirkan, dan apa yang terjadi di sekelilingnya. Pikirannya benar-benar sadar. Sebaliknya kondisi tidak mindful seperti pikiran melayang ke masa lalu atau masa depan, mengunci pintu namun tidak ingat telah melakukannya, tidak ingat apakah sudah mematikan lampu atau belum, diajak bicara seseorang kemudian anda lupa apa yang baru dibicarakan, atau mengendarai mobil atau sepeda motor dan tanpa disadari telah tiba di tujuan, mencari kunci dan tidak menemukannya padahal kunci ada di depan mata, semua ini masuk dalam kategori trance.

Kondisi trance memang sangat berbeda dengan kondisi mindful. Mindfulness merujuk pada perhatian yang netral terhadap pengalaman yang dialami oleh individu dari waktu ke waktu (Kabat-Zinn, 1990/2005). Sedangkan Brown dan Ryan (2003) mendefiniskan mindfulness sebagai kondisi kesadaran penuh perhatian pada apa yang sedang terjadi di saat sekarang.

Dalam kondisi trance, individu melepas kendali atas fungsi kritis pikirannya, lepas dari fungsi pengawasan kekinian pengalaman, dan teregresi ke proses berpikir primer di mana terdapat kebebasan dan keleluasaan pikiran dalam memunculkan berbagai bentuk gambaran mental, daya khayal, menerima segala sesuatu yang sebelumnya tidak rasional menjadi rasional, dan individu mengalami fenomena trance logic (Orne, 1959).

Para praktisi mindfulness sangat menghindari kondisi tidak mindful yang dijelaskan di atas. Kondisi tidak mindful sangat tidak baik dan bisa merugikan.

Ditinjau dari perspektif terapi, baik mindfulness dan trance masing-masing memiliki manfaat terapeutik. Keduanya dapat dikelola dan dimanfaatkan untuk kebaikan individu tentunya dengan mengikuti prinsip yang berlaku untuk kedua kondisi kesadaran ini.

Dalam terapi berbasis mindfulness klien dilatih untuk hanya melakukan pengamatan, menyadari, mengetahui, dan menerima aliran pengalaman dari waktu ke waktu, membiarkan pengalaman itu bergulir apa adanya, tidak masuk dan terlibat di dalam pengalaman itu, tidak melakukan pembatasan pada bentuk pikiran, perasaan, dan perilaku tertentu. Klien tidak dibimbing oleh terapis, klien tidak menerima sugesti tertentu, klien tidak masuk ke dalam kejadian atau pengalaman dan memrosesnya. Intinya, klien menerima apapun yang ia rasakan atau alami dengan hanya menyadari pengalamannya.

Dengan demikian mindfulness mendorong pergeseran perhatian secara global, menggantikan perhatian yang sebelumnya melekat erat pada pengalaman, perasaan, bentuk pikiran tertentu.

Mindfulness, menurut Sri Paññavaro Mahathera, dapat dilatih melalui metode meditasi. Salah satunya dengan memerhatikan napas, atau dengan mengamati pengalaman dan bagaimana pengalaman itu berlangsung tanpa memberikan pemaknaan, menghakimi, menilai, memberi nama atau label, melibatkan emosi, atau berusaha dengan sesuatu cara mengubah pengalaman itu. Mindfulness juga dapat dipraktikkan dan dilatih secara informal dalam keseharian dengan mengembangkan kesadaran menerima pengalaman internal maupun eksternal. Dalam berlatih meditasi, para meditator berlatih untuk selalu sadar, menyadari apapun yang ia rasakan, alami, pikirkan, atau yang terjadi di sekitar.

Keefektifan dan manfaat mindfulness dalam konteks klinis terletak pada kemampuan kesadaran memutus response set yang mengendalikan diri individu. Response set adalah pola asosiasi terkondisi yang memfasilitasi pola perilaku, pola pikir, dan respon individu terhadap stimulus atau situasi tertentu. Response set dapat diaktifkan baik oleh stimuli internal maupun eksternal, seperti sugesti dan beragam sinyal yang berasal dari lingkungan.

Mindfulness dapat memutus respon perilaku otomatis yang selama ini menguasai diri seseorang, baik disadari atau tidak, dan membuat individu menjadi sadar akan pola perilaku maladaptif yang ia alami atau lakukan.

Pelatihan mindfulness pada klien akan memampukan klien menyadari dan menangkap pola perilaku yang relatif otomatis dan reaktif menjadi respon yang lebih terkendali (Teasdale, Segal, dan Williams, 2003).

Dengan lebih menggiatkan kesadaran tanpa kondisi, tidak menghakimi, mindfulness mengaktifkan proses perhatian pengawasan diri dan memberdayakan klien dalam membuat pilihan dan keputusan akan respon yang lebih adaptif dan konstruktif menggantikan respon maladaptif yang selama ini ia alami.

Kesadaran yang menjadi landasan mindfulness terhadap pengamatan pasang surut pengalaman mencipta fondasi terapi dalam mengatasi pengaruh pikiran yang sifatnya mengganggu, bias kognitif, dan berbagai pengkondisian yang terjadi di masa sebelumnya yang menjadi penyebab masalah emosi dan perilaku maladaptif.

Contohnya, individu yang sebelumnya akan marah besar saat mendapat kritik, dengan melatih mindfulness, ia dapat menyadari munculnya kemarahan, dapat mengamati kemarahan ini tanpa turut larut di dalamnya, dan selanjutnya mampu memilih opsi respon yang lebih konstruktif menggantikan respon marah (maladaptif).

Melatih mindfulness tentu butuh upaya serius dan berkelanjutan. Kita jarang bisa dalam kondisi mindful. Pikiran kita biasanya dipenuhi berbagai bentuk pikiran yang mengganggu atau sibuk memberi pendapat atas apa yang sedang terjadi pada satu saat.

Kendala yang sering dialami praktisi mindfulness dalam melatih diri adalah pengaruh emosi intens, yang tersimpan di pikiran bawah sadar, yang dengan sangat cepat menguasai diri individu sehingga yang terjadi bukannya mindfulness tapi mind-full-ness di mana pikiran (mind) dipenuhi berbagai bentuk pikiran (thought) yang sangat mengganggu karena adanya emosi intens yang menyertai bentuk-bentuk pikiran ini. 

Untuk bisa masuk kondisi trance maka seseorang justru tidak boleh dalam kondisi mindful atau awas dan waspada. Mindful adalah ranah kerja dan aktivitas pikiran sadar dan trance adalah ranah pikiran bawah sadar. Ini adalah dua pikiran yang sangat berbeda fungsi dan cara kerjanya.

Praktisi mindfulness yang ingin masuk trance perlu melepas, untuk sementara waktu, kondisi pikiran yang mindful dan mengikuti bimbingan terapis.

Saat mindful kendali pikiran atas fungsi kritis menjadi sangat kuat. Terapis sangat sulit atau tidak bisa membimbing klien menembus faktor kritis pikiran sadarnya yang menjadi syarat mutlak untuk masuk kondisi trance.

Itu sebabnya para meditator biasanya mengalami kesulitan untuk masuk kondisi trance dengan bimbingan terapis. Sebenarnya, saat mereka melakukan meditasi dan benar-benar fokus pada objek meditasi maka mereka juga masuk kondisitrance. Bedanya, saat mereka dibimbing oleh terapis, pikiran sadar mereka akan terus mengamati atau menyadari apapun yang diucapkan oleh terapis. Ini yang membuat mereka sulit masuk kondisi trance.

