The only hypnotherapy school in Indonesia approved by American Council of Hypnotist Examiners (ACHE), USA
Di milis baru-baru ini ramai dibahas mengenai memaafkan dan melupakan. Ada yang mengalami suatu pengalaman yang menyakitkan dan merasa sulit untuk memaafkan. Ada yang merasa sudah memaafkan namun kok nggak bisa melupakan. Apakah memaafkan sama dengan melupakan?
Saya menjelaskan mengenai efek dan khasiat memaafkan di artikel Forgiveness is The True Healer. Ini adalah artikel yang saya posting di web saya beberapa waktu lalu.
Bagaimana sih kok kita ini sampai bisa punya masalah, khususnya yang berhubungan dengan emosi negatif?
Sebenarnya semua emosi itu positif. Namun untuk memudahkan penjelasan maka saya “mengkategorikan” emosi seperti marah, kecewa, dendam, benci, terluka, sakit hati, perasaan bersalah, takut, cemas, khawatir, dan kawan-kawannya sebagai emosi negatif. Emosi negatif adalah emosi yang bila kita rasakan atau alami akan sangat mengganggu kita.
Pertanyaannya sekarang adalah, “Dari manakah sebenarnya emosi ini?”
Emosi muncul sebagai hasil dari suatu pemaknaan. Setiap kejadian adalah netral. Tidak ada kejadian yang baik atau jelek. Semua bergantung pada diri kita sendiri. Kita memberikan makna pada kejadian itu berdasarkan persepsi kita. Persepsi dipengaruhi oleh belief system kita. Jadi, ujung-ujungnya sebenarnya bicara soal belief system atau sistem kepercayaan.
Nah, begitu kita memberikan makna pada suatu kejadian atau peristiwa maka emosi yang muncul bisa berupa emosi positif, emosi negatif, atau netral.
Lalu, bagaimana kita bisa melupakan dan memaafkan, atau memaafkan dan melupakan?
Pertama, yang perlu diluruskan adalah kita bisa memaafkan namun kita tidak akan bisa melupakan. Semua yang pernah kita alami tersimpan di memori di pikiran bawah sadar kita. Yang kita lakukan, khususnya hipnoterapis, adalah menetralisir emosi negatif dengan teknik terapi tertentu. Selama emosi negatif ini tidak berhasil dinetralisir maka kita akan selalu diganggu oleh memori tersebut. Memori ini kadang muncul, kadang hilang. Nanti muncul lagi, lalu hilang lagi. Demikian seterusnya.
Sebelum saya teruskan, ada yang perlu saya jelaskan mengenai memori. Memori adalah data yang disimpan di pikiran bawah sadar kita. Data ini berisi beberapa hal yang berhubungan dengan suatu kejadian atau peristiwa, antara lain:
1.Waktu terjadinya
2.Lokasi kejadian
3.Siapa saja yang terlibat
4.Gambar/image
5.Suara
6.Bau
7.Rasa
8.Sensasi perabaan
9.EMOSI.
Yang membuat masalah sebenarnya bukan komponen 1 sampai 8, tapi yang no 9, emosi. Komponen emosi muncul sebagai hasil dari pemaknaan.
Nah, untuk memaafkan maka kita harus bisa menetralisir emosi ini. Selama emosi tidak berhasil dinetralisir maka kekuatan penolakan, untuk tidak memaafkan, akan sangat kuat. Re-edukasi pikiran bawah sadar, misalnya memberikan pemaknaan baru terhadap kejadian yang tadinya dirasa menyakitkan, baru bisa berjalan efektif, mudah, dan permanen saat emosi ini telah kita bereskan. Untuk lebih jelas mengenai hal ini bisa membaca Teori Tungku Mental.
Setelah emosi dibereskan maka kita tetap bisa mengingat semua kejadian atau pengalaman namun sudah tidak lagi terpengaruh. Kita mengingat pengalaman itu hanya sebagai suatu kenangan dengan intensitas emosi yang netral.
Saat emosi berhasil dibereskan, saat inilah kita dinyatakan sembuh. Jadi yang menjadi sumber masalah selama ini adalah emosi (negatif).
Apakah membereskan emosi harus dengan menggunakan hipnoterapi?
Wah ya nggak lah. Ada banyak teknik untuk bisa membereskan emosi ini. Di Quantum Hypnosis Indonesia saya mengajarkan banyak teknik terapi dan variasinya. Cara yang umumnya digunakan orang adalah dengan berusaha mengikis emosi ini sedikit demi sedikit seiring dengan perjalanan waktu. Mereka berkata, “Time will heal the wound” atau “Waktu yang akan menyembuhkan luka ini”. Ada lagi yang mencoba dengan memberikan pemaknaan ulang, secara sadar. Ada yang menggunakan pendekatan spiritual, dengan doa. Ada lagi yang curhat, atau menggunakan teknik konseling. Dan masih banyak lagi deh.
Nah, dari pengalaman saya, yang paling mudah, sederhana, tapi sangat cepat adalah dengan menggunakan EFT. Ini yang paling mudah. Apalagi kalau menggunakan Hypno-EFT. Dijamin lebih cespleng. Bisa juga pake NLP. Dan kalo semua nggak bisa, terpaksa pake jurus pamungkas, memaafkan dengan bantuan hipnoterapi.
Apa beda masing-masing teknik terapi ini?
Jika menggunakan NLP maka kita tidak akan mengotak-atik konten. Kita tidak perlu tahu apa yang terjadi. Pertanyaan yang diajukan tidak pernah, “Mengapa ini terjadi?” tapi “Bagaimana anda membuat emosi ini muncul?” Di sini yang dicari adalah strategi yang mengakibatkan suatu emosi muncul. Terapi dilakukan dengan mengubah strategi sehingga tidak bisa memunculkan emosi itu lagi.
Dengan menggunakan Hypno-EFT maka kita memotivasi klien untuk berubah dan melepaskan emosi negatifnya. Ini adalah pendekatan waking hypnosis. Selanjutnya kita mengotak-atik jalur meridien tubuh, dengan melakukan ketukan pada titik-titik di tubuh dan dengan urutan tertentu. Hasilnya? Sangat efektif. Saya bahkan sering menerapi klien jarak jauh dengan menggunakan Hypno-EFT. Yang sering saya demonstrasikan adalah bagaimana dengan cepat menyembuhkan phobia ular. Biasanya hanya butuh waktu sekitar 2 menit.
Kalau dengan hipnoterapi caranya berbeda lagi. Kita akan menggunakan teknik tertentu untuk menemukan akar masalah dan melepaskan emosi negatif yang selama ini mengganggu hidup klien. Selanjutnya pikiran klien anda direedukasi, memberikan pemaknaan baru, dan melakukan forgiveness.
Emosi yang saya maksudkan di sini tentunya emosi negatif yang menggangu hidup kita. Namun, apakah emosi positif juga bisa dinetralisir atau dihilangkan? Bisa.
Ada teknik yang bisa dengan sangat cepat menetralisir baik emosi positif maupun negatif. Bahkan perasaan cinta juga bisa kita hilangkan dengan sangat cepat. Semua bergantung kebutuhan, situasi, dan kondisi.
Di salah satu seminar saya mendapat pertanyaan yang membuat saya merenung cukup lama, “Pak, apa sih sebenarnya suara hati itu? Apakah suara hati selalu baik untuk kita? Apa suara hati harus selalu kita ikuti? Apa parameter yang digunakan sehingga kita tahu bahwa yang kita “dengar” adalah benar-benar suara hati nurani kita dan bukan “suara” yang lain?”
Karena keterbatasan waktu saya hanya bisa memberikan jawaban singkat. Namun pertanyaan ini terus bermain di benak saya seolah-olah berkata, “Hei, jawaban yang tadi kamu berikan ke peserta itu belum tuntas. Ayo dong… mikir yang lebih keras. Masa jawabannya hanya seperti itu.”
Nah, malam hari sebelum tidur saya mulai berpikir dan berpikir. Hasil pemikiran saya cross-check dengan beberapa literatur yang pernah saya baca sebelumnya. Setelah itu saya bandingkan dengan berbagai pengalaman hidup yang telah saya alami. Nah, dalam kesempatan ini ijinkan saya untuk bebagi pengalaman dan pemahaman saya yang mengkristal dalam bentuk jawaban atas pertanyaan di atas.
Di buku Hypnotherapy : The Art of Subconscious Restructuring saya menjelaskan mengenai salah satu teknik terapi yang dikenal dengan nama Ego State Therapy atau ada juga yang menyebutnya sebagai Parts Therapy.
Inti dari teknik ini adalah kita berkomunikasi dengan “Bagian” (Ego State atau Parts) dari diri kita yang selama ini menghambat kemajuan kita. Teknik ini sangat efektif untuk menyelesaikan konflik diri (inner conflict).
Bagi terapis yang telah menjalani pelatihan intensif dan mengerti betul teorinya maka akan sangat mudah melakukan teknik ini. Namun bagaimana dengan orang yang tidak mendapat pelatihan ini?
Parts / Ego State
Sebelum saya meneruskan uraian ijinkan saya untuk sedikit membahas mengenai Parts atau Ego State. Ada juga yang menyebutnya sebagai Sub Personality. Untuk mudahnya saya akan menggunakan istilah “Bagian”.
Di dalam diri kita ada banyak “Bagian”. Setiap bagian ini menyerupai “seseorang” dengan kepribadian, karakter, memori, rule, belief, value, dan tujuan masing-masing. Saat mereka bekerja secara harmonis, saat hubungan sesama “Bagian” ini baik maka hidup kita akan sangat lancar. Namun saat ada di antara mereka yang konflik, dan biasanya ini bisa melibatkan lebih dari 2 “Bagian”, maka kita mengalami konflik diri.
Cara “Bagian” ini berkomunikasi dengan kita biasanya dengan menggunakan perasaan dan self talk atau inner dialogue/voice. Apakah hanya dengan dua cara ini saja? Oh tidak. Masih ada cara lain yang jarang atau tidak kita sadari, walaupun sebenarnya kita telah mengalaminya. Nanti di bagian akhir artikel ini akan saya membahas secara lebih mendalam. Untuk saat ini kita fokus pada self talk dan perasaan.
Saat paling mudah untuk mengamati “Bagian” ini saling berkomunikasi adalah saat kita baru bangun tidur. Biasanya ada 2 “Bagian” yang saling berbicara. Satu “Bagian” mau kita segera bangun. Dan satu “Bagian” lagi ingin kita tetap berbaring dan tidur lebih lama lagi. Masing-masing “Bagian” memberikan argumentasi masing-masing. Yang umumnya terjadi seperti ini:
Bagian 1 : Hei.. bangun. Sudah siang nih. Sudah waktunya masuk kerja.
Bagian 2 : Nggak usah bangun dulu. Santai aja kenapa sih. Kan tadi malam dia tidurnya malam sekali. Jadi dia butuh waktu sedikit lagi untuk istirahat.
Bagian 1: Lho, kalau nggak bangun sekarang nanti terlambat masuk kantor. Bos bisa marah besar. Kan dia ada janji sama pelanggannya.
Bagian 2 : Ala… lima menit saja kenapa sih. Nggak bisa lihat orang senang ya?
Nah pembaca anda pernah kan mengalami self talk seperti ini? Saat 2 “Bagian” ini saling beradu argumentasi kita hanya menjadi pengamat. Sampai satu saat kita memutuskan untuk mengikuti salah satu “saran” yang diberikan. Kita bangun… atau terus tidur. Masing-masing “Bagian” punya “kepentingan” sendiri yang mereka pikir baik untuk kita. Mana yang benar-benar baik? Ini membutuhkan kejelian kita untuk menganalisa.
Berguru Pada Hingar Bingar Keheningan
Pembaca, mengapa saat mau bangun tidur kita mudah sekali mengamati self talk kita? Mengapa saat baru bangun tidur kita dapat dengan sangat mudah, bahkan tanpa perlu upaya, bisa mengikuti dialog internal yang terjadi di dalam diri kita? Mengapa kalau sudah bangun dan mulai aktif menjalani hari kita malah sulit sekali mendengar suara itu?
Jawabannya sebenarnya sangat mudah. Saat kita baru bangun tidur pikiran kita masih tenang. Saat itu kita masih “hening”. Belum banyak hal, buah pikir, masalah, atau thought yang kita pikirkan. Dengan demikian pikiran kita masih tenang dan hening. Setenang air di danau saat pagi hari. Kalau sudah siang, saat air (baca: pikiran) sudah bergejolak dan banyak riak maka kita akan sangat sulit untuk bisa melihat ke dalam atau dasar danau.
Nah, justru saat pikiran berada dalam kondisi tenang atau hening kita justru akan “mendengar” hingar bingar yang selama ini tidak kita dengar. Justu saat pikiran hening kita bisa belajar dengan melakukan pengamatan terhadap dialog internal yang terjadi, tanpa perlu melibatkan diri di dalam dialog itu. Kita hanya akan melibatkan diri bila dirasa perlu dan untuk tujuan tertentu.
Membedakan Suara Hati Nurani dan Suara Ego Yang Sakit
Sebelum menulis bagian ini saya teringat satu klien yang pernah saya tangani. Saat itu saya berdialog dengan 4 (empat) “Bagian” dari diri klien. Klien ini mengalami kecemasan yang sangat tinggi dan sudah delapan tahun lebih berobat ke luar negeri.
Setiap satu setengah bulan sekali ia harus menemui dokter di rumah sakit, di luar negeri, mendapat injeksi obat tertentu dan sekaligus membeli tambahan obat yang harus ia minum secara rutin. Begitu tingginya kecemasannya sampai si klien, selama delapan tahun terakhir, setiap hari mendengar berbagai suara.
Suara ini memberikan perintah yang aneh-aneh, bahkan yang merugikan dan membahayakan hidup klien. Ada suara yang memberikan perintah yang seakan-akan demi kebaikan dan kebahagian klien namun bila dianalisa secara hati-hati, membandingkannya dengan sifat suara Hati Nurani yang saya jelaskan di bawah, ternyata sangat bertolak belakang.
Dalam kesempatan ini saya tidak akan membahas mengenai klien ini. Yang ingin saya sampaikan adalah bagaimana kita, sebagai orang biasa, bisa mengenali dan membedakan suara yang sungguh-sungguh berasal dari Hati Nurani dan suara yang berasal dari “Bagian” atau Ego yang sakit.