Trance adalah kondisi di mana fungsi kritis pikiran sadar berhasil ditembus dan individu masuk ke pikiran bawah sadar untuk menemukan kejadian, peristiwa, pengalaman traumatik, atau berbagai program pikiran (imprint) yang menjadi akar masalah gangguan perilaku. Selanjutnya, bisa dengan bantuan terapis atau melakukannya sendiri, dengan teknik yang sesuai, akar masalah ini diproses hingga terjadi resolusi trauma menyeluruh dan tuntas. Masalah dikatakan telah selesai diproses saat emosi yang sebelumnya melekat pada pengalaman itu berhasil dinetralisir dan terjadi pemaknaan baru.

Dari uraian di atas tampak dua perbedaan mendasar aplikasi mindfulness dan trance dalam mengatasi masalah. Dalam terapi berbasis mindfulness yang dikembangkan adalah kesadaran mengamati, menerima, tidak masuk ke dalam pengalaman, terjadi pemisahan tegas antara diri pengamat dan pengalaman (disosiasi). Dan untuk bisa melakukan disosasi dengan baik dibutuhkan tidak hanya kekuatan kehendak, kekuatan konsentrasi, namun juga energi psikis yang besar untuk terus mempertahankan kondisi disosiasi.

Apabila individu tidak kuat dalam mempertahankan kondisi disosiasi ini dan masuk atau tertarik masuk ke dalam pengalaman yang sedang diamati maka ia dapat mengalami trauma ulang dan ini akan semakin memperburuk kondisinya.

Saat individu dapat melakukan pengamatan, hanya mengamati saja, terhadap kejadian atau pengalaman maka kekuatan cengkeraman dan pengaruh kejadian itu pada diri individu menjadi sirna. Emosi yang tadinya sangat intens melekat pada pengalaman semakin lama menjadi semakin lemah hingga akhirnya runtuh dan pengalaman itu hanya menjadi satu bentuk memori yang netral.

Hal yang berbeda terjadi dalam pemanfaatan trance untuk (hipno)terapi. Saat seseorang dalam kondisi trance, saat fungsi kritis pikiran sadar untuk sementara waktu tidak bekerja, ia dapat leluasa masuk ke pikiran bawah sadar, mengakses dan mengalami kembali (asosiasi) berbagai pengalaman yang mengganggu hidupnya (revivifikasi) dan memroses pengalaman ini hingga tuntas. Namun, dari pengalaman klinis, sebaiknya untuk memroses kejadian dengan muatan emosi yang intens hanya dilakukan dengan bantuan terapis, jangan dilakukan sendiri karena seringkali saat emosi muncul dan sepenuhnya dirasakan oleh individu kendali atas proses yang sedang ia alami menjadi lemah dan dapat berpengaruh buruk pada dirinya.  

Mindfulness dan trance dapat digunakan, secara gabungan, untuk mengatasi respon maladaptif dan membangun respon adaptif yang baru. Kedua kondisi kesadaran ini berbeda namun memiliki kesamaan, dalam konteks terapi, yaitu keduanya dapat mengubah perhatian atau persepsi untuk mencapai goal terapeutik.

Baca Selengkapnya

Hipnoterapi Sebagai Terapi Alternatif Komplementer

10 November 2014

Terapi alternatif komplementer sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan adalah pengobatan nonkonvensional yang ditujukan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat meliputi upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif yang diperoleh melalui pendidikan terstruktur dengan kualitas, keamanan dan efektifitas yang tinggi berlandaskan ilmu pengetahuan biomedik tapi belum diterima dalam kedokteran konvensional. 

Adapun dasar hukum pelayanan pengobatan komplementer-alternatif adalah sebagai berikut: 

·        UU no. 36 tahun 2009 pasal 59 tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional

Pasal 1 butir 16 Pelayanan kesehatan tradisional adalah pengobatan dan atau perawatan dengan cara dan obat yang mengacu pada pengalaman dan keterampilan turun temurun secara empiris yang dapat dipertanggung jawabkan dan diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.

Pasal 48 Pelayanan kesehatan tradisional.

Bab III Pasal 59 s/d 61 tentang Pelayanan Kesehatan Tradisonal.

·       Peraturan Menteri Kesehatan RI, No. : 1076/Menkes/SK/2003 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Tradisional

·       Peraturan Menteri Kesehatan RI, No. : 1109/Menkes/Per/IX/2007 tentang penyelenggaraan pengobatan komplementer-alternatif di fasilitas pelayanan kesehatan.

·       Keputusan Direktur Jenderal Bina Pelayanan Medik, No. HK.03.05/I/199/2010 tentang pedoman kriteria penetepan metode pengobatan komplementer – alternatif yang dapat diintegrasikan di fasilitas pelayanan kesehatan.

Jenis pelayanan pengobatan komplementer – alternatif berdasarkan Permenkes RI, Nomor : 1109/Menkes/Per/2007 adalah :

·  Intervensi tubuh dan pikiran (mind and body interventions) : hipnoterapimediasi, penyembuhan spiritual, doa dan yoga.

·  Sistem pelayanan pengobatan alternatif : akupuntur, akupresur, naturopati, homeopati, aromaterapi, ayurveda.

·  Cara penyembuhan manual : chiropractice, healing touch, tuina, shiatsu, osteopati, pijat urut.

·  Pengobatan farmakologi dan biologi: jamu, herbal, gurah.

·  Diet dan nutrisi untuk pencegahan dan pengobatan : diet makro nutrient, mikro nutrient.

·  Cara lain dalam diagnosa dan pengobatan : terapi ozon, hiperbarik, EECP.

Baca Selengkapnya

Dua Kesadaran : Ego Partisipan dan Ego Pengamat

10 November 2014

Setiap klien yang masuk kondisi hipnosis, sedalam apapun, tetap sadar sepenuhnya. Sadar dalam hal ini merujuk pada fungsi ego yang berbeda, yang tetap aktif pada satu saat. Hilgard (1977), Fromm dan Shor (1979) dan beberapa pakar lain menemukan keberadaan dua fungsi ego yang umum terjadi dalam hipnosis atau yang dialami oleh klien: (a) ego partisipan, yaitu yang melepas kendali atas fungsi kritis dan menyerahkannya pada terapis yang ia percaya atau kepada ego yang mengendalikan proses hipnosis yang dilakukan sendiri (self hypnosis), dan (b) ego pengamat, yang tetap mempertahankan fungsi kritis dan mengawasi/mengamati derajat keterlibatan ego partisipan. Nash (1991) merujuk fenomena ini sebagai pengalaman pemisahan (experienced separation) antara niat untuk tunduk dan kesadaran akan niat itu.

Klien dalam kondisi hipnosis tetap dalam kondisi sadar penuh dan tidak di bawah kendali terapis. Klien, karena tetap dalam keadaan sadar penuh, dapat menolak, melawan, atau mengabaikan sugesti yang merugikan diri mereka atau yang tidak sejalan dengan nilai-nilai hidup klien (Lynn, Rhue, dan Weekes, 1990).

Pengalaman hipnosis menjadi pengalaman yang aman dan membuat ego partisipan teregresi ke situasi yang jauh lebih awal karena keberadaan ego pengamat yang tetap memegang kendali penuh diri klien. Ego pengamat ini jugalah yang mampu menerjemahkan representasi simbolik dari gambar mental dan mimpi karena ia mampu mengakses informasi yang terpisah (split off) dari pengalaman sadar (Hilgard, 1973, 1974).