Saya percaya bahwa Hati Nurani setiap manusia bersifat bersih dan tulus. Hati Nurani ini adalah selalu baik adanya. Ada rekan saya yang mengatakan bahwa Hati Nurani mewakili sifat-sifat Illahi di dalam diri manusia. Dan masih menurut kawan saya ini, saat seseorang berdoa kepada Tuhan maka jawaban dari Tuhan datang melalui suara Hati Nurani.
Nah, berangkat dari pemahaman ini maka saya menyimpulkan bahwa suara Hati Nurani pasti mempunyai sifat-sifat berikut:
•Berdasarkan cinta kasih yang tulus tanpa pamrih
•Selalu ingin yang terbaik untuk diri kita
•Berlandaskan nilai-nilai Kebenaran Universal
•Jujur, tulus, dan apa adanya, walau kadang terasa menyakitkan perasaan kita.
•Menghargai diri kita dan juga orang lain
•Penuh kelembutan dan ketenangan namun sangat kuat
•Penuh pengertian dan toleransi
•Memberikan perspektif atau pemahaman baru terhadap suatu kejadian atau peristiwa sehingga meningkatkan level kesadaran kita.
Memahami Komunikasi Suara Hati Nurani
Banyak orang yang telah mengalami, tidak hanya mendengar, suara hati namun mereka tidak menyadarinya. Mengapa mereka tidak menyadarinya? Karena mereka tidak mengerti cara Hati Nurani berkomunikasi.
Nah, bagaimana sih bentuk komunikasi yang biasa digunakan oleh Hati Nurani?
Ada beberapa cara. Pertama, seperti yang telah saya jelaskan di awal artikel ini yaitu dengan menggunakan self talk atau inner dialogue. Saat pikiran hening kita bisa mendengar suara Hati Nurani dengan jelas. Kita bahkan bisa berdialog dengan Hati Nurani.
Kedua, melalui perasaan atau yang sering disebut sebagai gut feeling. Seringkali saat akan melakukan sesuatu ada perasaan tertentu yang memberikan sinyal apakah kita bisa terus atau harus berhenti. Nah, perasaan atau gut feeling ini sebenarnya juga bentuk komunikasi dari Hati Nurani kepada kita.
Jika anda cukup tanggap, seringkali perasaan ini memberikan sinyal yang cukup jelas. Saat anda mengabaikan perasaan ini, misalnya saat anda ingin melakukan sesuatu tiba-tiba muncul perasaan yang meminta anda untuk tidak melakukannya, dan anda tetap melakukan yang anda inginkan ternyata hasilnya justru sangat merugikan diri anda.
Nah, saat itu anda berkata, “Coba tadi saya mengikuti suara hati saya. Pasti nggak akan mengalami kerugian seperti ini.”
Ada banyak contoh kasus mengenai gut feeling. Seorang klien pernah bercerita mengenai hal ini kepada saya. Saat hendak memulai satu bisnis dengan kawan dekatnya ia mendapat gut feeling yang mengatakan bahwa ia tidak boleh melakukan kerja sama ini. Gut feeling-nya mendapat dukungan dari gut feeling istrinya yang juga kurang setuju dengan rencananya. Tapi tetap ia abaikan.
Apa yang terjadi?
Bisnis yang semula berjalan baik akhirnya harus dihentikan karena mereka berbeda visi dan misi. Pada awalnya klien saya merasa ia dan kawannya sudah benar-benar sehati, satu visi, satu misi, dan satu nilai. Namun ternyata setelah bisnis semakin berkembang tampak jelas perbedaannya. Yang satu tetap fokus pada tujuan semula, yang satu lagi hanya fokus pada uang dan uang. Sehingga keputusan yang dibuat seringkali tidak sesuai dengan tujuan semula.
Ketiga, melalui ide yang bersifat menginspirasi. Saya yakin anda pasti pernah mengalami saat berdoa meminta petunjuk dari Tuhan, eh.. tanpa disangka-sangka muncul satu ide kreatif yang menginspirasi anda melakukan sesuatu. Ternyata saat anda melaksanakan ide ini masalah anda selesai. Jadi, ide ini adalah jawaban yang anda butuhkan.
Ide ini bisa muncul tiba-tiba, bisa juga muncul setelah dipicu oleh faktor lain. Faktor lain ini bisa berupa informasi dari buku yang sedang anda baca, bisa dari televisi, bisa saat mendengar kisah orang lain, bisa dari mana saja. Tapi intinya, kita mendapat jawaban dalam bentuk ide.
Keempat, pergeseran persepsi. Yang dimaksud dengan pergeseran persepsi ini begini. Misalnya ada seseorang, katakanlah salah satu saudara kita, yang telah kita bantu dengan tulus, saat ia mengalami kesulitan hidup, kita beri kepercayaan dan kesempatan untuk berkembang, ternyata setelah ia agak “kuat”, ia menghianati kepercayaan kita.
Bagaimana perasaan kita? Ya, sudah tentu marah dan kecewa. Namun seiring berjalannya waktu perasaan kita berubah. Dari yang tadinya marah, kecewa, sakit hati, jengkel, dendam, dan berbagai emosi negatif lainnya, kita kini malah merasa kasihan dan prihatin dengan saudara kita ini.
Mengapa berubah dari sakit hati menjadi kasihan dan prihatin?
Karena pemahaman kita semakin berkembang, semakin bijaksana, mendapat insight yang mengakibatkan terjadinya peningkatan level kesadaran.
Kita kasihan dan prihatin bahwa saudara kita ini akan mengalami banyak kesulitan hidup bila ia tidak menyadari bahwa apa yang ia lakukan itu adalah hal yang salah dan justru akan sangat merugikan dirinya di masa mendatang.
Kita kasihan dan prihatin karena bisa saja sebenarnya saudara kita ini tidak menyadari apa yang ia lakukan. Bisa jadi ini adalah salah satu bentuk sabotase diri yang sangat halus yang tidak disadari oleh saudara kita. Kemarahan dan kekecewaan sekarang telah berganti dengan perasaan prihatin, kasihan, dan bahkan perasaan sayang ingin membantu saudara kita ini.
Kelima, melalui kebetulan yang tidak kebetulan. Seringkali kita mengalami suatu kejadian, yang kita rasa suatu kebetulan, yang sebenarnya kalau dipikir-pikir lagi, bukan kebetulan, maka disebutlah dengan kebetulan yang tidak kebetulan, yang kebetulan membuat anda bingung. Nah, kebetulan ini sebenarnya bentuk komunikasi Hati Nurani dengan kita. Namun seringkali kita mengabaikannya.
Ada satu contoh nih. Seorang pria ingin membayar lunas hutangnya sebelum ia pindah kerja ke kota lain. Bosnya tahu rencana ia pindah kota. Akibatnya malah bosnya mempercepat proses “berhenti” kerja sehingga pria ini tidak punya penghasilan untuk membayar utangnya.
Pria ini marah sekali pada bosnya. Ia merasa bosnya telah menghancurkan hidupnya. Pria ini juga berdoa agar bisa mendapat bantuan keluar dari kesulitannya ini. Saat ia membuka kitab sucinya, eh.. tiba-tiba matanya terpaku pada ayat yang berbunyi, “Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang ………………….”.
Pria ini memutuskan untuk memaafkan mantan bosnya dengan tulus. Ia malah mendoakan agar usaha mantan bosnya ini bisa semakin maju dan berkembang.
Apa yang terjadi kemudian?
Di hari yang sama ada seorang famili yang mampir ke rumahnya dan menyerahkan amplop berisi uang. Jumlahnya persis sama seperti yang ia butuhkan untuk melunasi utangnya.
Saat ditanya mengapa familinya kok menyerahkan uang kepadanya, ia mendapat jawaban yang justru lebih aneh lagi, “ Minggu lalu ada dorongan di hati saya untuk melihat kembali perhitungan keuntungan yang kita dapatkan saat mengerjakan proyek beberapa waktu lalu. Nah, tiba-tiba saya lihat ada kesalahan perhitungan. Setelah saya hitung ulang maka kamu seharusnya dapat lebih. Saya sudah mau ke rumahmu. Tapi selalu saja repot nggak bisa. Baru hari ini saya ada waktu luang. Inipun setelah ada satu janji yang dibatalkan secara mendadak oleh si customer.”
Pria ini langsung teringat bahwa benar ia mulai berdoa mohon bantuan sejak minggu lalu. Rupanya kemarahannya ini yang membuat “bantuan” yang ia butuhkan tidak kunjung tiba. Dan setelah ia memaafkan mantan bosnya, eh.. tiba-tiba bantuan datang.
Apakah ini kebetulan? Tentu tidak.
Keenam, melalui mimpi. Seringkali saat kita sangat membutuhkan jawaban untuk mengatasi masalah yang sedang kita hadapi, setelah kita cari ke mana-mana tetap nggak dapat jawabannya, eh.. saat tidur kita mendapat mimpi yang merupakan jawaban atas pertanyaan kita. Anda pernah mengalaminya?
Nah, pembaca, setelah membaca sejauh ini, saya berharap anda sekarang bisa lebih jelas mengenai suara Hati Nurani. Apapun “jawaban” yang anda dapatkan harus anda cross check dengan sifat-sifat Hati Nurani yang saya jelaskan di atas.
Pada kasus klien saya, ia berkata bahwa suara hatinya mengatakan bahwa sebaiknya ia mati. Suara hatinya mengatakan bahwa ia tidak akan bisa bahagia hidup di dunia ini.
Nah, ini benar-benar suara Hati Nurani atau suara Ego yang sakit?
Seorang kawan bertanya kepada saya, "Pak Adi, anda sering mengatakan bahwa hampir semua masalah yang dialami orang dewasa bila dicari akar masalahnya selalu ditemukan di masa kecil. Apa benar seperti ini adanya? Trus...kok bisa seperti ini ya? Penjelasan ilmiahnya seperti apa?"
Wah, ini pertanyaan yang mudah ditanyakan tapi sulit dijawab. Jujur jawaban standar saya untuk pertanyaan di atas adalah berdasarkan pengalaman praktik saya. Oh ya saya mau koreksi pertanyaan di atas. Akar masalah tidak selalu, tapi hampir selalu, berasal dari masa kecil.
Dari pengalaman membantu sangat banyak klien saya menemukan satu hal menarik. Hampir semua, tapi tidak selalu, masalah yang dialami seseorang (dewasa) berasal dari pengalaman (traumatik) yang terjadi di bawah usia 12 tahun.
Tapi mengapa akar atau sumber masalah justru terjadi saat masih anak-anak?
Sebelum saya menjawab pertanyaan di atas, satu hal yang perlu kita sadari yaitu bahwa setiap kejadian sebenarnya netral, tidak ada artinya, tidak baik maupun buruk. Suatu kejadian, pengalaman, atau peristiwa dikatakan baik atau buruk bergantung pada makna yang kita berikan. Hal yang sama juga dinyatakan oleh Epicetus (100 SM), "Men are disturbed not by things but by the views which they take of them".
Makna ini selanjutnya akan mengakibatkan munculnya suatu emosi tertentu. Nah, yang menjadi masalah adalah bila emosi yang muncul adalah emosi negatif. Emosi negatif yang terhubung atau melekat pada suatu peristiwa tertentu selanjutnya akan mendikte munculnya respon spesifik, saat ia dewasa, bila ia mengalami lagi situasi atau peristiwa yang sama atau serupa dengan yang dulu pernah ia alami.
Contohnya begini. Baru-baru ini saya menangani seorang klien dewasa yang tidak bisa menyanyi, khususnya di atas panggung. Klien ini sebenarnya punya suara yang cukup merdu. Namun setiap kali ia naik panggung mau menyanyi maka yang dirasakan adalah perasaan panik, tidak mampu, tidak percaya diri, takut, dan jantungnya berdebar keras sehingga ia tidak bisa menyanyi.
Setelah dicari akar masalahnya ternyata saat ia berusia 5 tahun ia pernah menyanyi di panggung dan lupa syair lagunya. Saat itu, masih menurut klien ini, semua penonton menertawakan dirinya. Tentu ia merasa malu sekali. Dan sejak saat itu ia memutuskan bahwa menyanyi itu sangat menyakitkan hatinya. Jadi lebih baik tidak menyanyi.
Begitu keputusan ini dibuat, yang sebenarnya kurang tepat karena keterbatasn kemampuan berpikirnya saat itu, jika tidak mau dikatakan sebagai keputusan yang salah, maka pikiran bawah sadarnya akan melakukan apa saja untuk menjalankan keputusan ini.
Tapi mengapa ia bisa sampai pada kesimpulan ini? Kan nggak masuk akal. Lha, masa hanya gara-gara lupa syair, terus ditertawakan teman-temannya, eh.. malah ngambek seterusnya nggak mau menyanyi sampai dewasa. Ini sungguh tidak masuk akal.
Ini kan cara berpikir orang dewasa. Kita, yang sudah dewasa akan berkata seperti yang saya tulis di atas. Tapi namanya anak-anak tentu proses berpikirnya berbeda.
Untuk bisa menjawab pertanyaan ini tentu kita perlu mengerti cara berpikir anak. Dan salah satu pakar ternama yang khusus meneliti proses berpikir anak adalah Jean Piaget. Saya selanjutnya mempelajari pemikiran dan karya Piaget melalui bukunya yang berjudul The Child’s Conception of The World. Piaget mempelajari perkembangan kognitif anak khususnya pada aspek kemampuan dalam memproses dan memahami informasi dengan tingkat kompleksitas yang berbeda.
Piaget memberikan subjek penelitiannya berbagai pertanyaan atau soal dan mengamati bagaimana anak memanipulasi informasi untuk bisa mencapai suatu kesimpulan.
Misalnya, untuk anak berusia di bawah 7 tahun, jika ditunjukkan gambar 2 pohon yang jenis dan tingginya berbeda maka mereka akan memilih pohon yang lebih tinggi sebagai pohon yang lebih tua. Anak yang lebih besar, di atas 7 tahun, akan bertanya kapan pohon-pohon itu ditanam. Dengan kata lain anak yang lebih tua memiliki kemampuan untuk memproses lebih banyak informasi saat berpikir tentang sesuatu.
Level kerumitan dan kecakapan berpikir anak, sejalan dengan perkembangan usia mereka, dibagi menjadi empat kategori; nominal, ordinal,interval, dan ratio.
Nominal Data
Pada tahap ini kemampuan berpikir didasarkan pada prinsip "ya" atau "tidak", baik atau buruk, benar atau salah, menang atau kalah. Pada level ini tidak dikenal wilayah "abu-abu". Yang ada hanya hitam atau putih.
Level berpikir ini sering mengakibatnya terciptanya belief dan keputusan yang menghambat. Anak kecil tidak bisa terhindar dari cara berpikir ini karena keterbatasan kemampuan kognisi mereka. Dan dari riset lain diketahui bahwa bagian prefrontal cortex anak masih belum berkembang optimal pada usia dini.
Misalnya jika anak melihat kedua orangtuanya ribut atau bertengkar. Anak biasanya akan menyimpulkan, "Papa dan mama ribut pasti karena saya" atau "Nanti kalau sudah besar saya nggak mau nikah karena akan ribut seperti papa dan mama".
Ordinal Processing Pada level ini anak bisa melakukan pengurutan informasi. Kemampuan ini melibatkan pembandingan data dengan tujuan menghasilkan ranking atau urutan. Misalnya, jika dalam suatu pertandingan anak mendapat informasi posisi mereka, dan anak tahu, misalnya "Saya juara dua", maka informasi ini sudah lebih tinggi levelnya daripada sekedar kalkulasi nominal "Saya menang" atau "Saya kalah".
Interval Processing
Pada level ini kemampuan berpikir semakin berkembang. Anak mampu berpikir lebih abstrak misalnya dalam memaknai urutan posisinya dalam suatu peristiwa. Pada contoh di atas, bila anak berpikir di level ini, maka yang ada di pikirannya bukan sekedar "menang" atau "kalah" tapi seberapa dekat saya menang, tidak sekedar saya juara dua.
Ratio Processing
Level ini adalah level yang paling tinggi. Level ini mencakup tiga level di bawahnya dan juga kemampuan berpikir abstrak yang lebih tinggi. Misalnya, "Apakah menjadi juara satu adalah benar-benar penting bagi saya?". Kemampuan ini yang dimaksud saat seseorang berkata, "Berpikir di luar kotak atau thinking outside the box".Ini adalah level berpikir di mana kita mampu melihat sesuatu dengan perspektif yang berbeda.
Penelitian Piaget menemukan bahwa kemampuan berpikir anak terbatas pada level nominal dan ordinal processing hingga kira-kira usia tujuh tahun. Pada usia delapan hingga dua belas tahun anak mengembangkan kemampuan interval dan ratio processing.
Dengan demikian belief atau kepercayaan yang terbentuk saat kita masih kecil semata-mata hanya dibatasi oleh kemampuan kognitif kita. Dan untuk bisa membantu klien mengatasi masalahnya maka kita perlu membawa klien mundur (regresi) ke masa saat keputusan atau kesimpulan atau pemaknaan dibuat. Tujuannya adalah untuk melakukan edukasi ulang untuk menghasilkan makna atau kesimpulan baru yang lebih konstruktif dan kondusif untuk hidup klien (dewasa).
Lalu, mengapa pada contoh di atas klien yang sudah dewasa masih tetap takut menyanyi?
Jawabannya sederhana. Saat klien naik di atas panggung maka panggung ini menjadi trigger atau pemicu aktifnya suatu part atau bagian dari diri klien, bagian yang dulu pernah mengalami pengalaman "traumatik" saat ia masih kecil. Bagian ini, yang kita kenal dengan nama Inner Child, akan menolak untuk menyanyi. Proses yang terjadi adalah age regression atau klien ini mundur kembali ke masa kecilnya. Sudah tentu proses ini terjadi dengan begitu cepat di pikiran bawah sadar. Yang ia rasakan hanyalah perasaan tidak nyaman yang membuat ia tidak mau menyanyi. Pikiran sadar mungkin sudah lupa kejadian di masa lalu. Tapi pikiran bawah sadar akan tetap ingat.
Seorang Ibu mengeluhkan tingkah laku anaknya, yang berusia 5 tahun, yang menurutnya "liar", "sulit diatur", "seenaknya sendiri", dan mengidap ADHD alias hiperaktif. Prihatin dengan kondisi ini saya memutuskan untuk membantunya dan memberikan jadwal bertemu.
Ibu ini, sebut saja Bu Ani, datang bersama putranya, Budi, ditemani seorang anggota keluarganya. Singkat cerita setelah melakukan diskusi dan wawancara mendalam selama hampir 1 jam saya memutuskan bahwa saya tidak bisa membantu menerapi anak ini. Lho, kok?
Bu Ani sudah tentu terperanjat mendengar keputusan saya dan meminta saya menjelaskan alasan di balik keputusan ini. Lha, dia datangnya jauh-jauh dari luar pulau, berharap bisa mendapat bantuan dari seseorang yang dipandang pakar, eh.. setelah bertemu terapisnya malah angkat tangan.
Pembaca, anda mungkin juga bingung mengapa saya sampai "menyerah"?
Ceritanya begini. Sebenarnya melakukan terapi pada anak tidaklah sulit. Secara umum, dalam dunia hipnoterapi kita menggunakan sugesti untuk mempengaruhi dan memodifikasi program pikiran yang ada di pikiran bawah sadar.Saat anak masih kecil maka program pikirannya masih belum kuat dan sangat mudah untuk diotak-atik.
Sugesti ini bisa bersifat langsung maupun yang tidak langsung. Bisa juga menggunakan cerita yang berisi pesan-pesan (baca: program/sugesti) tertentu. Dan asyiknya melakukan terapi pada anak kita tidak perlu melakukan induksi untuk membawa anak masuk kondisi trance. Mengapa? Saat anak masih kecil, critical factor anak masih belum terbentuk atau masih lemah sehingga sangat mudah ditembus. Dengan kata lain anak pada umumnya telah berada dalam kondisi trance.
Sugesti yang diberikan biasanya sangat manjur untuk membantu anak untuk berubah. Apalagi bila orangtua mendukung dengan melakukan "terapi" (baca: perubahan pola asuh) di rumah.
Ini skenario yang ideal. Anak dibawa ke terapis. Terapis melakukan hal-hal yang perlu dilakukan untuk membantu anak mengubah perilakunya dan perubahan ini diperkuat dengan bantuan kedua orangtuanya di rumah. Enak tenan jika dapat klien seperti ini.
Namun ceritanya tidak selalu seindah dan semudah contoh di atas. Pada kasus di atas yang saya tangani dan juga pada sangat banyak kasus lain yang ditangani rekan sejawat saya, kesulitan terbesar adalah terlalu banyak faktor yang mempengaruhi kehidupan anak sehingga akhirnya anak menjadi "bermasalah". Bingung?
Mudahnya begini. Anak tumbuh besar dalam satu keluarga. Dan apa yang ia alami, saat tumbuh kembang, berinteraksi, dan menjalani hidupnya, mulai kecil hingga besar semuanya dipengaruhi secara langsung, maupun tidak langsung oleh lingkungannya.
Apa yang dimaksud dengan lingkungan? Apakah rumah atau lingkungan tempat tinggalnya?
Yang dimaksud dengan lingkungan adalah lebih tepatnya siapa saja yang berinteraksi secara intens dengan anak pada masa pertumbuhannya. Siapa yang menjadi pengasuh utamanya sejak ia kecil? Dan apa saja yang pengasuh ini lakukan atau berikan kepada si anak? Pengalaman hidup seperti apa yang anak alami? Semua pengalaman hidup ini mengakibatkan terciptanya perilaku tertentu dalam diri anak.
Pola hidup di timur berbeda dengan di barat. Di barat, yang dimaksudkan dengan keluarga adalah ayah, ibu, dan anak (bisa hanya satu anak, bisa lebih) yang tinggal di satu rumah. Sedangkan di timur, yang dimaksud dengan keluarga adalah ayah, ibu, anak (bisa hanya satu anak, bisa lebih) , dan biasanya masih ada kakek, nenek, paman, tante, suster, pembantu yang tinggal di rumah yang sama, dan juga termasuk "pengasuh" TV.
Jika di barat, saat terapis menangani kasus anak yang "bermasalah" maka yang dilakukan terapis adalah menerapi si anak dan melakukan edukasi pada kedua orangtua untuk bisa membantu anak berubah. Orangtua melakukan peran mereka di rumah dan menjadi partner terapis. Ini yang kita lihat di acara televisi Nanny 911. Hanya dalam waktu yang sangat singkat anak dan keluarga itu mengalami transformasi yang sungguh luar biasa.
Di Indonesia, kita, terapis, selain perlu menerapi anak, juga perlu memberikan edukasi pada kedua orangtuanya. Ada orangtua yang dengan sadar mengakui kesalahan mereka dalam mendidik anak sehingga mengakibatkan anak mereka menjadi bermasalah. Mereka menyadari sepenuhnya bahwa mereka bertanggung jawab atas apa yang anak mereka alami dan bersedia belajar dan berubah demi kebaikan dan kemajuan anak. Jika bertemu dengan orangtua seperti ini maka terapi menjadi sangat mudah dan efektif.
Namun ada juga kedua orangtua yang sama sekali tidak bersedia bekerjasama. Maunya mereka anak ini dibawa ke terapis dan begitu keluar dari ruang terapi anak sudah "beres" luar dalam. Mereka berasumsi bahwa yang bermasalah adalah si anak, bukan mereka. Jadi yang perlu dibereskan adalah anak. Padahal kita tahu bahwa anak adalah produk dari sistem keluarga. Lha, kalau produknya "cacat" berarti yang perlu dibenahi sebenarnya adalah sistem yang menghasilkan produk itu, bukan produknya.
Saya biasa menyebut orangtua seperti ini sebagai orangtua tipe "laundry". Anak diibaratkan baju yang kotor dan dibawa ke binatu. Begitu keluar dari binatu maka baju sudah bersih, rapi, wangi, dan licin. Kalau seperti ini kondisinya
Ada lagi yang hanya salah satu orangtua saja yang mau berubah dan mendukung proses terapi. Ini juga problem yang sering kita hadapi saat memberikan terapi pada anak atau keluarga.
Kesulitan lainnya, walaupun orangtua telah bersedia berubah demi anak mereka, seringkali faktor X seperti pengaruh dari orang tua lain yang tinggal bersama anak itu, misalnya kakek, nenek, paman, kakak, tante, suster, atau pembantu, plus televisi, tidak mendukung proses perubahan yang sedang diupayakan terjadi dalam diri anak.
Untuk lebih memudahkan anda memahami apa yang saya ceritakan saya akan memberikan contoh beberapa skenario yang biasanya terjadi. Skenario ini dengan asumsi terapisnya kompeten melakukan terapi.
Anda bisa membayangkan anak seperti sebuah komputer yang siap untuk diprogram. Nah, siapa saja yang akan menjadi programmer yang memasukkan program yang mempengaruhi hidup anak?
Skenario pertama: Anak bermasalah, kedua orangtua mendukung proses terapi, dan di rumah tidak ada faktor lain yang mempengaruhi proses terapi yang diberikan. Kalau ini yang terjadi maka terapi akan berjalan mulus dan mudah.
Skenario kedua: Anak bermasalah, hanya salah satu orangtua saja, misalnya ibu atau ayah, yang mendukung proses terapi, dan di rumah tidak ada faktor lain yang mempengaruhi proses terapi yang diberikan. Kalau ini yang terjadi maka terapi akan mengalami hambatan.
Skenario ketiga: Anak bermasalah, kedua orangtua sama sekali tidak bersedia mendukung proses terapi, dan di rumah tidak ada faktor lain yang mempengaruhi proses terapi yang diberikan. Kalau ini yang terjadi maka terapi tidak mungkin bisa dilakukan.
Skenario keempat: Anak bermasalah, kedua orangtua mendukung proses terapi, namun di rumah ada faktor lain yang mempengaruhi proses terapi yang diberikan. Misalnya ada orang tua lain, seperti kakek, nenek, paman, tante, kakak, suster, dan atau televisi yang memberikan pengaruh yang tidak sejalan dengan proses terapi yang dilakukan. Kalau ini yang terjadi maka terapi akan sangat terhambat, jika tidak mau dikatakan tidak bisa dilakukan. Apapun yang dilakukan terapis bersama kedua orangtua anak akan mendapat hambatan. Ini sama seperti melakukan lomba Tag Team di mana 3 orang, terapis dan kedua orangtua anak, beradu kekuatan melawan tim lain yang terdiri dari kakek, nenek, paman, tante, kakak, suster, atau televisi.
Skenario kelima: Sama seperti skenario keempat namun yang mendukung proses terapi hanya salah satu orangtua. Dalam kondisi ini terapi tidak akan efektif.
Skenario keenam: Semua anggota keluarga di rumah sama sekali tidak mendukung proses terapi. Jika ini yang terjadi maka terapi sama sekali tidak bisa dilakukan. Karena dalam skenario ini yang terjadi adalah terapis "melawan" tim lain yang jauh lebih kuat.
Anda jelas sekarang?
Alasan saya "menyerah" menangani Budi karena kasusnya masuk kategori kelima. Selain si ayah sama sekali tidak mau tahu mengenai kondisi anak, di rumah juga ada kakek dan nenek si anak, yang nota bene adalah mertua Bu Ani, yang pola asuh dan pendidikannya berbeda dengan yang diterapkan oleh Bu Ani. Dalam hal ini selain terjadi konfllik pola asuh juga inkonsistensi dan penanaman belief dan nilai-nilai hidup.
Oh ya, yang saya ceritakan di atas adalah skenario yang ada pada anak dan keluarganya. Bagaimana dengan si terapis?
Ada beberapa faktor yang juga mempengaruhi hasil dan proses terapi. Pertama, terapis harus memiliki kompetensi yang baik. Kedua, pengalaman nyata dalam kehidupan berkeluarga. Ini sangat penting untuk postur dan meyakinkan kedua orangtua anak bahwa si terapis benar-benar tahu apa yang ia lakukan.