Dalam riset mereka terhadap mimpi hipnotik, dengan atau tanpa mengaktifkan ego pengamat sebagai penerjemah, Pinnel, Lynn, dan Pinnel (1998) menemukan bahwa pengaruh sugesti yang meminta keterlibatan ego pengamat menghasilkan materi yang berasal dari proses primer. Tanpa sugesti, ego pengamat masih berfungsi, namun ego partisipan lebih memiliki kebebasan untuk turut serta dalam kegiatan proses primer.

Ego pengamat, saat dipanggil untuk tampil dan aktif, berdiri di antara jembatan yang menghubungkan antara si pemimpi dan pemikir, antara fungsi ego-reseptif dan ego-aktif. Peneliti juga menemukan bahwa mimpi yang dilaporkan oleh subjek yang dihipnosis mengandung lebih banyak proses primer daripada mimpi yang yang dilaporkan oleh subjek yang tidak dihipnosis.

Freud (1900/1953a) mengidentifikasi dua mode fungsi mental yaitu fungsi proses primer, tipikal proses berpikir di masa kecil (anak-anak) dan yang kedua, fungsi proses sekunder, yang lebih matang, lebih dewasa.

Format utama proses berpikir primer adalah preverbal -  gambaran mental yang sangat aktif, cair, dan tampak mirip. Dalam mode ini, segala sesuatu bisa terjadi, bahkan yang tidak masuk akal sekalipun. Kemampuan berpikir kritis, logis, dan analitis menurun drastis saat seseorang dalam mode berpikir primer. Sebaliknya, proses berpikir sekunder sifatnya logis dan berurutan. Ia berfungsi lebih berdasar bahasa daripada gambar, dan berorientasi realita, diarahkan oleh fungsi kritis dan analitis dari ego.

Walau proses berpikir primer mendahului yang sekunder, dalam urutan perkembangan kognisi, proses ini tidak hilang dengan bertambahnya usia dan terus bertahan hingga usia dewasa (Brown dan Fromm, 1986) dan mengambil bentuk lain seperti kemampuan imajinasi dan karakteristik tidak logis seperti dalam aktivitas bermain, canda gurau, dan mimpi.

Terdapat berbagai kondisi kesadaran pada garis kontinum yang menghubungkan proses berpikir primer dan sekunder. Hal ini tampak saat kondisi kesadaran invididu bergeser dari fantasi ke realita, dari mimpi saat tidur ke kondisi sadar normal, dan dari kondisi tidak fokus, melamun, ke kondisi fokus penuh.

Bahkan di masa dewasa, kesukaan bermain dan kreativitas menggunakan regresi sebagai layanan ego, yang mana merupakan aspek yang diakses oleh hipnosis dalam proses penyembuhan. Kondisi ini disebut dengan regresi adaptif (Hartmann, 1936/1948). Kris (1934/1952) menggunakan istilah regresi sebagai layanan ego dan menjelaskan bagaimana para artis yang kreatif kembali ke mode berpikir primer yang dipenuhi dengan imajinasi dan daya khayal saat menghasilkan karya-karya mereka.

Dalam kondisi hipnosis ego melepas kendali atas fungsi kritis dan kembali ke proses berpikir primer, maka individu dapat membayangkan dan mengkonkritkan sesuatu yang abstrak seperti emosi yang sedang ia rasakan atau alami. Dalam mode berpikir primer inilah individu mampu mengalami fenomena yang oleh Orne (1959) disebut dengan trance logic

Baca Selengkapnya

Bukti Ilmiah Manfaat Hipnoterapi, Pendidikan Serta Kualifikasi Praktisi Hipnoterapi

6 November 2014

Pendahuluan

Akhir-akhir ini hipnoterapi mulai tumbuh subur di Indonesia, terutama di kota-kota besar. Namun demikian pemahaman masyarakat mengenai hipnoterapi nampaknya masih salah kaprah. Salah satu contoh, sebagian masyarakat belum sepenuhnya menyadari bahwa hipnoterapi sangat berbeda dengan hipnosis panggung (stage hypnosis) yang biasa disaksikan dalam acara hiburan di TV. Sebagian masyarakat juga tidak tahu perbedaan arti dari hipnosis, hipnotis, hipnoterapi, dan hipnoterapis.

Hipnosis adalah ilmu psikoneurofisiologis yang secara saintifik mendasarkan pada perubahan frekuensi dan amplitude gelombang otak dari kondisi beta ke kondisi delta yang mengakibatkan meningkatnya fokus, konsentrasi, dan penerimaan terhadap pesan-pesan mental yang diberikan kepada pikiran bawah sadar (Gunawan, 2012).

- Hipnotis adalah orang yang melakukan hipnosis.

- Hipnoterapi adalah terapi yang dilakukan dalam kondisi hipnosis.

- Hipnoterapis adalah orang yang melaksanakan hipnoterapi.

Praktik hipnoterapi dan program pendidikan praktisi hipnoterapi mulai banyak berkembang di Indonesia. Namun, sebagai bidang baru dalam ranah kesehatan, sejauh ini belum terdapat kesepakatan mengenai standar praktik maupun pendidikannya di Indonesia. Bagaimanapun juga, manfaat hipnoterapi sangat tergantung dari luas dan mendalamnya penguasaan seseorang mengenai teknik-teknik hipnoterapi yang efektif dan efisien yang didasari oleh riset-riset ilmiah.

Hipnoterapi sangat bermanfaat bagi klien bila dilakukan dengan teknik yang benar sesuai dengan prinsip kerja pikiran sadar dan bawah sadar, dan sebaliknya dapat membahayakan klien bila dilakukan tanpa penguasaan mendalam mengenai prinsip kerja pikiran sadar dan bawah sadar. Itulah sebabnya, profesi hipnoterapis perlu dikembangkan melalui standar pendidikan yang bukan hanya memelajari pengetahuan dan teknik hipnoterapi, melainkan sekaligus membentuk rasa tanggung jawab dan integritas peserta dalam melaksanakan fungsinya sebagai hipnoterapis. 

Bukti Ilmiah Manfaat Hipnoterapi

Hipnoterapi klinis adalah modalitas terapi yang telah diterima dan mendapat pengakuan dari American Psychological Association (APA) sebagai cabang ilmu psikologi di tahun 1960 dan merupakan divisi ke tiga puluh (Society of Psychological Hypnosis) dari lima puluh enam divisi dalam APA.

Di tahun 1955 British Medical Association menerbitkan laporan yang menyatakan bahwa hipnosis adalah alat bantu medis yang berharga. American Medical Association di tahun 1958 juga mengeluarkan pernyataan resmi bahwa hipnosis adalah modalitas terapi yang layak dan ilmiah. Sedangkan di tahun 1962 American Psychiatric Association juga mengakui hipnosis sebagai modalitas terapi yang layak untuk menangani beberapa masalah psikologis (Nash dan Barnier, 2008).

Barios (1970) telah melakukan survei berbagai literatur ilmiah dan membandingkan tingkat kesembuhan yang berhasil dicapai dengan modalitas terapi berbeda, dengan temuan sebagai berikut:  

- Psikoanalisa38% kesembuhan setelah dilakukan 600 sesi terapi.

 - Terapi perilaku (behavior therapy): 72% kesembuhan setelah dilakukan 22 sesi terapi.

- Hipnoterapi 93% kesembuhan setelah 6 sesi terapi.

Hipnoterapi klinis sesuai dengan pernyataan Barios (1970) lebih unggul dibandingkan psikonalisa dan terapi perilaku karena dapat langsung menembus faktor kritis pikiran sadar dan menjangkau pikiran bawah sadar di mana tersimpan berbagai program pikiran maupun emosi yang menjadi akar masalah yang berhubungan dengan atau yang menjadi penyebab berbagai gangguan emosi, perilaku, dan penyakit psikosomatis.