Jika, misalnya, si terapis masih sangat muda usianya, apalagi belum menikah, dan dalam proses terapi perlu melakukan edukasi pada orangtua anak mengenai cara mendidik anak yang baik, maka seringkali saran dari terapis ini tidak dijalankan atau dilakukan oleh orangtua. Padahal saran yang diberikan sudah benar dan sangat bagus.
Mengapa?
Secara pikiran sadar kedua orangtua bisa menerima saran dari terapis. Namun secara pikiran bawah sadar mereka tidak yakin pada si terapis karena terapisnya selain usianya masih sangat muda juga belum punya anak.
Pembaca, anda jelas sekarang? Melakukan terapi pada anak memang gampang-gampang susah. Jika boleh memilih, saya lebih suka melakukan terapi pada orang dewasa karena, dari pengalaman saya, lebih mudah. Lebih mudahnya bukan karena kasusnya ringan namun lebih mudah karena faktor X yang mempengaruhi klien tidaklah sebanyak yang mempengaruhi anak.
Saya akhirnya mengajarkan beberapa hal penting kepada Bu Ani untuk dilakukan di rumah untuk membantu Budi. Namun jujur saya tidak bisa berharap banyak karena yang mau membantu Budi hanyalah Ibunya. Sedangkan anggota keluarga yang lain tidak bisa diajak kerjasama.Proses masuknya informasi yang berasal dari luar diri kita hingga menjadi memori yang tersimpan di bawah sadar adalah sebagai berikut. Pertama, karena begitu banyaknya bit informasi yang diterima seseorang, ada sekitar 2.000.000 bit, maka pikiran sadar perlu melakukan filter berdasarkan kriteria berikut:
- Informasi yang paling kuat atau berpengaruh
- Informasi yang berhubungan dengan keselamatan hidup (menurut pemikiran pikiran bawah sadar) atau
- Aspek yang sejalan dengan preferensi sistem sensori anda (visual, auditori, atau kinestetik). Kita cenderung lebih memperhatikan salah satu aspek daripada yang lainnya.
Stimulus adalah informasi apa saja yang masuk melalui panca indera, atau yang dihasilkan oleh pikiran sendiri, bisa berasal dari suatu memori atau suatu skenario pemikiran.
Setelah proses saringan awal selesai dilakukan, informasi tiba di bagian otak yang dinamakan thalamus. Thalamus bertugas mengirim "bahan mentah" informasi ke bagian otak yang bertugas memproses informasi sesuai dengan komponennya, misalnya warna, kontras, gerakan, suara, dan lain sebagainya.
Satu hal menarik yaitu saat bagian otak, setelah menerima dan memproses tiap komponen informasi, mengirimnya kembali ke thalamus, ternyata informasinya telah bertambah semkitar 80% lebih banyak daripada saat pertama kali diterima. Otak ternyata telah menambahkan lebih banyak informasi daripada saat pertama kali informasi itu diterima. Hal ini berarti 80% dari persepsi kita terhadap suatu informasi adalah hasil rekayasa kita sendiri, bukan apa informasi itu adanya.
Dengan kata lain diri kitalah yang sebenarnya menentukan apa yang kita persepsikan, dan persepsi bergantung pada pembelajaran atau pengalaman sebelumnya. Saat kita melihat sebuah kursi kita mengenalinya sebagai sebuah kursi karena kita telah melihat kursi sebelumnya. Jika kursi yang sama kita tunjukkan pada anak kecil, yang sebelumnya sama sekali belum pernah melihat atau tahu tentang kursi,maka anak ini besar kemungkinannya akan mencoba berbicara, mencium, menggigit, merasa, atau mencoba duduk di atasnya.
Lalu, apakah sebenarnya informasi tambahan 80% ini dan dari mana datangnya ?
Semuanya berasal dari hasil pembelajaran kita mulai kecil hingga dewasa. Sejak kita lahir kita telah membangun model dunia yang kita gunakan untuk menjalani hidup kita. Model ini menentukan pemahaman kita bagaimana dunia sekitar kita berjalan dan bagaimana kita bisa menjelajahi dunia dengan aman dan selamat. Kita menggunakan model ini sebagai peta navigasi dalam menelusuri belantara kehidupan.
Saat dewasa kita merasa yakin telah berhasil membangun model dunia yang kita gunakan untuk menjalani hidup yang berhasil. Namun benarkah hal ini? Banyak orang gagal atau sulit sekali berhasil karena mereka menggunakan peta yang tidak akurat. Peta yang sudah kuno dan tidak pernah di-update.
Kita sering salah karena menganggap peta adalah realita. Albert Korzybski dengan sangat bijak menyatakan, dalam Science and Sanity, "The map is not the territory it represents".
Bandler dan Grinder, dalam The Structure of Magic (vol 1) menjelaskan dengan sangat bagus bagaimana kita mengatur pengalaman atau apa yang kita alami hingga akhirnya menjadi model dunia kita. Mereka menyebutnya dengan "universal processes of human modelling" yaitu "deletion", "distortion", dan "generalisation".
Deletion adalah proses di mana filter pikiran kita "menghapus" informasi yang dirasa atau dipersepsi tidak penting atau relevan sebelum informasi itu sampai di pikiran sadar atau kita sadari. Dengan kata lain, hanya informasi yang dirasa bermanfaat atau relevan saja yang bisa masuk ke wilayah kesadaran kita.
Contohnya, saat ini, saat anda membaca artikel ini, anda pasti tidak menyadari suara halus dari kipas komputer anda. Atau anda tidak merasakan sensasi tubuh anda yang saat ini sedang duduk di kursi. Nah, baru setelah saya menyatakan hal ini maka anda sekarang menyadari sensasi (informasi) yang tadinya tidak anda sadari karena dianggap tidak penting atau relevan.
Bisa anda bayangkan bagaimana repotnya kita jika semua informasi atau sensasi itu masuk ke pikiran sadar tanpa disaring terlebih dahulu?
Aldus Huxley menulis dalam The Doors of Perception, "Experience has to be funnelled through the reducing valve of brain and nervous system. What comes out the end is a measly trickle of the kind of consciousness which help us to stay alive on the surface of this particular planet."
Distortion adalah kondisi di mana kita tidak melihat sesuatu apa adanya namun lebih berdasarkan ekspektasi tertentu sehingga apa yang kita lihat akan terpengaruh sedemikian rupa agar sejalan atau sesuai dengan model dunia yang ada di pikiran kita.
Contohnya begini. Pernahkah anda bertemu dengan seorang kawan dan tidak menyadari bahwa kawan anda ini baru memotong rambutnya mengikuti model terbaru? Baru setelah beberapa saat anda mulai menyadari ada yang lain dengan kawan anda ini. Dan selang beberapa saat barulah anda benar-benar sadar atau tahu bahwa model rambut kawan anda telah berubah.
Dalam studi mengenai persepsi dikenal istilah Difference Threshold yaitu jumlah stimulasi minimal yang dibutuhkan sistem saraf pusat untuk mengenali perbedaan di antara dua stimuli yang berbeda - misalnya bagaimana wajah kawan anda, saat sekarang anda bertemu dengannya, dengan bagaimana wajah kawan anda berdasarkan memori anda sebelumnya.
Generalisation adalah dasar dari proses pembelajaran. Dengan generalisasi kita melakukan pencarian pola tertentu saat kita berinteraksi dengan lingkungan dan orang lain. Generalisasi bekerja dengan tiga algoritma dasar berikut:
A = B artinya hal yang satu ini sama dengan hal yang itu.
A ? B artinya hal yang satu ini tidak sama dengan hal yang itu.
C -> E artinya hal ini mengakibatkan terjadinya hal itu. Ini dikenal dengan hukum "Sebab-Akibat"
Generalisasi sangat membantu hidup kita. Bila kita bertemu dengan pintu, maka apa yang terpasang di pintu itu, yang bentuknya bisa macam-macam, kita tahu benda itu bisa diputar atau ditekan ke bawah sehingga pintu akan terbuka. Kita tidak perlu lagi mempelajari apakah benda itu dan bagaimana cara kerjanya. Ini adalah handle pintu dan kita tahu cara kerjanya.
Namun generalisasi juga akan membuat diri kita susah jika kita tidak menyadari kelemahannya. Para psikolog melakukan eksperimen pada 100 orang. Subjek penelitian dimasukkan ke dalam suatu ruangan dan diminta untuk keluar dari ruangan ini melalui satu pintu. Semua subjek penelitian mencoba membuka pintu dengan cara memegang handle lalu mendorong atau menariknya. Pintu tidak bergerak sama sekali. Mereka menyimpulkan bahwa pintu terkunci.
Nah, pertanyaan saya pada anda, "Apa yang akan anda lakukan untuk membuka pintu ini?"
Jangan meneruskanmembaca. Coba berpikir dulu. Sudah ketemu jawabannya?
Kalau masih tetap nggak nemu, ini saya kasih jawabannya. Pintu ini dirancang dengan posisi engsel berada di sisi yang sama dengan handle pintu. Jadi, yang perlu dilakukan adalah dorong pintu di sisi satunya maka pintu pasti akan terbuka. He..he.. gitu aja kok repot.
Saya sering mendapat email dari rekan dan pembaca buku yang mengatakan bahwa mereka, setelah mendengar CD audio relaksasi, tidak bisa konsentrasi. Mereka menanyakan mengapa mereka sulit konsentrasi dan merasa kecewa karena tidak bisa merasakan dan mendapat manfaat meditasi. Saat saya menanyakan, "Sudah berapa lama anda berlatih diri?", jawaban yang saya terima cukup menjelaskan kondisi mereka, "Saya sudah mencoba dua atau tiga kali, Pak."
Benarkah demikian sulit bagi seseorang untuk melakukan meditasi? Mengapa ada yang mudah dan mengapa ada pula yang merasa sulit masuk ke kondisi meditatif yang dalam?
Pembaca, di artikel sebelumnya, Meditasi: Timur Bertemu Barat, saya telah menjelaskan tujuan meditasi ditinjau dari perspektif timur dan barat. Dalam artikel ini saya akan menjelaskan secara spesifik apa saja yang perlu diperhatikan, dilakukan, dan dialami saat melakukan meditasi.
Meditasi bertujuan untuk mengendalikan dan menguatkan pikiran. Pikiran sama seperti otot. Perlu latihan yang konsisten untuk bisa membuat pikiran menjadi kuat. Pikiran dilatih dengan cara difokuskan pada satu objek meditasi. Umumnya orang menggunakan napas sebagai objek.
Pembaca, jika misalnya anda tidak pernah berlatih fitness atau body-building, dan tiba-tiba ingin menguatkan otot tubuh anda, apa yang akan anda lakukan? Apakah langsung berlatih ataukah anda akan mencari pelatih yang berpengalaman yang bisa membimbing anda dengan benar? Sudah tentu kita perlu dibimbing oleh seorang pelatih berpengalaman. Peran pelatih sangat penting agar kita tidak salah berlatih yang justru akan kontraproduktif . Dengan bimbingan yang benar kita dapat mencapai hasil yang maksimal dalam waktu yang singkat.
Pertanyaan selanjutnya, "Berapa ukuran atau berat beban yang anda gunakan sebagai beban awal latihan?" Apakah langsung beban yang berat ataukah anda menaikkan beban secara bertahap seiring dengan lama dan intensitas latihan anda? Apa yang akan terjadi bila anda "bernafsu" ingin membesarkan dan menguatkan otot-otot tubuh anda secepatnya dan langsung menggunakan beban yang berat (sekali)? Bagaimana hasilnya? Saya jamin, jika ini yang anda lakukan, maka tubuh anda akan cidera karena tidak kuat.
Pembaca, melatih otot tubuh membutuhkan waktu, cara, intensitas, dan konsistensi agar dicapai hasil yang maksimal. Tidak bisa dilakukan asal-asalan dan kita berharap bisa memiliki tubuh yang sehat, kuat, dan indah. Dalam hal ini yang perlu disadari dan diperhatikan adalah bahwa otot akan tumbuh, berkembang, dan menjadi kuat bila dilatih dengan cara yang benar dengan mengikuti proses alamiah pertumbuhan otot. Kita tidak bisa memaksa otot berkembang dengan kecepatan yang kita inginkan. Semua ada waktunya.
Sama seperti otot, pikiran juga perlu dilatih. Melatih pikiran sebaiknya juga dengan bimbingan seorang pelatih berpengalaman dan dengan takaran latihan yang sesuai. Meditasi adalah suatu skill yang perlu dilatih dan diasah setiap hari. Semakin sering kita berlatih maka semakin kuat "otot-otot" pikiran kita. Kuatnya "otot" pikiran tampak dalam bentuk pengendalian yang bisa kita lakukan pada pikiran. Saat pikiran diarahkan untuk konsentrasi dan memegang objek maka pikiran bisa memegang objek dengan kuat dan lama. Pikiran tidak lari ke mana-mana, liar tidak terkendali.
Untuk pemula, biasanya pikiran akan lari tak terkendali. Kita perlu menundukkan dan mengendalikannya. Ini yang dikenal dengan istilah "taming the monkey mind" atau menjinakkan pikiran yang liar seperti seekor monyet. Jangan salah baca ya, monkey mind bukan donkey mind.
Satu hal yang sering tidak dimengerti dan bahkan tidak diindahkan kebanyakan orang yaitu relaksasi pikiran atau meditasi membutuhkan tidak saja upaya, namun terlebih lagi adalah kepasrahan dan keikhlasan. Semakin kita bernafsu maka pasti semakin tidak bisa. Salah satu hukum pikiran berbunyi, "Bila berhubungan dengan pikiran bawah sadar dan fungsi-fungsinya, semakin besar upaya sadar yang dilakukan, semakin kecil respon pikiran bawah sadar."
Relaksasi pikiran atau meditasi adalah proses yang didominasi pikiran bawah sadar dan nirsadar. Saat seseorang bermeditasi maka gelombang otak yang dominan adalah alpha, theta, dan atau tanpa delta.
Kembali kepada kasus yang saya ceritakan di awal artikel. Pernyataan, "Saya sudah mencoba dua atau tiga kali, Pak", dengan pemahaman dari apa yang telah saya sampaikan sejauh ini, perlu diubah menjadi, "Saya baru mencoba dua atau tiga kali, Pak".