Pentingnya terapi dilakukan di pikiran bawah sadar karena pengaruh pikiran bawah sadar yang sangat besar terhadap hidup manusia. Hal ini sejalan denganhasil riset Azegedy-Maszak (2005) yang menyatakan bahwa pikiran bawah sadar bertanggungjawab, mempengaruhi, dan menentukan 95% hingga 99%proses aktivitas berpikir, sehingga pikiran bawah sadar menentukan hampir semua keputusan, tindakan, emosi, dan perilaku kita.

Hipnoterapi, menurut Tebbetts (1985), bekerja berdasar dua prinsip penting berikut. Pertama, sebagian besar perilaku maladaptif adalah hasil dari respon penyesuaian yang tidak tepat, yang dipilih untuk memenuhi kebutuhan masa kecil, yang tidak sesuai dengan situasi atau kondisi saat dewasa. Kedua, sebagian besar penyakit bersifat psikosomatis dan dipilih secara tidak sadar, sebagai upaya untuk lari dari situasi yang dianggap sebagai situasi dengan tekanan mental yang berlebih, yang disebabkan oleh emosi destruktif seperti kemarahan, kebencian, dendam, perasaan bersalah, dan takut.

Berdasarkan berbagai literatur dan pengalaman praktik selama hampir sepuluh tahun, penulis menyimpulkan bahwa hubungan antara satu atau beberapa kejadian dengan muatan emosi intens dan simtom yang muncul dalam diri klien, adalah sebagai berikut (Gunawan, 2012):

- Simtom/masalah adalah bentuk komunikasi dari pikiran bawah sadar ke pikiran sadar dengan muatan pesan yang spesifik.

- Simtom muncul atau tercipta melalui rangkaian proses yang selalu diawali dengan kejadian paling awal yang dinamakan akar masalah (ISE/initial sensitizing event) dan bisa diperkuat oleh beberapa kejadian lanjutan (SSE/subsequent sensitizing event).

- Simtom bertujuan melindungi individu dari hal-hal yang oleh pikiran bawah sadar dipersepsi merugikan atau membahayakan individu.

- Kekuatan dan intensitas simtom berbanding lurus dengan intensitas emosi yang mendasari munculnya simtom.

-Penyelesaian masalah efektif terjadi saat terjadi ketuntasan resolusi pada akar masalah.

-Pilihan simtom sepenuhnya bergantung pada dinamika pikiran bawah sadar individu.


Aplikasi hipnoterapi klinis oleh praktisi yang terlatih dan cakap mampu membantu klien mengatasi beragam masalah, antara lain meliputi aspek kesehatan, pekerjaan, karier, keuangan, rumah-tangga, relasional, sosial, spiritual, pengembangan diri dan lain-lain. Berikut ini adalah beberapa contoh aplikasi dan manfaat hipnoterapi klinis:

Tabel 1. Manfaat hipnoterapi untuk berbagai simtom

Masalah/Simtom

Manfaat

Rujukan

Amnesia psikogenik

Mengungkap memori yang terepresi akibat pengalaman traumatik

Crasilneck and Hall, 1975

Asma

Membantu meringankan simtom asma

Hackman, Stern, & Gershwin, 2000; Kohen, 1996; Ferreiro, 1993

Bayi sungsang

Membalik posisi bayi sungsang dalam kandungan

Mehl, 1994

Cemas

Mengurangi cemas

Barlow, 1996

Depresi

Membantu mengatasi depresi

Lynn, Kirsch, Barabasz, Cardena & Patterson, 2000

Dermatologi

Hipnosis membantu mengurangi/ menyembuhkan beragam masalah kulit.

Shenefelt, 2000; Ewin & Eimer, 2006; Goldstein, 2005

Enuresis

Mengurangi frekuensi dan menyembuhkan enuresis

Banerjee, Srivastav, & Palan, 1993; Gottsegen, 2003

 

Menyembuhkan fobia naik pesawat terbang

Kroger & Fezler, 1976

Fobia

Menyembuhkan fobia binatang seperti ular, anjing, tikus, dll

Lang et al., 1965; Daniels, 1976; Spiegel & Spiegel 1978; O’Brien, Cooley, Ciotti, & Henninger, 1981

 

Menyembuhkan fobia jarum suntik

Daniels, 1976

 

Menyembuhkan fobia tes atau ujian

Spies, 1979

Gangguan stres pascatrauma (PTSD)

Membantu mengatasi pengalaman disosiatif saat dan pascatrauma

Butler, Duran, Jasiukaitis, Koopman, & Spiegel, 1996; Christianson & Loftus, 1987

Imun Sistem

Meningkatkan jumlah sel T dan B

Ruyylasmith, et al., 1995

Irritable Bowel Syndrome

Mengurangi gangguan IBS

Gonsalkorale, Houghton, & Whorwell, 2000; Palsson, 2006; Palsson, Turner, Johnson, Burnett, & Whitehead, 2006; Whitehead 2006

Kelumpuhan histerikal

Menyembuhkan kelumpuhan histerikal

Bryan, 1961; Moskowitz,1964

Masalah Pencernaan

Memperbaiki kondisi/mengurangi sakit karena dispepsia fungsional

Calvert, Houghton, Cooper, Morris, & Whorwell, 2002

Merokok

Menghentikan kebiasaan merokok

Neufeld & Lynn, 1988

Migrain

Menyembuhkan migrain

Kukuruzovic, 2004

Perilaku obsesif kompulsif

Menghentikan dan menyembuhkan perilaku obsesif kompulsif

Watkins, 1971

 

Mengurangi kebutuhan obat penenang

Lang, Joyce, & Spiegal, 1996

Prosedur medis

Mengurangi/menghilangkan mual akibat kemoterapi

Meyers & Mark, 1995

 

Mengurangi kebutuhan obat analgesik dan lama masa inap di rumah sakit pascaoperasi.

Lang, Berotsh, & Fick, 2000

 

Mengurangi rasa sakit secara umum

Liossi & Hatura, 2003; Raz, 2005

 

Rasa sakit

Mengurangi rasa sakit temporomandibular disorder (TMD)

NIH/OAM, 1998

 

Mengurangi rasa sakit akibat luka bakar serius

Patterson, Adcock, & Bombardier, 1997; Ewin, 1986a, 1986b; Gilboa, Borensteim, Seidman, & Tsur, 1990

 

 

Serangan panik

Sama efektifnya seperti penggunaan obat untuk mengatasi serangan panik dan agorafobia

Gallo, 1999

 

Dalam jangka panjang lebih efektif daripada penggunaan obat-obatan

Barlow, 2000

Tics

Menyembuhkan tics

Dillenburger & Keenan, 2003

Trichotillomania (TTM)

Menyembuhkan TTM

Cohen, Barzilai, & Lahat, 1999; Rowen, 1981; Zalsman, Hermesh, & Sever, 2001

 

 Pendidikan dan Kualifikasi Praktisi Hipnoterapi

Untuk dapat mempraktikkan hipnoterapi klinis secara benar, efektif, efisien, dan berdasar kaidah ilmiah, setiap calon hipnoterapis harus menjalani pendidikan dan sertifikasi dengan standar tertentu.