Banyak juga yang bertanya, "Pak, saya kok nggak merasa deep?" Biasanya saya akan mengajukan beberapa pertanyaan untuk mengecek kedalaman relaksasi yang ia capai. Ternyata banyak yang telah masuk sangat dalam, sangat rileks, baik secara fisik maupun pikiran, namun mereka tidak menyadari hal ini karena tidak punya acuan.
Nah pembaca, untuk membantu anda mengerti kedalaman relaksasi pikiran dan fisik saat meditasi, berikut adalah Subjective Landmark atau acuan yang disusun oleh guru saya, Anna Wise. Biasanya kami menggunakan Mind Mirror untuk melihat dan mengukur relaksasi pikiran dan ESR Meter untuk mengukur relaksasi fisik. Namun, bila tidak ada Mind Mirror dan ESR Meter, kami cukup menggunakan Subjective Landmark. Hasilnya sama valid.
Subjective Landmark ini hanya sebagai acuan namun bukan harga mati. Artinya, pengalaman subjektif setiap orang belum tentu sama. Namun secara umum, saat seseorang melakukan relaksasi pikiran atau meditasi, ia akan mengalami hal-hal yang disebutkan di Subjective Landmark.
Cara membaca Subjective Landmark adalah dengan melihat Level, Pengalaman/Sensasi Subjektif, ESR, dan EEG.
Penjelasannya sebagai berikut. Level menunjukkan kedalam relaksasi. Semakin besar angkanya berarti semakin dalam. Level dimulai dari angka 0 (nol) sampai 6 (enam).
Pengalaman/Sensasi Subjektif adalah apa yang kita alami atau rasakan baik di pikiran maupun di fisik. Gunakan pengalaman yang disebutkan di skala ini untuk mengetahui anda berada di level mana.
ESR Meter adalah alat ukur yang mengukur relaksasi fisik dan menggunakan skala Lesh. Semakin kecil angka di ESR Meter berarti semakin rilek fisik kita. Dengan menggunaakn ESR Meter diketahui bahwa relaksasi fisik saat seseorang tidur berkisar antara 13 - 17. Sedangkan bila dengan meditasi bisa mencapai antara 0 - 5. Hal ini menjawab mengapa walaupun telah cukup tidur orang sering merasa lelah dan tidak segar saat bangun. Sebaliknya orang yang sering meditasi membutuhkan lebih sedikit tidur dan tubuhnya juga lebih sehat dan segar.
EEG adalah pengukuran dengan menggunakan Mind Mirror. Nah, karena anda tidak punya ESR dan EEG maka yang perlu diperhatikan adalah Pengalaman/Sensasi Subjektif.
Berikut adalah Subjective Landmark:
Level : 0
Pengalaman/Sensasi Subjektif:
- Mungkin mengalami kesulitan untuk mendiamkan pikiran atau pikiran melompat ke sana ke mari tidak terkendali.
- Perasaan gatal, tidak fokus, tidak perhatian.
- Perasaan "Mengapa saya melakukan hal ini?".
- Mulai rileks.
- Perasaan mulai "tenang"
ESR: 25 - 20
EEG:
- Beta berkesinambungan, sering bersamaan dengan lonjakan gelombang-gelombang yang lain.
- Kemungkinkan alfa muncul sesekali.
Level : 1
Pengalaman/Sensasi Subjektif:
- Kondisi "kabur".
- Perasaan kurang nyaman.
- Sensasi seperti orang yang dibius/dianestesi.
- Kadang merasa pusing.
- Pikiran dipenuhi dengan kegiatan sehari-hari - sebagai penghindaran terhadap keheningan dalam diri.
- Perasaan akan energi yang tercerai-berai.
- Sensasi hanyut menuju tidur atau tertarik keluar dari tidur.
ESR: 20 - 26
EEG:
- Beta yang sudah agak berkurang, tetapi masih ada.
- Alfa yang muncul sesekali tetapi lebih kuat.
Level : 2
Pengalaman/Sensasi Subjektif:
- Energi yang tercerai berai mulai menyatu.
- Mulai merasakan ketenangan dan rileksasi.
- Gambar mental yang sangat jelas muncul secara tiba-tiba.
- Kilas balik kenangan masa kecil.
- Gambar dari masa lalu yang "lama" dan "baru".
- Perhatian tidak terlalu terpusat.
- Perasaan berada di antara dua kondisi.
- Kondisi transisi.
ESR: 16 - 14
EEG:
- Beta berkurang
- Alfa semakin kuat - bisa bersifat sinambung
- Teta (frekwensi rendah) muncul sesekali
Level : 3
Pengalaman/Sensasi Subjektif:
- Perasaan stabil yang lebih kuat.
- Kondisi yang pasti.
- Sensasi tubuh yang menyenangkan: merasa mengapung, ringan, bergerak, berguncang.
- Gerakan ritmik yang muncul sesekali.
- Gambar yang semakin banyak dan lebih jelas.
- Meningkatnya kemampuan mengikuti imajinasi terbimbing.
ESR: 14 - 11
EEG:
- Beta sangat berkurang.
- Alfa sinambung
- Kemungkinan teta yang lebih sinambung dengan peningkatan frekwensi dan/atau amplitudo
Level : 4
Pengalaman/Sensasi Subjektif:
- Kesadaran yang sangat kuat terhadap pernapasan.
- Kesadaran yang sangat kuat terhadap detak jantung, aliran darah, dan sensasi tubuh lainnya.
- Perasaan kehilangan batas-batas tubuh (tidak lagi bisa merasakan keberadaan tubuh fisik).
- Perasaan mati rasa di tungkai (lengan dan kaki)
- Perasaan diri dipenuhi oleh udara.
- Perasaan tubuh menjadi sangat besar atau sangat kecil.
- Perasaan tubuh menjadi sangat berat atau sangat ringan.
- Kadang berpindah antara kesadaran internal dan eksternal.
ESR: 11 - 8
EEG:
- Beta yang sangat berkurang
- Alfa sinambung
- Teta meningkat
Level : 5
Pengalaman/Sensasi Subjektif:
- Kondisi kesadaran yang sangat tinggi.
- Perasaan puas yang mendalam.
- Sangat sadar/waspada, tenang, dan tidak melekat/terpisah dari keadaan sekeliling.
- Perasaan "lepas" atau hilang dari lingkungan dan atau tubuh.
- Bila menginginkan maka gambaran mental yang muncul adalah sangat-sangat jelas.
- Perasaan kondisi kesadaran yang meningkat, yang tidak terdapat pada level sebelumnya, 0 - 4.
- Perasaan pengalaman puncak, luar biasa, pengalaman "ah-ha", pemahaman intuitif.
- Kinerja tinggi
ESR: 8 - 5
EEG:
- Penguasaan beta yang sangat baik - mulai dengan tidak adanya pikiran hingga pikiran-pikiran kreatif
- Alfa sinambung
- Teta sinambung
Level : 6
Pengalaman/Sensasi Subjektif:
- Cara baru (berbeda) dalam merasakan sesuatu
- Pemahaman intuitif terhadap masalah sebelumnya, seakan melihat dengan level kesadaran yang lebih tinggi.
- Sensasi dikelilingi oleh cahaya.
- Perasaan kesadaran spiritual yang lebih tinggi.
- Sensasi semuanya tidaklah penting selain kondisi yang dialami saat itu.
- Mengalami kebahagiaan yang luar biasa.
- Mengalami ketenangan yang tak terlukiskan.
- Perasaan akan pengetahuan yang lebih mendalam mengenai alam semesta.
ESR: 5 - 0
EEG:
Empat pola yang mungkin terjadi:
1.Pikiran yang terbangunkan (beta, alfa, teta, delta)
2.Meditasi optimal (alpha, teta, delta)
3.Sangat sedikit aktifitas listrik otak
4.Pikiran yang berkembang (pola The Awakened Mind, meliputi beta, alfa, teta, dan delta)
Pembaca, karena keterbatasan ruang dan waktu saya tidak bisa menjelaskan secara lebih detil setiap aspek dari Subjective Landmark. Sebagai informasi tambahan untuk anda, materi ini adalah bagian penting dari pelatihan The Awakened Mind.
Kembali saya melempar satu judul yang kontroversial. Saya yakin dengan membaca judul artikel ini saja anda pasti sangat penasaran dan tergelitik untuk membaca lebih lanjut. Benar, kan? Inilah salah satu teknik hypnotic writing yaitu sengaja menggunakan judul yang kontroversial dan mengejutkan untuk mendapatkan perhatian.
Benarkah hipnosis/hipnoterapi bisa berakibat fatal? Jawabannya, “Bisa”. Artikel ini tidak bertujuan untuk membuat takut atau menyurutkan semangat belajar dan mempraktikkan hipnosis/hipnoterapi. Sebaliknya artikel ini bertujuan untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada sesama praktisi hipnosis dan atau hipnoterapis untuk lebih berhati-hati agar terhindar dari melakukan kesalahan atau malpraktik yang seharusnya tidak perlu terjadi.
Beberapa kejadian yang bisa berakibat negatif bagi klien bila terapis tidak hati-hati antara lain:
• Semantik yang Salah Dalam Proses Induksi
• Sugesti Yang Salah Dalam Stage Hypnosis
• Sugesti Penguat Yang Kontraproduktif
• Full Body Catalepsy
• Abreaction yang Tidak Tuntas
• Overdosis Obat Setelah Hipnoterapi
• Penggunaan Anestesi Mental Yang Tidak Tepat
• False Memory
• Menghilangkan Bagian Diri
• Penciptaan Bagian Diri Dalam Diri Klien
• Penanganan Kasus Tidak Tuntas
Semantik yang Salah Dalam Proses Induksi
Kesalahan ini bisa terjadi tanpa disengaja atau hipnotis / hipnoterapis tidak tahu jika semantik yang ia gunakan salah. Literatur atau referensi pembelajaran hipnosis / hipnoterapi hampir semuanya ditulis dalam bahasa Inggris. Dan biasanya praktisi hipnosis / hipnoterapis menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia.
Masalah mulai muncul saat proses alih bahasa dilakukan. Dengan kemampuan bahasa Inggris yang terbatas dan kurangnya pemahaman pengaruh semantik pada pikiran dan tubuh maka hasil alih bahasa yang digunakan dalam proses induksi bisa menimbulkan efek yang berakibat fatal.
Saya pernah membaca di internet ada situs yang menyediakan skrip induksi yang bisa diunduh gratis. Saat saya membaca teknik induksinya, sangat bagus. Yang menjadi perhatian saya adalah bagian deepening. Si penerjemah tanpa sadar menerjemahkan kalimat deepening secara harafiah, tanpa dipoles lebih lanjut, dan juga tidak memperhatikan efek semantik.
Kalimat sugesti untuk deepening yang menurut saya cukup berbahaya ada pada kalimat kedua dan ketiga:
…..sekarang anda telah benar-benar rileks….
…..dengan setiap hembusan napas anda tenggelam semakin dalam….
…..tenggelam semakin dalam… ke dasar samudera rileksasi yang begitu dalam dan menyenangkan….
Kebetulan saya pernah membaca teknik deepening seperti di atas. Dalam bahasa Inggris kalimatnya adalah “….you are sinking deeper…. sinking even more deeper… to the bottom of the sea of relaxation….”
Sugesti di atas bila dibacakan pada subjek tipe yang analitikal atau emotionally suggestible maka tidak akan jadi masalah. Subjek tipe ini, karena pikirannya yang analitikal, dapat mengerti bahwa yang dimaksud dengan “tenggelam semakin dalam” artinya semakin rileks.
Hal ini tentunya berbeda bila dibacakan pada subjek yang sangat sugestif atau physically suggestible. Subjek tipe ini cenderung akan melaksanakan sugesti apa adanya. Tanpa dianalisis dan tanpa ditawar.
Bisa anda bayangkan apa yang akan terjadi saat subjek “tenggelam semakin dalam” menuju ke dasar samudera rileksasi?
Hipnotis atau hipnoterapis yang tidak menyadari hal ini dan tidak cepat membawa subjek keluar dari kondisi “tenggelam” biasanya akan panik karena melihat subjek kesulitan bernapas, karena “tenggelam”, dan mukanya mulai biru. Bila hal ini berlanjut maka akibatnya bisa sangat fatal.
Sugesti Yang Salah Dalam Stage Hypnosis
Dari berbagai literatur stage hypnosis yang pernah saya baca para penulisnya mengatakan seorang hipnotis yang melakukan pertunjukkan atau hiburan dengan menggunakan hipnosis (stage hypnotist) sebaiknya adalah juga seorang hipnoterapis. Alasan mereka mensyaratkan hal ini, setelah saya baca dengan teliti, sangat masuk akal.
Dalam proses melakukan hipnosis untuk hiburan atau pertunjukkan dibutuhkan induksi yang cepat dengan tujuan membawa subjek ke kondisi kedalaman hipnosis yang sangat dalam.
Ada dua hal yang sering luput dari perhatian stage hypnotist. Pertama, teknik shock induction yang digunakan, misalnya dengan menarik tangan atau menarik kepala subjek ke arah depan dengan keras, untuk menimbulkan efek kejutan, dan ini adalah cara yang memang sangat dahsyat untuk menembus critical factor, bisa berakibat buruk terhadap struktur tulang lengan atau leher subjek.
Kondisi ini bisa terjadi bila subjek yang dipilih adalah benar-benar berasal dari penonton sehingga hipnotis harus mempraktikkan shock induction dengan kekuatan penuh agar dapat membawa subjek masuk ke kondisi hipnosis yang sangat dalam dalam waktu yang sangat cepat.
Namun bila subjek yang dihipnosis adalah orang yang telah disiapkan oleh hipnotis, seperti yang kita lihat di tayangan televisi, maka kemungkinan subjek mengalami cidera karena proses shock induction menjadi sangat kecil. Subjek biasanya hanya diminta memandang tisue yang dibakar atau sedikit ditarik lengannya dan biasanya langsung masuk, atau bisa juga hanya berpura-pura, ke kondisi hipnosis yang dalam. Hal ini terjadi karena subjek sebenarnya telah disiapkan oleh hipnotis.
Kedua, kemungkinan terjadinya abreaction. Di kondisi hipnosis yang dalam apa saja bisa terjadi. Seringkali seorang subjek tiba-tiba mengalami abreaction atau ledakan emosi karena repressed content yang selama ini ditekan di bawah sadar akhirnya keluar karena subjek masuk ke kedalaman hipnosis tertentu.