Dua lembaga terkemuka yang menjadi acuan standar pelatihan dan sertifikasi hipnoterapi klinis dunia adalah American Council of Hypnotist Examiners (ACHE) dan American Society of Clinical Hypnosis (ASCH). Keanggotaan ACHE sifatnya terbuka dan bisa diikuti siapa saja yang telah mengikuti pendidikan dan tersertifikasi menurut standar ACHE. Sedangkan ASCH bersifat tertutup dan hanya bisa diikuti oleh dokter, psikiater, psikolog, konselor, atau perawat.

Untuk bisa mendapat sertifikasi hipnoterapi klinis menurut standar ASCH peserta harus menyandang gelar magister dalam disiplin ilmu yang berhubungan dengan kesehatan, memiliki ijin praktik resmi, mengikuti pelatihan yang diakreditasi oleh ASCH minimal 40 (empat puluh jam), mengikuti pelatihan/konsultasi individual selama minimal 20 jam dengan konsultan yang diakui oleh ASCH, dan menjalani praktik mandiri menggunakan hipnosis klinis selama dua tahun (Hammond, 1988).

ACHE menetapkan dua jenjang pendidikan dan sertifikasi dengan persyaratan berikut:

a. Certified Hypnotherapist (C.Ht)

    Peserta mengikuti pelatihan di lembaga pelatihan hipnoterapi yang terakreditasi oleh ACHE minimal selama 200 (dua ratus) jam tatap muka di kelas. Hipnoterapis juga harus lulus ujian tulis dan praktik sesuai standar ACHE.

b. Certified Clinical Hypnotherapist (CCH)

Peserta telah menyelesaikan pendidikan dan sertifikasi hipnoterapis dengan lama masa studi 300 (tiga ratus) jam tatap muka di kelas di lembaga hipnoterapi yang terakreditasi oleh ACHE.

Standar pendidikan dan sertifikasi yang ditetapkan dua lembaga terkemuka di atas, ACHE dan ASCH, tidak dapat sepenuhnya diterapkan di Indonesia, terutama syarat minimal pendidikan S2 dan lama masa pendidikan selama 200 hingga 300 jam.

Idealnya, syarat memelajari hipnoterapi klinis adalah minimal sarjana strata satu dengan lama masa pendidikan 100 (seratus) jam untuk sertifikasi hipnoterapis (C.Ht) dan 200 (dua ratus) jam untuk hipnoterapis klinis (CCH). Setiap jenjang dilaksanakan selama sembilan hari yang terbagi menjadi tiga kali pertemuan masing-masing selama tiga hari penuh.

Penutup

Uraian di atas telah menjelaskan secara singkat pengertian dari hipnoterapi, bukti ilmiah manfaat hipnoterapi, pendidikan serta kualifikasi praktisi hipnoterapi. Khususnya mengenai pendidikan, selain menyajikan materi sesuai dengan kurikulum, untuk mengembangkan tanggung jawab dan integritas para peserta, penulis sebagai pelaksana pendidikan profesi hipnoterapis telah menegakkan standar praktik hipnoterapi. Peserta yang telah lulus dalam pendidikan mendapatkan sertifikat praktik yang berlaku selama satu tahun, sepanjang alumni yang bersangkutan melaksanakan praktik terapi sesuai protokol yang telah ditetapkan. Perpanjangan sertifikat praktik dilakukan tiap tahun dengan persyaratan tertentu untuk menjaga kesinambungan mutu layanan. Mutu layanan juga dirawat melalui ruang konsultasi yang disediakan melalui milis.

Harapan penulis, semoga penegakan standar yang tinggi seperti ini juga dilaksanakan oleh lembaga-lembaga lain yang menyelenggarakan pendidikan praktisi hipnoterapi. Dengan standar yang memadai tentu saja hipnoterapi layak untuk diakui secara formal oleh pemerintah (melalui Depkes) dan diberikan tempat yang terhormat, sejajar dengan profesi kesehatan lainnya.

 

Catatan:

Saat presentasi di Jakarta beberapa waktu lalu, saya menjelaskan detil kurikulum pendidikan dan sertifikasi CHt (certified hypnotherapist) dan CCH (certified clinical hypnotherapist). Dalam artikel di atas sengaja tidak saya cantumkan karena akan sangat panjang uraiannya. Demikian juga daftar rujukan saya sertakan lengkap dalam artikel yang dibagikan saat presentasi namun tidak dalam artikel ini karena cukup banyak.

Baca Selengkapnya

Mengenal dan Memahami Faktor Kritis

12 Oktober 2014

Setiap bahasan tentang hipnosis dan hipnoterapi pasti juga membahas faktor kritis (critical factor). Faktor kritis adalah bagian yang tidak terpisahkan dengan hipnosis. Hal ini sangat jelas tampak dalam definisi hipnosis menurut U.S. Dept. of Education, Human Services Division yang menyatakan bahwa hypnosis is the by-pass of the critical factor of the conscious mind followed by the establishment of acceptable selective thinking atau hipnosis adalah penembusan faktor kritis pikiran sadar diikuti dengan diterimanya suatu pemikiran selektif (sugesti).

Berdasar definisi di atas tampak bahwa kondisi hipnosis hanya bisa terjadi bila memenuhi dua syarat. Pertama, terjadi penembusan faktor kritis dari pikiran sadar dan kedua, diterimanya suatu pemikiran selektif atau sugesti.

Apa sebenarnya faktor kritis yang dimaksud dalam definisi di atas?

Faktor kritis adalah filter mental terletak di antara pikiran sadar dan pikiran bawah sadar, menyimpan sistem kepercayaan atau segala hal yang kita pikir, tahu, yakin, atau rasa sebagai hal yang benar menurut kita.

Walau terletak di antara pikiran sadar dan bawah sadar, filter ini bekerja semata demi kebaikan dan keuntungan pikiran bawah sadar. Filter ini menjaga dan melindungi setiap data yang dianggap, diyakini, dipikirkan, dipersepsikan, diasumsikan, atau dirasa benar, yang telah tersimpan di pikiran bawah sadar, agar tidak mudah berubah atau diubah karena masuknya informasi baru yang berbeda dengan data sebelumnya.

Faktor kritis mulai terbentuk saat anak berusia tiga tahun karena pada usia inilah pikiran sadar baru mulai aktif. Seiring dengan pertumbuhannya, pikiran anak menyerap sangat banyak informasi dan digunakan sebagai acuan untuk berpikir atau bertindak.

Sayangnya, saat masih kecil, anak belum mampu berpikir kritis, belum memiliki data yang memadai sebagai pembanding, faktor kritis belum terbentuk, sehingga informasi apapun yang ia terima dari lingkungan terutama dari figur otoritas seperti orangtua dan guru diterima sebagai kebenaran.

Kekuatan faktor kritis dalam melakukan penyaringan informasi yang diijinkan masuk ke pikiran bawah sadar ditentukan oleh jumlah data yang sudah ada dan seberapa yakin dan percaya seseorang akan kebenaran data ini. Semakin banyak data, semakin yakin dan percaya, semakin kuat faktor kritis bekerja melakukan penyaringan informasi.

Saat satu bentuk pikiran atau data diterima atau dianggap benar menurut kita, karena sejalan dengan data yang telah ada di pikiran bawah sadar, atau sejalan dengan sistem kepercayaan kita, maka ia akan diijinkan melewati faktor kritis dan masuk ke pikiran bawah sadar. Di pikiran bawah sadar bentuk pikiran atau data ini mulai menstimulasi fungsi-fungsi pikiran bawah sadar yaitu imajinasi, memori, dan emosi.

Bila bentuk pikiran atau data yang akan masuk ternyata tidak sejalan atau bertentangan dengan data yang telah lebih dulu ada dan diterima sebagai kebenaran maka data ini akan ditolak sehingga tidak bisa melewati atau menembus faktor kritis.

Mengacu pada banyak kasus klinis yang telah ditangani, kami sampai pada satu simpulan penting mengenai fungsi faktor kritis. Data yang ditolak oleh faktor kritis tidak berarti serta merta hilang tak berbekas. Data ini tetap dapat masuk ke pikiran bawah sadar dan disimpan di segmen memori khusus untuk menyimpan berbagai data yang tidak digunakan.

Sedangkan bila data berhasil melewati faktor kritis maka ia akan disimpan di segmen memori yang khusus digunakan sebagai bagian dari sistem kepercayaan yang memengaruhi dan menentukan cara berpikir, sikap, perilaku, kebiasaan, dan hidup kita secara keseluruhan. Data baru ini akan semakin menguatkan kebenaran data lama.

Data yang tadinya dianggap salah, dan tidak berhasil melewati faktor kritis, suatu saat dapat berpindah ke memori tempat menyimpan data yang dianggap benar bila terjadi perubahan pada (sistem) kepercayaan yang menjadi dasar kerja faktor kritis. Perubahan ini bisa terjadi karena upaya yang dilakukan oleh klien sendiri atau dengan bantuan terapis.

Contoh konkritnya seperti ini. Ada banyak orang yang tidak suka atau merasa tidak nyaman dengan hipnosis atau hipnoterapi. Data lama di pikiran bawah sadar mereka mengatakan bahwa hipnosis adalah praktik supranatural, menggunakan jin atau makhluk halus, tidak ilmiah, dan menggunakan kuasa gelap. Dari mana mereka mendapat data ini? Dari informasi yang salah, pemberitaan di media massa, dan figur otoritas tertentu.

Apapun yang dilakukan untuk meyakinkan orang ini, dengan kata lain memberi sugesti atau data untuk menembus faktor kritisnya, tidak bisa. Data ini ditolak dengan sangat kuat oleh faktor kritis.

Namun, saat ia mulai membaca publikasi ilmiah tentang hipnosis dan hipnoterapi dan manfaatnya untuk peningkatan kualitas hidup manusia, dan mungkin juga ada figur otoritas lain yang memberi informasi bahwa hipnosis dan hipnoterapi sangat ilmiah dan bermanfaat, maka informasi ini mulai berhasil menembus faktor kritisnya. Hingga satu saat ia mendapat pemahaman yang benar.

Saat ia mendapat pemahaman yang benar, terjadi perubahan pada data di pikiran bawah sadarnya, apa yang ia tahu, rasa, dan yakini benar tentang hipnosis dan hipnoterapi juga berubah. Dan semua informasi yang tadinya tersimpan di segmen memori untuk data yang tidak digunakan kini berpindah ke segmen memori untuk data yang digunakan.

Kini, bila ada orang yang mengatakan bahwa hipnosis dan hipnoterapi adalah kuasa gelap, klenik, tidak ilmiah, dan sebagainya, data-data ini justru ditolak oleh faktor kritisnya. Ia akan bersikeras mengatakan hipnosis dan hipnoterapi sangatlah ilmiah, baik, bermanfaat, dan adalah salah satu cabang ilmu psikologi. Apalagi bila ia telah mengikuti pelatihan hipnosis dan hipnoterapi, berpraktik sebagai hipnoterapis klinis yang telah membantu banyak kliennya berubah, berhasil mengatasi masalah, dan menjadi pribadi yang lebih baik, lebih sukses, damai, dan bahagia. Dalam kondisi ini tidak ada siapapun yang bisa mengubah keyakinannya mengenai manfaat hipnosis dan hipnoterapi.  

Inilah proses yang terjadi pada diri seorang yang membenci atau skeptis akan sesuatu dan akhirnya menjadi fanatik.

Dalam konteks hipnoterapi klinis, masalah yang berhubungan dengan emosi dan atau perilaku selalu disebabkan adanya satu atau beberapa pikiran dominan yang memengaruhi dan mengendalikan diri klien. Pikiran dominan ini masuk atau dimasukkan ke pikiran bawah sadar umumnya dalam rentang usia antara sejak lahir hingga sekitar tiga belas tahun.

Saat klien jumpa terapis, umumnya sudah berusia jauh di atas tiga belas tahun, data yang terekam di pikiran bawah sadar dan mengendalikan diri klien sulit diubah atau diganti karena dilindungi oleh faktor kritis.

Untuk dapat menembus faktor kritis dengan leluasa dan melakukan modifikasi data dibutuhkan kondisi hipnosis atau trance. Semakin dalam kondisi hipnosis yang berhasil dicapai klien, semakin lemah kekuatan faktor kritis. Dalam kondisi hipnosis yang (sangat) dalam, faktor kritis tidak bekerja sehingga terapis leluasa membantu klien melakukan restrukturisasi data di pikiran bawah sadar sesuai tujuan terapi.

Dengan membaca uraian di atas kini jelas bahwa perubahan sulit dilakukan karena, salah satunya adalah, kerja faktor kritis yang bertujuan melindungi konten pikiran bawah sadar. Mekanisme proteksi ini demi kebaikan individu. Kebaikan ini justru menjadi sumber masalah saat individu ingin berubah namun mengalami kendala juga oleh karena kerja faktor kritis. 

Baca Selengkapnya

Memahami dan Memanfaatkan Trance

2 Oktober 2014

“Saya tidak bisa dihipnosis” demikian komentar seorang klien saat pertama kali jumpa saya. “Saya sudah menjalani hipnoterapi tapi terapisnya tidak berhasil menghipnosis saya. Kata terapisnya saya adalah tipe klien yang tidak bisa dihipnosis” begitu komentar klien lainnya.

Banyak orang yang masih salah mengerti mengenai kondisi trance atau hipnosis. Menurut mereka trance adalah suatu kondisi yang diciptakan oleh terapis. Yang benar, klien mengikuti dan merespon sesuai dengan bimbingan terapis sehingga mereka mengalami kembali kondisi kesadaran alamiah yang disebut dengan trance.

Trance atau kondisi hipnosis adalah kondisi pikiran yang secara alamiah dialami setiap individu. Dalam menjalankan aktivitas sehari-hari setiap individu pasti secara alamiah dan berkelanjutan masuk dan keluar kondisi trance. Kedalaman trance yang mereka masuki berbeda antara satu individu dengan yang lain dan juga berbeda dari waktu ke waktu. Semuanya terjadi secara alamiah dan mudah.

Berhubung trance adalah sesuatu yang alamiah dan adalah bagian tak terpisahkan dari hidup maka seringkali orang tidak menyadarinya. Akibatnya, mereka sulit mengendalikan kapan mau masuk dan keluar dari trance. Dan yang lebih sulit lagi mereka tidak bisa secara sadar atau sengaja masuk ke kedalaman trance tertentu.

Berikut ini adalah beberapa contoh fenomena trance alamiah yang sering kita alami:

Peristiwa

Penjelasan

Kedalaman

Anda sedang mengendarai sepeda motor atau mobil. Pikiran sadar Anda sibuk memikirkan hal lain dan tanpa disadari Anda telah tiba di tujuan.

 

Hipnosis jalan raya atau hi-way hypnosis.

Light trance

Anda berusaha mengingat kembali informasi yang pernah Anda dengar, lihat, atau baca.

 

Pencarian ke dalam diri, mengakses memori.

Light trance

Melamun, pikiran melayang atau membayangkan sesuatu.

 

Aktivitas pikiran sadar berkurang.

Light trance

Saat sedang asyik melakukan sesuatu, pikiran dan perhatian kita tercerap pada kegiatan itu dan tanpa disadari waktu berlalu begitu cepat.