Jika sampai terjadi abreaction spontan maka hipnotis perlu bisa dengan cepat menetralisir keadaan ini dan membawa subjek kembali ke kesadaran normal. Untuk mampu melakukan hal ini dibutuhkan pengetahuan dan kecakapan seorang hipnoterapis.
Pernah ada tayangan televisi yang menunjukkan seorang hipnotis melakukan hipnosis di terminal bis. Hipnotis ini memilih seorang subjek, menghipnosisnya dengan cepat, dan selanjutnya mulai memberikan sugesti atau perintah untuk pertunjukkan.
Apa yang dilakukan hipnotis ternyata berakibat buruk terhadap subjek. Hipnotis ini memberikan sugesti bahwa subjek mendapat telpon dari rumah yang mengabarkan bahwa suaminya meninggal. Subjek disugestikan merasa sangat sedih karena kehilangan orang yang ia cintai.
Akibatnya bisa anda bayangkan. Subjek menangis hebat dan hampir histeris. Melihat hal ini hipnotis menjadi kaget dan baru sadar bahwa ia telah melakukan kesalahan. Abreaction telah terjadi. Dengan cepat hipnotis berusaha menetralisir keadaan ini dengan membangunkan subjek sambil memberikan sugesti, “Semua hal ini tidak pernah terjadi. Suami anda masih hidup.”
Subjek, setelah keluar dari kondisi hipnosis, tetap terlihat sangat sedih dan khawatir, segera menelpon suaminya. Dan walaupun suaminya sudah berbicara dengannya, dan subjek tahu suaminya masih hidup, ia tetap merasa sedih dan ketakutan. Kita tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi pada subjek ini karena siaran yang bersifat live ini langsung dihentikan.
Selain hal di atas kesalahan fatal bisa terjadi jika hipnotis salah dalam memilih semantik. Salah satu hal yang menarik dalam stage hypnosis adalah saat penonton melihat subjek melaksanakan perintah atau sugesti yang diberikan oleh hipnotis. Semakin lucu atau bahkan tidak masuk akal perintah yang diberikan akan semakin menarik dan mengundang tawa penonton.
Hipnotis yang tidak menyiapkan diri dengan baik bisa salah dalam memberikan sugesti, misalnya:
- Anda merasakan tubuh anda dialiri listrik 10.000 volt
- Anda dikejar-kejar perampok dan mereka menembak dan kena di dada anda.
- Anda dikejar ular Cobra dan akhirnya digigit oleh ular ini.
- Anda tenggelam.
- Anda lari maraton 10 Km (cat: hipnotis tidak tahu jika subjek ada sakit jantung)
Kalimat sugesti di atas jika dilaksanakan oleh subjek akan menjadi sangat lucu. Namun bisa terjadi hal yang sangat fatal. Apa yang disugestikan akan menjadi realita fisik yang dialami oleh subjek.
Sugesti Penguat Yang Kontraproduktif
Hipnotis / hipnoterapis biasanya akan memberikan sugesti pascahipnosis dengan tujuan untuk memperkuat suatu kondisi tertentu, misalnya kondisi rileks. Salah satu teknik yang biasa digunakan adalah dengan pemberian sugesti :
… mulai sekarang dan seterusnya setiap kali anda melihat sesuatu yang berwarna merah, bisa itu baju merah, mobil merah, dan terutama lampu merah, maka anda langsung masuk kembali ke kondisi rileksasi yang sangat dalam seperti yang anda alami saat ini…..
Secara semantik sugesti ini sangat bagus. Tidak ada yang salah. Yang menjadi masalah adalah efek yang terjadi pada subjek bila sugesti ini dijalankan oleh pikiran bawah sadarnya.
Bisa anda bayangkan apa yang bakal terjadi bila subjek sedang mengendarai mobil dan tiba-tiba ia melihat traffic light berubah menjadi warna merah. Seharusnya subjek langsung menghentikan mobilnya. Namun, jika sugesti dijalankan, bukannya menghentikan mobilnya, subjek langsung menjadi rileks dan tidak bereaksi.
Full Body Catalepsy
Saya yakin anda pasti pernah melihat pertunjukkan di mana ada seorang subjek yang dihipnosis dan seluruh tubuhnya dibuat menjadi kaku. Selanjutnya subjek diletakkan di atas kursi yang menopang hanya dua bagian tubuhnya yaitu bagian kaki, biasanya daerah betis hingga pergelangan kaki, dan bagian pundak hingga kepala.
Setelah itu, untuk menimbulkan kesan dahsyat si hipnotis akan meminta seseorang, atau bisa sampai dua orang, untuk naik ke atas tubuh subjek. Tubuh subjek tetap lurus dan kaku dan mampu menahan beban orang di atasnya. Hebat? Memang hebat. Namun hal ini cukup berbahaya. Mengapa?
Sugesti memang bisa membuat otot-otot tubuh menjadi kaku dan keras. Namun yang perlu diingat sugesti tidak bisa, saya ulangi, tidak bisa membuat tulang menjadi kaku atau semakin kuat. Jadi, saat tubuh subjek dinaiki oleh seseorang, yang menahan beban tubuh orang yang berdiri di atasnya ini adalah kekuatan otot-otot tubuh, bukan tulang. Bisa anda bayangkan apa yang akan terjadi bila subjek mengalami rapuh tulang atau osteoporosis?
Abreaction yang Tidak Tuntas
Salah satu bagian dari proses hipnoterapi adalah penanganan abreaction atau ledakan emosi. Terapi akan sangat efektif bila abreaction berhasil ditangani dengan tuntas. Yang menjadi masalah adalah bila ternyata saat sesi terapi selesai, saya katakan selesai karena biasanya sesi hipnoterapi berlangsung sekitar 2 – 3 jam, namun abreaction belum selesai ditangani. Dalam hal ini apa yang harus dilakukan hipnoterapis?
Hipnoterapis yang berpengalaman punya teknik untuk mengisolir atau mengkarantina emosi atau affect yang belum selesai diproses. Emosi ini akan diproses di sesi selanjutnya. Bila hal ini tidak dilakukan maka akan sangat tidak baik untuk kondisi emosi klien. Klien bisa menjadi semakin tidak stabil.
Saya pernah mendapat cerita dari seorang kawan bahwa ada rekannya yang menjalani sesi hipnoterapi. Setelah itu bukannya membaik malah kondisi kawannya ini menjadi semakin parah. Selidik punya selidik ternyata karena waktunya sudah habis hipnoterapis menghentikan proses terapi karena sudah punya jadwal terapi klien berikutnya. Sayangnya hipnoterapis ini tidak mengisolir emosi yang belum selesai diproses.
Sepulangnya klien ini ke rumah kondisinya justru menjadi semakin parah. Keluarga klien menghubungi hipnoterapis ini dan menceritakan apa yang terjadi. Dengan entengnya si hipnoterapis berkata, “Oh itu nggak apa. Minta si A untuk mengingat-ingat kembali kejadian yang membuat ia sedih atau marah dan setelah itu keluarkan emosinya. Bisa dengan marah-marah, teriak, menangis, atau cara lain. Nanti bisa lega dengan sendirinya.”
Saya cukup kaget mendengar cerita ini. Berarti hipnoterapis ini meminta klien mengalami revivification, melakukan self-abreaction, tanpa bimbingan terapis. Ini sudah tentu sangat riskan.
Overdosis Obat Setelah Hipnoterapi
Hipnoterapis yang menangani kasus psikosomatis perlu sungguh-sungguh mencermati kemungkinan ini. Beberapa kasus yang pernah kami tangani memvalidasi hal ini. Seringkali masalah klien seperti hipertensi, diabet, atau insomnia tidak bersifat organik tapi lebih karena faktor psikis atau psikogenik. Dengan kata lain masalah muncul karena pikiran yang stress atau ada emosi yang intens.
Ambil contoh kasus hipertensi. Tekanan darah biasanya naik karena seseorang mengalami emosi tertentu seperti cemas, marah, takut, benci, atau dendam. Saat mengalami emosi ini maka sistem saraf simpatik aktif dan mengakibatkan konstriksi pembuluh darah yang berakibat tekanan darah naik. Ini adalah hal yang alamiah.
Bila klien minum obat untuk menurunkan tekanan darah maka setelah selesai terapi sebaiknya hipnoterapis meminta klien untuk segera kembali ke dokter yang memberikan obat hipertensi untuk memeriksa tekanan darahnya. Sering terjadi setelah selesai terapi, karena telah terjadi resolusi trauma dan emosi yang mengganggu klien selama ini telah berhasil dinetralisir, maka dengan sendirinya tekanan darah kembali turun ke level normal. Bila dalam kondisi ini klien tetap mengkonsumsi obat hipertensi maka yang terjadi adalah obat ini justru membuat tekanan darah klien turun di bawah batas normal.
Hal yang sama berlaku untuk klien yang mengalami diabet atau minum obat penenang. Setiap selesai terapi maka sebaiknya klien konsultasi ke dokternya. Hipnoterapis tidak diperkenankan meminta klien untuk mengurangi atau menghentikan obat yang diminumnya. Yang boleh dan berhak mengurangi atau menghentikan obat adalah dokter.
Penggunaan Anestesi Mental Yang Tidak Tepat
Salah satu aplikasi hipnosis dalam dunia medis adalah hypnoanesthesia atau anestesi mental. Dengan sugesti tertentu seseorang dapat dibuat mati rasa atau tidak merasakan sakit yang ia derita. Ini tentunya sangat baik misalnya untuk membantu meringankan menghilangkan rasa sakit yang dialami korban yang mengalami luka bakar serius. Anestesi mental bisa juga diaplikasikan untuk menghilangkan rasa sakit pada pasien yang menderita kanker.
Di sisi lain pemanfaatan anestesi mental yang tidak hati-hati bisa menimbulkan efek yang justru kontraproduktif. Contohnya adalah penggunaan anestesi mental untuk menghilangkan rasa sakit atau simtom, padahal simtom ini dibutuhkan oleh tubuh sebagai bentuk komunikasi.
Lebih jelasnya begini. Misalnya seseorang mengalami radang tenggorokan. Sakit saat menelan, akibat radang, tidak boleh dihilangkan. Sakit justru dibutuhkan sebagai petunjuk untuk melakukan pengobatan.
Demikian juga misalnya rasa sakit yang timbul karena terkilir. Sakit dibutuhkan tubuh untuk bisa menentukan respon atau tindakan. Bila sakit dihilangkan maka sendi atau otot yang terkilir ini, yang seharusnya merasa sakit sehingga tidak boleh digunakan untuk sementara waktu, tetap digunakan dan akan mengakibatkan kerusakan otot atau sendi yang parah.
Contoh lainnya adalah sakit kepala atau migrain. Dengan sugesti sakit kepala ini bisa dihilangkan. Namun hal ini sangat tidak disarankan untuk dilakukan. Mengapa? Karena sakit kepala adalah simtom dari beberapa kemungkinan. Bisa jadi saat itu tekanan darah klien sedang drop. Jika simtom dihilangkan maka klien tidak akan tahu bahwa tubuhnya bermasalah dan butuh perhatian.
Anestesi mental boleh digunakan dengan tujuan meringankan penderitaan klien dan sebaiknya digunakan dengan hati-hati dan bijaksana misalnya dengan hanya mengurangi dan tidak menghilangkan rasa sakit atau simtom.
False Memory
Yang dimaksud dengan false memory adalah memori yang berasal dari suatu data (palsu) yang masuk atau dimasukkan ke pikiran bawah sadar seseorang melalui suatu sugesti. False memory bisa terjadi karena hipnoterapis, dalam proses terapi atau saat melakukan forensic hypnosis, baik disengaja atau tidak, melakukan leading bukan guiding.
Dalam kondisi hipnosis yang dalam sugesti atau instruksi yang diberikan oleh terapis cenderung akan dilaksanakan apa adanya oleh pikiran bawah sadar klien. Jadi, bila misalnya terapis berkata, “Anda melihat pisau yang digunakan penjahat itu?”, jawabannya cenderung, “Ya, saya melihat.” Ini adalah pertanyaan yang bersifat leading. Bandingkan dengan pertanyaan guiding berikut, “Apa yang terjadi? Ceritakan pada saya apa yang anda lihat, dengar, atau rasakan?”.
Salah satu praktik leading, yang pernah saya dengar dan ketahui, adalah praktik regresi yang dilakukan dengan langsung mengarahkan seseorang kembali ke masa dalam kandungan. Terapis ini, yang sebenarnya bukan hipnoterapis, dengan yakin mengatakan bahwa masalah yang dialami kliennya bersumber dari penolakan Ibunya pada dirinya. Ibu klien ini pernah berupaya menggugurkan kandungannya. Hebatnya lagi terapis ini melakukan model terapi seperti ini pada semua kliennya.
Ada tiga kemungkinan yang bisa terjadi dari model terapi seperti ini. Jika ternyata benar sumber masalah adalah dari masa kandungan dan terapis berhasil melakukan resolusi trauma maka masalah klien bisa selesai.
Kemungkinan kedua, bila ternyata benar sumber masalah berawal dari masa saat dalam kandungan, namun terapis tidak berhasil melakukan resolusi trauma, karena ia mungkin tidak menguasai teknik terapi yang tepat untuk mengatasi masalah ini, maka akibatnya klien akan menjadi semakin parah kondisinya.
Kemungkinan ketiga, bila ternyata sumber masalah klien bukan dari masa dalam kandungan, dan karena leading klien menerima hal ini sebagai suatu kebenaran (false memory), dan terapis tidak mampu melakukan resolusi trauma akibat false memory ini, yang selanjutnya terjadi adalah klien akan sangat marah dan membenci ibunya, yang sebenarnya tidak bersalah dan tidak pernah melakukan upaya aborsi. Bukankah ini justru semakin klien menjadi lebih bermasalah lagi?
Menghilangkan Bagian Diri
Dalam proses hipnoterapi menggunakan Ego Personality Therapy terapis melakukan terapi pada Ego Personality (Bagian Diri) yang terdiri atas Ego State, Part, Introject, dan Alter. Tidak semua Ego Personality ini diproses atau diterapi. Semuanya bergantung kasus.