 

Distorsi waktu yang disebut dengan kontraksi waktu.

 

Medium to deep trance

Anda pulang kerja dan duduk di depan tv. Lima menit kemudian Anda menjadi agak mengantuk sambil terus menyaksikan acara televisi.

 

Pikiran sadar Anda tidak lagi aktif saat menyaksikan tv.

Medium trance

Waktu masih kecil, kepala atau lutut Anda terantuk dan cukup sakit. Anda menangi. Ibu datang mengusap-usap bagian yang sakit sambil berkata, “Nah… sekarang sudah tidak sakit. Sakitnya sudah Ibu ambil. Sudah nyaman kan…”, dan tiba-tiba sakitnya hilang.

 

Anestesi dengan sugesti oleh figur otoritas.

Medium trance

Saat sedang fokus membaca buku atau bekerja di depan komputer Anda tidak mendengar suara orang memanggil Anda.

 

Halusinasi negatif auditori.

Deep trance

Anda mencari kunci dan tidak berhasil menemukannya. Padahal kuncinya ada di depan Anda tapi Anda tidak bisa melihatnya.

 

Halusinasi negatif visual.

Deep trance

Waktu pacaran, waktu berlalu begitu cepat. Sehari terasa seperti satu jam.

 

Distorsi waktu yang disebut dengan kontraksi waktu.

 

Deep trance

Anda mengalami luka namun tidak merasakannya. Beberapa saat kemudian Anda baru menyadarinya.

 

Anestesi spontan

Deep trance

Anda berbaring di ranjang dan ingin tidur. Tiba-tiba merasa tubuh Anda menjadi kaku dan tidak bisa digerakkan. Orang menyebut kondisi ini dengan istilah “ketindihan”.

 

Katatonia

Very deep trance

 

Lalu, apa hubungan uraian di atas dengan hipnoterapi?

Hipnoterapi adalah proses yang dilakukan secara sistematis dan terstruktur dengan tujuan menimbulkan trance atau kondisi hipnosis alamiah dalam diri klien dan menggunakannya untuk tujuan perubahan dan modifikasi perilaku yang bersifat terapeutik.

Dalam membantu klien, sebelum melakukan terapi, terapis secara sengaja, terstruktur, dan sistematis membimbing klien, dengan teknik tertentu, untuk mengakses dan memunculkan trance yang biasa klien alami. Berbeda dengan trance yang secara alamiah klien alami, yang sangat sulit atau tidak bisa mereka kendalikan secara sadar, terapis, dalam proses membantu klien, bisa membimbing klien masuk ke kedalaman trance tertentu, memperdalam trance, atau justru mengurangi kedalaman trance yang dialami klien sesuai dengan tujuan dan teknik terapi yang digunakan. Terapis dapat mempertahankan klien di kedalaman trance tertentu, melakukan terapi, dan setelahnya membimbing klien keluar dari trance.

Dengan pemahaman ini, saat klien mengatakan bahwa ia tidak bisa dihipnosis atau tidak bisa masuk kondisi hipnosis saat dibimbing oleh terapis maka yang terjadi sesungguhnya adalah klien, karena sesuatu hal, biasanya karena adanya perasaan takut, tidak merespon bimbingan terapis sehingga tidak bisa mengakses kondisi trance alamiah yang biasa ia alami.

Kemungkinan lain klien tidak bisa dibimbing masuk kondisi hipnosis atau trance adalah karena memang terapisnya tidak cakap. Bisa juga terjadi klien sebenarnya sudah trance namun ia merasa tidak atau belum masuk kondisi hipnosis karena pemahaman yang kurang tepat atau salah tentang trance.

Beberapa pemahaman yang salah ini antara lain saat dalam kondisi hipnosis seseorang akan kehilangan kesadaran, atau pikirannya berhenti total, atau tubuhnya menjadi sangat rileks sehingga sulit/tidak bisa digerakkan, atau tidak bisa memikirkan hal lain, atau tidak bisa mendengar suara lain selain suara terapis, atau ia akan menjadi seperti robot yang melakukan apapun yang diminta oleh terapis.

Dengan memahami kedalaman trance dan fenomena mental dan fisik pada setiap kedalaman trance, terapis dalam membimbing klien ke kedalaman tertentu demi kebaikan klien.

Misalnya untuk melakukan regresi, terapis akan membimbing klien ke deep trance. Untuk anestesi dengan sugesti, terapis hanya perlu membimbing klien ke medium trance. Bila anestesi ini untuk operasi besar atau membantu wanita melahirkan dengan nyaman maka kedalaman yang dibutuhkan adalah deep trance

Baca Selengkapnya

Hipnoterapi Klinis untuk Mengatasi Perilaku Seksual yang Tidak Biasa

19 September 2014

Saya sengaja tidak menggunakan kalimat “penyimpangan seksual” karena menghindari kesan menghakimi. Perilaku seksual, dalam hemat saya, adalah tanggung jawab dan pilihan tiap individu. Dan apapun yang menjadi keputusan dan pilihan sepenuhnya adalah hak masing-masing dan perlu dihargai. Sebagai terapis, saya tidak dalam posisi membenarkan atau menyalahkan. Posisi saya netral dan hanya bertugas membantu klien mengatasi masalah mereka.

Dalam artikel ini yang dimaksud dengan perilaku seksual yang tidak biasa adalah homoseksual dan lesbian. Homoseksual, dalam pemahaman umum, adalah pria yang suka/cinta atau melakukan hubungan seks dengan sesama pria. Menurut KBBI, homoseks adalah hubungan seks dengan pasangan sejenis, bisa pria dengan pria atau wanita dengan wanita. Sedangkan lesbian adalah wanita yang mencintai atau merasakan rangsangan seksual sesama jenisnya atau wanita homoseks. Untuk kondisi di mana hubungan yang melibatkan dua insan dengan jenis kelamin berbeda disebut dengan heteroseksual.

Saya teringat beberapa waktu lalu seorang klien pria, usia sekitar, 30 tahun, datang ke saya minta diterapi. Klien ini mengaku homoseks dan ia datang atas permintaan tantenya agar saya “betulkan” dan kembali menjadi pria “normal”.

Saya tentu tidak serta merta melakukan terapi. Melalui wawancara mendalam saya akhirnya tahu bahwa ia memutuskan menjadi homoseks karena alasan tertentu. Ia juga nyaman menjalani hidup sebagai homoseks.

Usai mendengar ceritanya saya bertanya, “Apa yang ingin saya bantu?”

“Apakah saya perlu berubah menjadi laki-laki normal yang suka dengan perempuan, bukannya menyukai sesama pria seperti yang sekarang saya jalani?” ia balik bertanya.

“Apakah Anda ingin menjadi pria normal seperti yang Anda sebutkan tadi?” tanya saya.

“Tidak. Saya nyaman dengan hidup seperti ini, sebagai homo” jawabnya tegas.

“Bila Anda sudah nyaman dan merasa tidak perlu berubah maka saya tidak perlu melakukan apapun” jawab saya.

Saya beberapa kali menangani kasus homoseks. Sedangkan untuk kasus lesbian jarang. Mungkin karena saya terapis pria sehingga wanita agak kurang nyaman bila mendiskusikan kondisi mereka dengan saya.

Ada asumsi yang salah di masyarakat yang menyatakan bahwa homoseks atau lesbian ini adalah karena faktor bawaan sejak lahir. Benar, bisa saja seseorang menjadi homoseks atau lesbian karena faktor genetik namun seringkali, dari pengalaman klinis kami, lebih disebabkan oleh pengaruh proses tumbuh kembang dan pengalaman traumatik seperti pelecehan seksual waktu kecil.