Seringkali terapis bertemu dengan Ego Personality yang keras kepala, tidak bersedia bekerjasama, dan ingin mencelakai klien. Bila proses negosiasi atau mediasi berjalan sangat alot dan akhirnya buntu ada kemungkinan terapis akan menggunakan jalan pintas yaitu dengan mengeliminasi / menghancurkan atau membekukan Bagian Diri ini.
Prosedur ini dilakukan dengan harapan Bagian Diri yang bermasalah ini, begitu telah dieleminasi / dihancurkan atau dibekukan, sudah tidak akan lagi bisa mengganggu hidup klien. Benarkah demikian?
Belum tentu cara ini berhasil. Yang boleh dieliminasi hanya Introject atau Alter. Ego State dan Part tidak boleh dihilangkan karena merupakan Bagian Diri yang berasal dari dalam diri klien dan mempunyai tugas yang spesifik untuk hidup klien, misalnya Bagian Diri yang mengurus pembuatan keputusan, menentukan prioritas, berpikir kritis, mengatur kepemimpinan, keuangan, dan yang lainnya. Bila Bagian Diri ini dihilangkan dan fungsi yang biasa dijalankan Bagian Diri ini tidak ada yang mengambil alih maka akibatnya bisa sangat merugikan diri klien.
Eliminasi Bagian Diri perlu dilakukan dengan sangat hati-hati dengan mengajak diskusi dan mendapat persetujuan dari para Bagian Diri lainnya pada level otoritas tertinggi dalam sistem Ego Personality klien.
Penciptaan Bagian Diri Dalam Diri Klien
Hipnoterapis, bila tidak terpaksa sekali, sebaiknya tidak mencipta Ego Personality baru dalam diri klien.Sesulit apapun proses terapi, bila yang digunakan adalah teknik Ego Personality Therapy, terapis perlu semaksimal mungkin menggunakan semua resource yang ada dalam diri klien untuk membantu kesembuhan klien.
Ego Personality baru bisa diciptakan dengan mempertimbangkan banyak faktor. Selain faktor keamanan dan kestabilan bagi keseluruhan sistem Ego Personality, terapis juga harus benar-benar tahu karakter seperti apa yang harus ada pada Ego Personality baru ini yang dapat bermanfaat bagi kehidupan klien.
Umumnya Ego Personality yang diciptakan adalah Introject. Kesalahan yang dilakukan umumnya terapis dalam mencipta Introject adalah terapis hanya memberikan sugesti bahwa mulai sekarang dan seterusnya Introject X aktif di dalam diri klien. Terapis membiarkan pikiran bawah sadar klien, dengan persepsi, pengetahuan, dan pemahamannya yang terbatas mengenai Introject, melekatkan atribut karakter, kecakapan, level energi, dan sebagainya pada Introject baru ini. Seringkali karakter Introject ciptaan terapis ini ternyata berbeda dengan karakter asli yang seharusnya dan yang diharapkan oleh terapis.
Penciptaan Introject ini juga tidak boleh dilakukan untuk tujuan iseng atau main-main. Pernah ada klien yang merasa kesepian karena sering ditinggal suaminya berbisnis ke luar kota minta saya untuk “menghidupkan kembali”, di dalam memorinya, mantan pacarnya saat SMP. Saya tidak tahu entah dari mana klien ini mendapat informasi bahwa secara teknis hipnoterapi kita bisa melakukan hal ini.
Tentu saja permintaan ini saya tolak. Mengapa? Karena akan sangat merugikan kehidupan rumah tangga klien ini. Klien akan melarikan diri dari masalahnya dan masuk ke pikiran bawah sadarnya dan bertemu dengan mantan pacarnya. Semakin sering ia mengunjungi, bertemu, atau berdialog dengan Introject mantan pacarnya maka Introject ini menjadi semakin kuat dan klien akan menjadi semakin bergantung padanya.
Sampai satu titik tertentu Introject ini akan menjadi sangat kuat dan bisa mengambil alih kontrol diri klien. Introject yang tadinya bersifat sebagai objek kini telah menjadi subjek dan mengendalikan diri klien. Ini sangat riskan.
Walaupun klien bersikeras meminta saya melakukan prosedur ini saya tetap menolak. Saya menyarankan agar klien bicara terbuka dengan suaminya. Ini adalah solusi terbaik.
Penanganan Kasus Tidak Tuntas
Yang dimaksud dengan penangan kasus tidak tuntas adalah terapi berlangsung lebih singkat dari yang telah direncanakan. Misalnya terapis menargetkan empat sesi terapi namun baru satu sesi terapi tidak bisa diteruskan, bisa karena klien atau terapis yang memutuskan untuk tidak meneruskan terapi dengan alasan tertentu.
Penanganan kasus tidak tuntas cenderung akan merugikan klien. Klien bisa merasa tidak mendapat manfaat dari sesi terapi yang telah ia jalani dan menyimpulkan bahwa hipnoterapi tidak efektif sehingga ia tidak lagi mau menjalani sesi terapi lanjutan baik dengan terapisnya atau dengan terapis lain. Selain itu, bila ternyata dalam proses terapi telah berhasil terungkap pengalaman traumatik yang selama ini tertekan di bawah sadar dan pengalaman ini sedianya akan diproses di sesi lanjutan, namun klien atau terapis karena sesuatu hal tidak bisa atau tidak bersedia meneruskan terapi, maka kondisi klien bisa menjadi labil dan semakin memburuk.
Ada juga klien yang meminta dilakukan terapi saat terapis berkunjung ke kota tempat klien tinggal. Klien biasanya berpikir, “Ah, kebetulan terapisnya datang maka saya bisa minta diterapi. Daripada saya yang ke kota tempat tinggal terapis, selain jauh biaya perjalanan juga mahal.”
Walaupun kita merasa kasihan atau tergerak untuk menolong sesama namun dalam hal ini sebaiknya jangan melakukan terapi kecuali kita dapat melakukan terapi hingga empat sesi, baik terapi dilakukan di tempat klien atau klien yang datang ke tempat terapis. Jika klien sulit memenuhi syarat ini sebaiknya jangan melakukan terapi karena bisa berakibat penanganan kasus tidak tuntas.
Sebagai hipnoterapis, jika anda membaca judul artikel di atas, apakah yang muncul dalam pikiran anda? Saya yakin anda pasti akan bertanya, “Ah, masa satu simtom bisa muncul dari beberapa ISE. Bukankah yang dipahami selama ini dalam dunia hipnoterapi satu simtom pasti hanya punya satu akar masalah atau ISE?”
Dulu di awal karir saya sebagai hipnoterapis klinis, dengan dasar teori yang saya pelajari dan pahami saat itu, saya juga punya pemahaman bahwa satu simtom muncul bisa akibat dari beberapa SSE (subsequent sensitizing event) namun selalu hanya ada satu ISE (initial sensitizing event).
ISE bisa berupa kejadian yang sepele atau (sangat) traumatik. Dari ISE ini klien biasanya mengalami beberapa kejadian yang mirip dengan dengan kejadian di ISE, dengan muatan emosi yang lebih intens, yang ini kita sebut sebagai SSE, hingga akhirnya muncul ke permukaan dan menjadi simtom. Inilah yang kami sebut dengan efek bola salju atau Snowball Effect.
Hasil diskusi dengan rekan sejawat QHI memvalidasi temuan kami bahwa sebenarnya satu simtom bisa muncul dari beberapa ISE. Dengan kata lain, ada beberapa ISE yang bermuara pada satu simtom. Sama halnya sungai besar yang airnya berasal dari beberapa sumber mata air.
Bagaimana kami akhirnya sampai pada kesimpulan ini?
Ada banyak kasus yang pernah ditangani hipnoterapis QHI yang ternyata simtomnya punya beberapa ISE. Berikut saya cuplik satu kisah yang pernah saya tangani.
Seorang klien, sebut saja Anto, datang ke saya dengan keluhan susah tidur (insomnia). Dari hasil wawancara saya menemukan bahwa Anto sulit tidur karena kecemasan yang tinggi. Namun saya merasa, secara intuitif, bahwa ada masalah lain yang belum Anto sampaikan pada saya. Untuk itu saya akan mencari tahu saat sesi hypnoanalysis.
Setelah melalui serangkaian persiapan pada Anto, saya selanjutnya mulai mencari tahu apa sebenarnya akar masalah Anto. Benar, Anto tidak bisa tidur karena kecemasan yang tinggi. Dengan teknik regresi saya berhasil menemukan lima SSE dan akhirnya sampai ke ISE yang menjadi sumber perasaan cemasnya. Jadi, bila diurut, maka proses terciptanya simtom yang dialami Anto adalah sebagai berikut: ISE, SSE1, SSE2, SSE3, SSE4, SSE5, dan akhirnya menjadi simtom insomnia.
Regresi dari masa sekarang, dengan menggunakan simtom, menuju ke SSE juga merupakan pengalaman menarik. Tidak seperti yang dibayangkan kebanyakan orang, ternyata emosi yang mendasari kejadian di SSE ini berbeda dengan emosi kecemasan yang dialami Anto di masa sekarang, yang membuat ia sulit tidur.
Di SSE5, ini adalah SSE pertama yang ditemukan saat regresi namun adalah SSE kelima bila dihitung dari ISE, ditemukan bahwa emosi yang mendasari kejadian yang dialami Anto ternyata bukan perasaan cemas namun marah. Temuan ini tentunya cukup mengejutkan karena selama ini pemahaman dalam dunia hipnoterapi adalah bahwa affect bridge bekerja dengan menggunakan jembatan emosi, dan ini adalah emosi yang sama yang menjadi jalur untuk mencapai akar masalah.
Selanjutnya di SSE4 emosinya adalah takut, SSE3 emosinya takut, SSE2 perasaan kesepian, SSE1 emosinya benci, dan di ISE, yang terjadi saat Anto berusia empat bulan dalam kandungan, emosinya adalah perasaan ditolak karena ibunya sempat melakukan upaya aborsi namun gagal.
Setelah ISE ditemukan saya melakukan resolusi trauma dan tuntas. Penanganan dan resolusi trauma juga dilakukan pada SSE. Setelah itu barulah dilakukan final check untuk memastikan kecemasan yang menjadi penyebab insomnia telah teratasi dengan tuntas. Hasilnya? Ternyata Anto masih tetap merasa cemas walaupun intensitasnya sudah jauh berkurang.
Hal ini tentunya membuat saya penasaran. Protokol terapi telah dilakukan dengan runtut dan tepat namun mengapa klien masih merasa cemas? Bukankah menurut teori jika ISE sudah dibereskan, apalagi SSE juga ikut diproses, maka seharusnya emosi yang mendasari simtom juga ikut tuntas dan bersih.
Penasaran dengan kondisi ini saya kembali melakukan proses terapi untuk menemukan apa yang sebenarnya terjadi. Saya kembali melakukan regresi. Ada pertimbangan khusus sehingga saya tidak menggunakan Ego Personality Therapy. Affect bridge kali ini membawa saya pada tiga SSE yang berbeda sebelum akhirnya menemukan ISE. Dan yang luar biasa lagi ISEnya berbeda dengan ISE yang saya temukan pertama. Tiga SSE dalam regresi kali ini juga berbeda dengan temuan pada regresi pertama.
Setelah saya proses semuanya saya kembali melakukan checking untuk memastikan perasaan cemas Anto telah hilang. Namun yang terjadi adalah saat saya cek ternyata Anto tetap masih merasakan cemas walaupun intensitasnya sudah sangat berkurang.
Sekali lagi, dengan rasa penasaran yang tinggi saya kembali memproses emosi ini. Kali ini saya menemukan dua SSE sebelum akhirnya menemukan ISE. Dan kejadian yang sama terulang. Rangkaian kejadian pada SSE dan ISE yang saya temukan ternyata berbeda dengan dua proses yang telah saya lakukan sebelumnya.
Setelah semuanya diproses, sesuai dengan protokol terapi, saya kembali memeriksa untuk memastikan perasaan cemas Anto telah bersih. Dan kali ini perasaan cemasnya telah benar-benar hilang.
Pertanyaannya adalah mengapa bisa sampai terjadi satu simtom punya beberapa akar masalah (ISE) yang berbeda?
Untuk memahami kondisi ini kami mengacu pada Teori Tungku Mental yang kami kembangkan di QHI. Teori Tungku Mental mengatakan bahwa pikiran manusia ibarat tungku mental yang terbuat dari tanah liat, berisi air, dan dengan api emosi yang membakar dasar tungku.
Dalam kondisi normal saat air mendidih maka uap air dan tekanan yang dihasilkannya bebas lepas sehingga tidak menimbulkan masalah pada tungku. Dengan kata lain, walaupun kadang mengalami kondisi tertekan, stress, kita dapat melepas tekanan ini dan bisa tetap beroperasi secara normal.
Namun pada individu yang bermasalah yang terjadi adalah tungku mental ditutup rapat sehingga uap air dan tekanan yang dihasilkannya terperangkap di dalam tungku. Lambat laun tekanan dalam tungku semakin tinggi dan suatu saat akan membuat tungku meledak dan hancur.
Untungnya, pada diri manusia, sebelum tungku pikiran ini meledak, pikiran bawah sadar secara otomatis, sesuai dengan fungsinya yaitu melindungi pikiran sadar dan tubuh fisik dari hal-hal yang ia pandang merugikan atau membahayakan, akan melakukan upaya penyelamatan keutuhan tungku.
Caranya adalah pikiran bawah sadar membuat retakan kecil sehingga uap air dan tekanan yang ada dalam tungku dapat keluar. Dengan demikian tungku tidak meledak. Uap air yang keluar dari retakan inilah yang kita namakan simtom, bisa berupa imsomnia, depresi, OCD, halusinasi, dan berbagai simtom lainnya, bahkan bisa berupa penyakit psikosomatis.
Dalam kasus Anton ternyata pikiran bawah sadar “memutuskan” untuk menggunakan hanya satu retakan sebagai outlet (baca: simtom) untuk menyalurkan keluar uap air dan tekanan berlebih dalam sistem psikis Anton. Dari apa yang telah dibahas di atas kita ketahui bahwa ternyata ada beberapa api emosi yang membakar tungku mental.