Dalam beberapa kasus homoseksual yang pernah saya tangani, setiap kali sebelum melakukan terapi saya selalu minta klien untuk konsultasi ke dokter terlebih dahulu. Biasanya dokter akan melakukan serangkaian tes untuk memastikan bahwa secara fisik ia benar-benar pria. Bila secara fisik ia adalah pria maka saya dapat membantu dengan hipnoterapi klinis.

Berikut ini adalah beberapa contoh kasus yang pernah kami tangani. Saya tidak menjelaskan teknik yang digunakan untuk membantu klien-klien ini karena akan sangat teknis. Demi menjaga kerahasiaan dan privasi saya mengganti nama klien yang diceritakan di artikel ini.  

Semua Wanita Jahat

Budi, mahasiswa berusia 20 tahun, datang ke saya karena ingin menjadi kembali normal. Menurutnya, kondisinya tidak normal karena ia adalah homoseks. Sebelum memutuskan menjalin relasi dengan beberapa pria, Budi pernah mencoba menjalin relasi dengan wanita namun gagal. Masa pacarannya, dengan beberapa wanita itu, hanya sekitar satu hingga tiga bulan. Walau ia sangat suka dengan pacarnya, demikian pula sebaliknya, namun tanpa alasan yang jelas hubungan mereka putus di tengah jalan. Ini terjadi beberapa kali.

Masih dari hasil wawancara diketahui bahwa saat menjalin relasi dengan sesama pria, dan terutama saat berhubungan seks Budi berperan sebagai wanita. Temuan ini sangat penting karena menunjukkan ia sebagai penerima bukan pemberi. Dan ia sebenarnya tidak menikmati hubungan seks yang dilakukan dengan pasangan prianya. Yang ia butuhkan adalah perhatian dan kasih sayang.

Melalui hipnoanalisis mendalam didapatkan temuan menarik. Saat masih kecil, sekitar usia lima tahun, Budi sempat mendapat perlakukan cukup kasar dari Ibunya. Saat Budi melakukan kesalahan yang sebenarnya sepele, si Ibu marah besar, memukul, dan mencakar wajah Budi.

Dalam kondisi yang takut sekali saat itu Budi berkata, “Memang perempuan itu jahat.” Kalimat ini tampak biasa saja, namun implikasinya sangatlah luar biasa. Apalagi bila diucapkan saat dalam kondisi emosi yang intens.

Kalimat “Memang perempuan itu jahat” adalah satu bentuk generalisasi dan menjadi program pikiran atau kepercayaan yang mengarahkan hidup Budi. Program ini yang membuat Budi tidak bisa menjalin relasi dengan wanita hingga akhirnya ia memutuskan menjalin relasi dengan pria.

Saat pengalaman traumatik ini berhasil diselesaikan di pikiran bawah sadarnya, dorongan untuk berhubungan dengan pria langsung berhenti.

Saya Malu Menjadi Wanita

Seorang klien wanita usia 35 tahun, sebut saja sebagai Ani, tertarik pada sesama wanita karena ia merasa lebih nyaman menjadi seorang pria. Ia benci menjadi seorang wanita, padahal secara fisik ia wanita tulen, bisa hamil, dan sudah punya anak.

Melalui proses pencarian di pikiran bawah sadarnya ditemukan bahwa ia mengalami penolakan oleh ayahnya sejak dalam kandungan. Saat itu ayahnya berkata pada ibunya, “Saya mau anak kita berikut ini laki. Saya tidak mau kalau ini perempuan.”

Saat Ani lahir, dan ternyata adalah perempuan, ayahnya menolak untuk melihatnya. Ayahnya juga tidak mau menimangnya. Demikianlah penolakan ini berlanjut hingga ke masa remajanya. Ayahnya berulang kali menyampaikan pada Ani bahwa sebenarnya ia berharap Ani adalah anak laki, bukan perempuan.

Sikap dan perilaku ayahnya juga mendorong Ani untuk tumbuh besar menjadi “laki-laki”. Ayahnya sama sekali tidak memberi penghargaan bila Ani berhasil mencapai prestasi tertentu di bidang yang biasa dilakukan anak perempuan, misalnya menari, menyanyi, melukis. Namun, saat Ani berhasil juara di bidang yang biasa dilakukan anak laki, misalnya lomba tarik tambang, karate, panjat dinding, maka ayahnya memberi penghargaan secara luar biasa.

Ternyata dorongan Ani untuk suka pada sesama wanita didorong oleh satu Bagian Diri yang ingin menonjol dan menjadi pria agar mendapat penghargaan, pengakuan, dan penerimaan dari ayahnya. Kerinduan inilah yang selama ini mendorong ia untuk terus berusaha menjadi pria dengan segala karakternya.

Saat pengalaman traumatik yang berasal dari penolakan si ayah berhasil diatasi, Ani akhirnya bisa menerima dirinya seutuhnya dan justru merasa sangat bersyukur dan bahagia menjadi seorang wanita. Ia juga bisa memahami dan memaafkan ayahnya dengan tulus dan ikhlas.

Saya Mau dengan Pria tapi Takut

Satu klien lagi, Rita, 27 tahun, mengaku sulit bila menjalin relasi dengan pria. Ada perasaan takut yang tidak jelas asalnya setiap kali ia menjalin relasi dengan pria. Ia lebih nyaman bila berhubungan dengan wanita, termasuk dalam hal seks. Dari hasil wawancara diketahui bahwa tidak ada pengalaman traumatik yang membuat Rita sulit menjalin relasi dengan pria dan lebih nyaman dengan wanita. Rita pertama kali berhubungan seks dengan sesama wanita, teman kosnya, saat ia masih SMA.

Namun, dari hasil penggalian di pikiran bawah sadarnya ditemukan hal menarik. Rita, saat masih kecil, usia sekitar 6 tahun, beberapa kali mengalami pelecehan seksual oleh pembantu pria yang bekerja di rumahnya. Secara sadar, setelah dewasa, Rita tidak lagi ingat kejadian ini. Rupanya, pikiran bawah sadar Rita secara sengaja menyembunyikan pengalaman traumatik ini sehingga Rita mengalami amnesia.

Perasaan takut pada pria karena pernah mengalami pelecehan seksual waktu kecil dan juga kenikmatan yang ia dapat saat berhubungan dengan teman satu kosnya telah mendorong Rita untuk menjadi seorang lesbian.

Saat emosi pada dua pengalaman ini berhasil diselesaikan maka Rita tidak lagi takut dengan pria dan tidak lagi tertarik pada wanita. Ia kini merasa nyaman dan aman menjalin relasi dengan pria.

Pada beberapa kasus lain, ada klien pria atau wanita yang melakukan seks bebas, umumnya dengan pria atau wanita yang lebih tua, demi mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari seseorang yang dipandang bisa mengganti ayah atau ibunya. Klien ini pada masa kecilnya sering diabaikan atau tidak mendapat kasih sayang yang cukup.  

Kesimpulannya, bila homoseks dan lesbian bukan disebabkan oleh faktor fisik maka dapat dibantu dengan hipnoterapi klinis, dengan catatan klien bersedia menjalani sesi konseling dan atau terapi atas kesadarannya sendiri. Bila klien datang karena permintaan orang lain, misalnya keluarga, maka hasilnya tidak akan pernah bisa maksimal.

 

 

Baca Selengkapnya
Tampilan : Thumbnail List