Empat bulan kemudian Anto kembali menghubungi saya dan mengeluh bahwa ia kembali sulit tidur dan minta waktu untuk terapi lagi. Saya penasaran dengan hal ini dan segera mengatur jadwal terapi lanjutan. Dari pengalaman saya menangani kasus insomnia biasanya kalau sudah beres emosinya maka klien sembuh total.
Dalam proses terapi kali ini Anto juga mengalami perasaan cemas, sama seperti di sesi sebelumnya. Namun ada satu temuan menarik. Yang menjadi sumber masalahnya bukan berasal dari ISE yang tidak berhasil saya temukan atau tidak saya proses tuntas pada sesi terapi sebelumnya. Sumber masalahnya kali ini adalah kejadian yang baru Anto alami dua minggu sebelum ia menghubungi saya yaitu berhubungan dengan urusan pajak. Jadi ini adalah emosi yang sama namun dengan sebab yang berbeda.
Dari teori tungku mental kita tahu bahwa ternyata pikiran bawah sadar Anton menggunakan simtom yang sama sebagai sarana komunikasinya dengan pikiran sadar. Tanpa reedukasi pikiran bawah sadar maka simtom ini akan terus digunakan bila Anton mengalami perasaan cemas berlebih. Dengan teknik tertentu terapis dapat mengarahkan pikiran bawah sadar klien untuk lebih cerdas dalam memilih simtom yang lebih ringan dan konstruktif dan tidak merugikan hidup klien.
Dari pengalaman kejadian ini saya menyimpulkan beberapa hal penting yang sangat perlu diperhatikan saat melakukan terapi:
1. simtom yang dialami klien ternyata bisa berasal dari beberapa ISE.
2. emosi yang mendasari suatu rangkaian kejadian (SSE) ternyata tidak selalu sama atau tidak harus sama namun akhirnya tetap akan mengarah pada ISE.
3. pada simtom dengan multi-ISE, setiap kali satu ISE dan rangkaian SSE-nya berhasil dibereskan maka intensitas emosi yang melekat pada simtom menjadi semakin lemah.
4. melemahnya intensitas emosi pada simtom dengan multi-ISE berbanding lurus dengan jumlah ISE yang berhasil dibereskan.
5. jika masih ada ISE yang belum berhasil ditemukan atau diproses tuntas maka intensitas emosi pada simtom yang tadinya sudah turun dapat naik kembali.
6. klien bisa kambuh bukan karena terapi yang telah dijalani tidak efektif atau gagal namun karena pikiran bawah sadar memutuskan menggunakan simtom yang sama sebagai bentuk komunikasinya dengan pikiran sadar saat seseorang kembali mengalami kondisi tekanan mental tertentu.
7. terapis bisa mengarahkan pikiran bawah sadar untuk memilih simtom lain yang lebih ringan dan konstruktif untuk hidup klien.
8. terapis perlu teliti dan hati-hati dalam menyikapi berbagai fenomena yang dimunculkan pikiran bawah sadar dalam proses terapi.
Saat ini cukup marak pembahasan Ego Personality atau yang sering disebut sebagai Ego State di berbagai milis dan situs. Saya juga sering mendapat email dari pembaca buku, rekan hipnoterapis, praktisi dan pemerhati mind technology yang mengajukan pertanyaan berkenaan dengan artikel saya mengenai Ego State dan Ego Personality yang dimuat di situs QHI: Understanding Ego State, Unity and Multiplicity: Multilevel Consciousness of Self in Hypnosis, dan Padamnya EGO (Personality).
Pertanyaan yang sering diajukan para rekan saya ini antara lain:
1. Apa beda Ego State dan Ego Personality?
2. Mana yang lebih efektif, Ego State Therapy atau Ego Personality Therapy?
3. Apakah kita bisa mengakses Ego State / Ego Personality tanpa kondisi hipnosis? Kalau bisa bagaimana caranya? Kalau tidak bisa, mengapa?
4. Mana yang lebih efektif, terapi Ego State / Ego Personality yang dilakukan dengan kondisi hipnosis yang dalam atau dalam kondisi sadar normal?
5. Mengapa dalam berbagai artikel saya sangat menekankan pentingnya kondisi hipnosis untuk mengakses Ego State / Ego Personality?
Sebenarnya masih banyak lagi pertanyaan yang juga sangat menarik. Dalam artikel ini saya sengaja tidak membahasnya karena terlalu teknis, misalnya, “Bagaimana cara melakukan manipulasi cathexis pada Ego Personality untuk penanganan kasus PTSD atau Schizophrenia?”
Sekarang mari kita bahas pertanyaan di atas. Semoga uraian berikut dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap dan membantu meningkatkan pemahaman pembaca mengenai Ego State dan Ego Personality.
Apa beda Ego State dan Ego Personality?
Ego State adalah istilah yang merujuk pada Bagian Diri. Terapi Ego State berangkat dari satu premis bahwa kepribadian manusia terdiri dari banyak Bagian Diri yang terpisah, bukan hanya satu dan bersifat homogen. Melalui proses pembentukkannya kita mengenal ada Bagian Diri yang disebut dengan Ego State, Part, Introject dan Alter. Untuk akurasi terminologi maka kami, QHI, menggunakan istilah Ego Personality sebagai payung besar yang meliputi semua Bagian Diri. Dengan demikian bila kami menggunakan istilah Ego Personality berarti sudah meliputi Ego State, Part, Introject dan Alter.
Mana yang lebih efektif, Ego State Therapy atau Ego Personality Therapy?
Mengacu pada penjelasan di atas maka Ego State Therapy adalah bagian dari Ego Personality Therapy. Dalam melakukan Ego Personality Therapy secara otomatis kita melakuan terapi, sesuai kondisi dan kebutuhan, pada Ego State, Part, Introject, dan atau Alter.
Hasil dan daya guna Ego Personality Therapy, sama dengan jenis terapi lainnya, ditentukan oleh dua faktor utama yaitu faktor klien dan faktor terapis. Klien dan terapis bekerjasama sebagai tim yang solid, saling percaya, menghargai, dan mendukung untuk mengatasi masalah.
Pada sisi klien, agar terapi bisa berjalan baik, syarat mutlak yang harus dipenuhi yaitu klien bersedia diterapi atas kesadarannya sendiri, bukan karena paksaan, rayuan, bujukan, atau ancaman. Selain itu klien pasrah, ikhlas, merasa nyaman, dan percaya sepenuhnya pada terapis.
Sedangkan di sisi terapis selain harus benar-benar menguasai dasar teori Ego Personality dan teknik intervensi klinis yang dikembangkan berdasar teori ini, dan telah terbukti secara klinis dan empiris efektif, terapis harus mempunyai rasa welas asih yang besar dan ketulusan dalam membantu sesama (klien) mengatasi masalah mereka untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik.
Apakah kita bisa mengakses Ego State / Ego Personality tanpa kondisi hipnosis? Kalau bisa bagaimana caranya? Kalau tidak bisa, mengapa?
Untuk menjawab pertanyaan di atas kita perlu tahu bahwa ditinjau dari frekuensi muncul atau aktifnya suatu Bagian Diri kita mengenal Ego Personality yang berada di permukaan (surface) dan yang berada di dalam (underlying), yang aktif namun jarang muncul. Jumlah Ego Personality yang biasanya aktif dan berada di permukaan berkisar antara lima hingga lima belas bergantung situasi, kondisi, dan kebutuhan individu.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sebenarnya tanpa kondisi hipnosis atau dalam kesadaran normal kita dapat dengan mudah mengakses Ego Personality yang berada di permukaan.
Mengakses Ego Personality tanpa kondisi hipnosis dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain Empty Chair Technique dan Conversational Technique.
Empty Chair Technique dilakukan dengan menggunakan minimal dua atau lebih kursi kosong. Setiap kursi mewakili satu Ego Personality. Jadi, saat klien duduk di kursi tertentu maka Ego Personality yang diijinkan untuk aktif adalah yang sesuai dengan perjanjian di awal. Misalnya kursi pertama adalah untuk peran anak yang kecewa (Ego State/Part), kursi kedua untuk peran ibu (Introject), kursi ketiga untuk peran ayah (Introject).
Hal yang sama terjadi dengan teknik Six Thinking Hat atau Enam Topi Berpikir ciptaan Edward de Bono. Setiap topi sebenarnya mewakili satu Ego Personality. Bergantung pada topi apa yang "dipakai" pada suatu saat maka yang aktif adalah Ego Personality yang sesuai dengan karakter topi.
Dalam melakukan Conversational Technique terapis perlu mengenal Ego Personality yang ingin diakses. Setelah itu langsung mengajak bicara Bagian Diri ini. Biasanya terapis akan mengenali minimal ada dua Bagian Diri klien yang bisa diajak bicara.
Saya pernah menggunakan teknik ini untuk membantu peserta pelatihan QLT yang takut berada di kamar sendirian. Terapi saya lakukan dengan santai sambil makan siang. Tanpa ia sadari, sambil ngobrol, saya melakukan terapi pada Bagian Diri yang takut. "Obrolan" santai ini berlangsung sekitar 10 menit dan ia sembuh saat itu juga. Hal ini terbukti saat malam hari, saat masuk ke dalam kamar seorang diri, ia sama sekali tidak merasa takut.
Mana yang lebih efektif, terapi Ego State / Ego Personality yang dilakukan dengan kondisi hipnosis yang dalam atau dalam kondisi sadar normal?
Jawaban untuk pertanyaan ini adalah, “Bergantung kasusnya.” Untuk kasus-kasus ringan, misalnya keraguan untuk mengambil keputusan (yang tidak terlalu penting), perasaan kesepian, fobia ringan, atau kasus-kasus lain dengan muatan intensitas emosi yang ringan, maka terapi Ego Personality yang dilakukan dengan kondisi sadar normal atau light trance tentu akan sangat efektif.
Ego Personality Therapy yang dilakukan dalam kondisi sadar normal atau light trance menjadi tidak efektif bila ternyata yang menjadi sumber masalah klien adalah Bagian Diri yang bersifat underlying atau bersembunyi di kedalaman dan memegang emosi negatif yang intens dengan level cathexis yang tinggi.
Mengapa dalam berbagai artikel saya sangat menekankan pentingnya kondisi hipnosis untuk mengakses Ego State / Ego Personality?
Ini semua berdasar pengalaman praktik, hasil riset, dan temuan kami. Di awal perjalanan QHI kami memang melakukan Ego State Therapy (saat itu kami masih menggunakan istilah Ego State) baik dalam kondisi light hypnosis maupun deep hypnosis dengan tingkat keberhasilan yang tinggi. Kami mulai mengalami kesulitan saat menangani kasus-kasus yang tergolong berat seperti PTSD, halusinasi, obsesive-compulsive yang sangat parah, depresi, klien dengan kecenderungan split personality, dan kasus psikosomatis yang berat.
Setelah melalui analisis mendalam akhirnya kami menemukan sumber masalah utama yaitu klien, saat dalam kondisi medium trance, ada kecenderungan untuk naik ke level light trance. Saat di kondisi light trance yang dapat kami akses hanyalah surface Ego Personality. Kami kesulitan untuk mengakses underlying Ego State. Proses terapi menjadi semakin sulit bila Ego Personality yang menjadi sumber masalah, yang menjadi aktor dan provokator, bersifat malevolent, dan tidak mau tampil untuk berhadapan langsung dengan terapis, dan hanya menggunakan Ego Personality lain untuk sebagai pelaksana perilaku tertentu.
Belum lagi kalau klien ternyata tipe (sangat) analitikal sehingga terapis sulit mengakses underlying Ego Personality karena diganggu oleh surface Ego Personality. Bisa juga terjadi ada Ego Personality lain yang memblock proses terapi atau menghambat akses ke Ego Personality yang menjadi sumber masalah.
Akhirnya kami memutuskan untuk selalu membawa klien masuk ke kondisi deep trance atau profound somnambulism untuk melakukan Ego Personality Therapy. Keuntungan kondisi deep trance adalah kita dapat mengakses dengan mudah, baik surface maupun underlying Ego Personality. Dengan demikian proses terapi bisa berjalan lebih lancar dan mudah.
Pertimbangan lain yaitu dalam kondisi tertentu kita perlu menghipnosis hanya satu Ego Personality (bisa Ego State, Part, Introject, atau Alter) dan bukan menghipnosis Ego Personality secara keseluruhan, sebagai suatu sistem. Untuk dapat melakukan hal ini dengan mudah syaratnya adalah keterampilan manipulasi cathexis dan ini membutuhkan kondisi deep trance, tidak bisa hanya sekedar light trance. Hipnosis pada hanya satu Ego Personality, biasanya Introject atau Alter, biasanya dilakukan untuk “menjinakkan” Bagian Diri yang bersifat keras dan mengganggu proses terapi.
Alasan lain kami selalu membawa klien masuk ke kondisi deep trance adalah untuk kemudahan akses berbagai lapisan kesadaran. Ada Ego Personality yang “tinggal” di kedalaman tertentu dan baru bisa diakses atau menjadi executive saat kedalamannya tercapai. Dengan membawa klien sangat dalam, misalnya ke level 27, maka Ego Personality pada level di atasnya dapat dengan mudah kita akses. Kondisinya akan menjadi berbeda saat klien misalnya berada di level kedalaman 12 dan kita ingin mengakses Ego Personality yang berada di kedalaman 25.
Kesimpulannya, kebutuhan kedalaman hipnosis bergantung pada kasus yang ditangani. Ego Personality Therapy dapat dilakukan baik pada kondisi sadar normal, light trance, dan deep trance. Masing-masing level kedalaman mempunyai kelebihan dan keterbatasan.
Terapi yang dilakukan di level light trance sangat mudah dilakukan karena terapis tidak perlu susah-susah membawa klien masuk ke kondisi yang dalam. Keterbatasannya adalah dalam kondisi ini yang bisa diakses hanya surface Ego Personality.
Sedangkan terapi yang dilakukan pada kondisi deep trance lebih sulit dilakukan karena dibutuhkan teknik induksi dan keterampilan yang tinggi untuk bisa membawa klien masuk ke kondisi hipnosis yang dalam. Keunggulannya adalah terapis dapat mengakses baik surface maupun underlying Ego Personality dan dengan mudah dapat melakukan manipulasi cathexis untuk mencapai hasil terapi yang maksimal.